Hari Aksara Internasional: Puri Aksara Rajapatni Dan Musee ID Terbitkan Buku Serial Aksara dalam bentuk Digital Untuk  Jangkau Lintas Negara

Budaya, Aksara

Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Aksara (Huruf) menuntun kata, kalimat baik tulis maupun lisan.Aksara adalah pondasi utama dalam berkomunikasi, bertindak sebagai jembatan visual, yang mengubah gagasan abstrak menjadi bahasa nyata, baik dalam bentuk tulisan maupun lisan. Tanpa keberadaan huruf, pengetahuan, sejarah, dan budaya manusia tidak akan dapat didokumentasikan atau diwariskan dengan akurat dari generasi ke generasi.

Kita bisa tau tentang sejarah Kota Raja Majapahit karena struktur huruf yang membentuk kata dan kalimat hingga alenia sebagaimana tertulis pada Kitab Negarakertagama (1365 M) yang bercerita tentang masa kejayaan Kerajaan Majapahit di bawah pimpinan Raja Hayam Wuruk.

Kitab ini memberi gambaran tata kota, istana, dan bangunan suci atau candi di Majapahit. Juga mengenai kisah perjalanan Hayam Wuruk saat berkeliling mengunjungi daerah-daerah kekuasaannya, termasuk singgah di Śūrabhaya. Kitab ini ditulis menggunakan aksara Bali di atas media daun lontar dengan bahasa Jawa Kuno.

Melalui dokumen itu, Negarakertagama, maka generasi sekarang masih bisa mengenali bagaimana situasi tata kota Majapahit yang sekarang sudah tinggal serpihan serpihan bangunan. Itulah manfaat aksara yang tersusun menjadi kata, kalimat, alinea hingga kitab.

Dalam memperingati Hari Aksara Internasional, sesungguhnya ada pesan dari UNESCO agar manusia tidak tercabut dari akar sejarahnya dan bahkan masih bisa memberlanjutkan ke masa depan melalui pewarisan .

Hari Aksara Internasional (atau Hari Literasi Internasional) yang diperingati setiap tanggal 8 September memang membawa esensi mendalam yang melampaui sekadar kemampuan membaca dan menulis. Pesan utama UNESCO melalui peringatan ini adalah menjadikan literasi sebagai jembatan yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan suatu peradaban.

Karenanya Komunitas aksara Jawa Puri Aksara Rajapatni Surabaya bersama Konsultan Museum Musee ID, yang berkantor di Jakarta, menerbitkan dua jilid buku tentang Aksara sebagai upaya membedah aksara sebagai entitas budaya, yang jauh sebelumnya pernah dikatakan oleh ahli linguistik modern Ferdinand de Saussure (1857–1913) yang telah tertuang dalam bukunya yang sangat monumental, yaitu “Cours de linguistique générale”.

Buku Jilid I “Aksara BUKAN Bahasa” Foto: / desain: par

Dari dan dalam pengamatan Puri Aksara Rajapatni di Surabaya, masih ada pihak pihak yang menganggap Aksara adalah bagian dari bahasa sehingga berdampak pada aturan aturan dalam menjaga, melestarikan dan bahkan memajukan Aksara.

Terlebih adalah Aksara Nusantara, khususnya Aksara Jawa, yang menjadi pondasi fonetik dan Linguistik dalam berbahasa.

Kiranya melalui peringatan Hari Aksara Internasional dengan penerbitan buku dua jilid tentang Aksara: “Jilid I: Aksara BUKAN Bahasa” dan “Jilid II: Paham Aksara, Bijak Berbahasa”, masih berbentuk digital dengan tujuan penyebaran bisa menjangkau lintas negara, akan didapat pemahaman yang lebih baik tentang Aksara.

Terbitan Bersama Puri Aksara Rajapatni dan Musee ID. Foto: par

Pemahaman akan Aksara ini relevan dengan adanya peringatan khusus Hari Aksara Internasional oleh UNESCO. Hari Aksara Internasional diproklamasikan oleh UNESCO pada tahun 1966 dan pertama kali diperingati secara resmi pada 8 September 1967. Selamat Hari Aksara Internasional 2026. (PAR/nng)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *