Budaya, Aksara
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – UNESCO pada hari ini menyerukan pentingnya peringatan Hari Aksara (Literasi) Internasional. Apapun pengetahuan, terlebih berdasarkan buku, pondasinya adalah aksara. Jangan merasa sudah bisa membaca dan menulis, lantas mengabaikan pokok dasar literasi yang berupa Aksara sebagai unit terkecilnya.
Aksara memang bukan sekadar simbol visual, melainkan fondasi paling dasar dari seluruh peradaban literasi dan cara manusia merajut pemikiran.

Ketika seseorang merasa sudah mahir membaca dan menulis, mereka seringkali terjebak dalam mekanisasi kata, membaca tanpa meresapi dan menulis tanpa berkontemplasi. Mengabaikan esensi aksara sebagai unit terkecil berarti kehilangan kepekaan terhadap struktur, estetika, dan sejarah bagaimana sebuah makna dibentuk, baik melalui lisan maupun tulis.
Pimpinan kota, baik Walikota maupun ketua DPRD Kota Surabaya, tidak akan bisa bicara dan membuat instruksi kebijakan, tanpa huruf atau Aksara.
Aksara atau huruf adalah fondasi utama dari seluruh sistem birokrasi, hukum, dan komunikasi kebijakan di Pemerintah Kota maupun DPRD Kota Surabaya.
Coba lihat nama kantor pemerintah Kota Surabaya yang tertulis “Pemerintah Kota Surabaya”, tanpa ada aksara atau huruf akan berbunyi apa?
Melalui peringatan Hari Aksara Internasional inilah kita semua harus sadar dan ingat pentingnya nilai aksara. Mengapa pula PBB melalui UNESCO memperingati Hari Aksara atau Huruf? (PAR/nng)
