Budaya, Aksara
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Dalam peringatan Bulan Bahasa dan Sastra pada Oktober depan, ada nilai yang bisa dipelajari dari naskah kuno Serat Wulangreh Pupuh Pangkur dari Bait 1-17. Serat Wulangreh pupuh Pangkur ini karya Sri Susuhunan Pakubuwana IV dari tahun 1788 M.

Setiap baitnya memiliki guru gatra 7 baris. Isi utamanya membahas tentang tata krama, budi pekerti, kewaspadaan diri, serta cara menjalani kehidupan bermasyarakat.
Diantara 17 bait ini terdapat bait yang mengajarkan nasihat tentang pentingnya selalu waspada, berfikir sebelum bertindak (berucap maupun bertingkah laku), bertutur kata yang baik dengan menggunakan pertimbangan nalar, dan mawas diri dalam setiap keadaan.
Berikut nilai nilai dari semua bait (1-17) tersebut:
1. Nasihat tentang pentingnya memahami perbuatan baik dan buruk, menjaga adat istiadat, serta mengamalkan tata krama dalam kehidupan sehari-hari
2. Nasihat agar manusia selalu menggunakan nalar, pertimbangan, dan kewaspadaan dalam setiap keadaan.
3. Nasehat pentingnya mengingat dan menerapkan “empat perkara” dalam segala tindakan, baik urusan besar maupun kecil.
4. Nasehat tentang sifat orang bodoh yang suka membual dan tidak mau mengerti, serta sikap orang bijak yang suka mengalah.
5. Nasehat tentang kepribadian dan perilaku seseorang dapat dilihat dari cara berjalan, duduk, gerak-gerik, serta cara bicaranya, baik bagi orang pandai, bodoh, berderajat tinggi, hina, kaya, maupun miskin.
6. Ajaran tentang bagaimana mengenali watak dan perilaku manusia melalui ciri-ciri serta gerak-gerik kehidupannya tanpa memandang status sosial
7. Ajaran tentang cara mengenali karakter seseorang melalui perilaku, gerak-gerik, dan sopan santun sehari-hari
8. Ajaran untuk senantiasa membiasakan diri bertutur kata baik, bersikap terpuji, dan hanya pasrah kepada Tuhan Yang Maha Esa.
9. Ajaran mengenai sulitnya mencari orang berakhlak baik pada zaman sekarang.
10. Tentang celaan terhadap orang yang suka menyebar keburukan orang lain, menyembunyikan kebaikan orang lain, namun suka menyombongkan diri sendiri.
11. Ajaran tentang sifat orang serakah yang tidak pernah puas dan selalu menuruti hawa nafsu buruk.
12. Nasihat tentang watak sombong dan tidak mau kalah dalam berperilaku maupun berbicara.
13. Nasihat agar manusia tidak meniru tabiat buruk atau jahat yang tidak pantas, melainkan harus berbuat kebajikan agar menjadi teladan.
14. Nasihat agar manusia menghindari sifat-sifat buruk seperti munafik, tidak punya pendirian, suka membicarakan orang lain di belakang, dan tidak bisa dipercaya.
15. Nasihat tentang watak buruk manusia yang mudah tergiur oleh keinginan tidak baik, gampang tergoda oleh milik orang lain, serta menyukai perbuatan tercela.
16. Lanjutan nasihat tentang sifat tercela manusia yang tidak bisa menjaga rahasia dan bermuka dua.
17. Nasehat agar manusia tidak meniru enam perangai buruk yang hanya mementingkan diri sendiri dan senantiasa berlaku bijak.
Bait 8
Serat Wulangreh Pupuh Pangkur Bait 8 berisi tentang ajaran untuk senantiasa membiasakan diri bertutur kata baik, bersikap terpuji, dan hanya pasrah kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Bait ini berbunyi:
“Ginulang sadina-dina,
wewekane ing basa lan basuki,
ing jubriya-kibiripun,
sumungah lan sesongaran,
mung sumendhe sakarsanira Hyang Agung,
ujar sirik kang rineksa,
kautaman ulah wadi”.
Arti dan Makna (Piwulang)
Ginulang sadina-dina: Dibiasakan atau dilatih setiap hari.
Wewekane ing basa lan basuki: Menjaga tutur kata agar selalu baik dan mendatangkan keselamatan.
Ing jubriya-kibiripun, sumungah lan sesongaran: Menghindari sifat sombong, angkuh, membanggakan diri, dan suka memamerkan kemampuan.
Mung sumendhe sakarsanira Hyang Agung: Menyerahkan diri dan pasrah sepenuhnya kepada kehendak Tuhan Yang Maha Esa.
Ujar sirik kang rineksa, ⁹ Menjaga perkataan yang tidak berkenan (iri/dengki) dan mengutamakan perbuatan luhur yang tulus.
Itulah ajaran. (Piwulang) yang telah ditulis dalam Serat Wulangreh Pupuh Pangkur oleh Pakubuwono IV tahun 1788 M. (PAR/nng)
