Manuskrip Jawa Hasil Jarahan John Crawfurd di the British Library, London.

Budaya Harta

Rajapatn.com: ŚŪRABHAYA – Seberapa banyak harta karun keraton Yogyakarta, yang dijarah Inggris pada saat peristiwa Geger Sepehi pada 1812. Pada peristiwa itu ada nama nama pejabat penting terkait diantaranya Thomas Stamford Raffles (selaku Letnan Gubernur Jenderal Inggris di Jawa) John Crawfurd (Residen Inggris di Yogyakarta), dan Kolonel Robert Rollo Gillespie (selaku komandan militer).

Dari tangan Crawfurd saja banyak harta yang dipilih dan dipilah pilah yang kemudian dibawa ke Benteng Vredeburg dan kediamannya ‘Rustenburg’ di depan benteng.

Data ini sebagaimana ditulis Peter Carey dalam catatan yang bernama “The John Crawfurd Collection of Javanese Manuscripts in the British Library: An Overview”. Catatan itu membeber kekayaan Keraton yang dijarah dan dibawa ke Inggris yang selanjutnya menjadi koleksi The British Library, the British Museum dan kolektor lainnya.

 

Berikut catatan Peter Carey yang diberi judul ‘Asal-usul Koleksi Crawfurd”.

Selama empat hari setelah jatuhnya keraton Yogyakarta ke tangan pasukan Inggris-India pada dini hari tanggal 20 Juni 1812, menurut sebuah kronik Jawa dari masa itu, anggota resimen pengawal Sultan yang telah kalah serta para pejabat senior keraton sibuk mengangkut peti-peti kayu jati berukuran besar dari keraton menuju Benteng Vredeburg dan Rumah Residen yang terletak tepat di seberangnya, yang oleh Belanda dinamai ‘Rustenburg’ (tempat peristirahatan).

Peti-peti tersebut berisi berbagai pusaka penting dan benda berharga, seperti perangkat lengkap wayang kerajaan, serta seluruh dokumen dan naskah yang selamat dari kehancuran keraton; namun, perangkat gamelan keraton yang sakral, yakni Kanjeng Kiai Guntur Laut (Kiai Monggang) dan Kanjeng Kiai Guntur Madu (Kiai Sekatèn)—tidak turut diangkut.

Dokumen dan naskah-naskah tersebut dibawa ke kantor sekretariat di kediaman Residen; di sana, benda-benda itu dikeluarkan dari kemasannya dan dipilah oleh Crawfurd serta Christoffel Frederik Krijgsman (1774–1823), juru bahasa resmi untuk bahasa Jawa (*Gezworen Translateur voor het Javaansch*), yang diboyong Raffles dari Semarang.

Jumlah naskah dan dokumen tersebut sangat banyak; kendati dalam euforia kemenangan seluruh harta benda di keraton telah jatuh menjadi jarahan perang bagi pasukan, para petugas pembagi jarahan (*Prize Agents*) terlalu sibuk membagikan uang serta barang berharga dari keraton kepada pasukan yang menang sehingga tidak terlalu memedulikan tumpukan naskah dan dokumen lain yang berada di kediaman Residen.

Banyak di antara kronik keraton tersebut memiliki nilai yang sangat tinggi, dengan jilid yang dibuat secara artistik menggunakan kulit kambing berkualitas halus.

 

Raffles Miliki Jarahan Paling Indah

Menurut tradisi lisan, Raffles menyimpan sendiri banyak jilid naskah yang paling indah dan bernilai tinggi, sementara sisanya dibagikan kepada Crawfurd dan Kolonel Colin Mackenzie (sekitar 1754–1821), perwira zeni kepala pasukan Inggris di Jawa yang memiliki minat besar terhadap segala aspek budaya Jawa.

Namun, tradisi lisan ini tidak didukung oleh bukti dari koleksi naskah Jawa milik Raffles, yang kini tersimpan di Royal Asiatic Society, London, yang dihibahkan kepada RAS oleh janda Raffles, Lady Sophia (1786-1858), pada tahun 1830, di mana hanya dua naskah yang dapat dipastikan berasal dari keraton Yogyakarta, yaitu Raffles Java 4 (Rama Kawi) dan Raffles Java 7 (Babad). Pangéran Notokusumo (Paku Alam I; 1764-1829; bertakhta (1812-1829) juga hadir di kantor Residen untuk memberikan nasihat kepada Raffles mengenai berbagai naskah tersebut; ia berhasil mendapatkan kembali sebuah silsilah penguasa Jawa yang dihias indah dengan lapisan emas dan bertatahkan permata, yang disusun (*yasa*) oleh dirinya sendiri dan sebelumnya telah diambil dari perpustakaan pribadinya oleh Sultan Kedua selama masa pengasingan sang Sultan dari Yogyakarta yang berlangsung selama satu tahun (17 Desember 1810–16 Desember 1811).

Dokumen tersebut dikembalikan secara langsung kepadanya oleh Raffles, sementara naskah lain, sebuah salinan *Serat Ambiya* yang mengisahkan riwayat para nabi dan ditulis dalam aksara *pégon* (bahasa Jawa yang ditulis dengan huruf Arab), diserahkan oleh Crawfurd kepada Pangéran Mangkudiningrat (sekitar 1778-1824), salah seorang putra Sultan Kedua yang turut mendampingi ayahnya dalam pengasingan pertama di Pulau Pinang (1812-1815) dan kemudian di Ambon (1817-1824), tempat Mangkudiningrat akhirnya wafat (13 Maret 1824).

 

Sitaan Dari Perpustakaan Keraton

Jumlah keseluruhan naskah, yang diambil dari keraton pada masa itu tidak diketahui secara pasti. Namun, terdapat rujukan dalam sebuah surat dari Crawfurd kepada Pemerintah Inggris pada tahun 1814 yang menyatakan bahwa sekitar 57 naskah, yang disita dari perpustakaan keraton pada tahun 1812, telah diserahkan kepada penggantinya, Kapten Robert Clement Garnham (menjabat tahun 1814–1815). Naskah-naskah tersebut kemudian dikirim oleh Garnham ke Sekretariat Pemerintah (yang setelah tahun 1816 dikenal sebagai *Algemeen Secretarie*) di Bogor.

Garnham sendiri mencatat bahwa naskah-naskah itu mencakup “keseluruhan koleksi naskah yang diambil dari keraton”, namun kemungkinan besar masih banyak lagi naskah yang sebelumnya telah diambil oleh Raffles, Crawfurd, dan Mackenzie, sementara sebagian lainnya mungkin musnah saat penjarahan keraton terjadi.

 

Koleksi Crawfurd

Katalog koleksi manuskrip asal Indonesia di London. Foto: ist

Di antara koleksi pribadi Crawfurd, terdapat sebuah daftar (BL Add. MS. 12313 f. Ir) yang memuat 45 naskah Jawa; beberapa di antaranya sudah pasti berasal dari perpustakaan keraton Yogyakarta. Sisanya mungkin merupakan salinan yang dibuat oleh Crawfurd dari karya-karya yang dipinjamkan kepadanya oleh berbagai tokoh Yogyakarta selama empat masa jabatannya sebagai Residen, terutama oleh Paku Alam I, yang memiliki hubungan sangat erat dengannya.

Hal yang pasti adalah bahwa perpustakaan keraton Yogyakarta serta arsip kesekretariatan (*Gedhong Pecarikan*) telah dikuras habis isinya. Selain sebuah Al-Qur’an yang dihias dan ditulis dengan kaligrafi indah, hanya tersisa tiga naskah di keraton Yogyakarta setelah tahun 1812 dari koleksi awal yang dibangun pada masa pemerintahan Sultan pertama (1749–1792), dan butuh waktu bertahun-tahun sebelum arsip kesekretariatan tersebut ditata kembali.

Dokumen-dokumen yang menyusun keempat jilid dalam koleksi Crawfurd, yang disunting dengan judul *The Archive of Yogyakarta* dan diterbitkan oleh British Academy pada tahun 1980 serta 2000 (lihat catatan kaki 4)—berasal dari berbagai sumber. Sebagian besar dokumen tersebut jelas berasal dari arsip kesekretariatan Yogyakarta; terdapat pula catatan dari Residen Inggris di Yogyakarta, Kapten Robert Clement Garnham (menjabat tahun 1814–1815), tertanggal 20 September 1814, yang menyatakan bahwa 29 *piagem* (surat keputusan pemberian tanah) asli, yang diberikan oleh Sultan Hamengku Buwono II kepada para pejabat Yogyakarta, termasuk dalam dokumen-dokumen yang dititipkan oleh Crawfurd kepadanya.

Dokumen-dokumen lain diserahkan kepada Crawfurd oleh Paku Alam I; dokumen-dokumen ini kemungkinan mencakup koleksi yang terdiri dari hampir 100 folio berbahan *dluwang* (kertas kulit kayu khas Jawa, lihat keterangan di bawah) dalam naskah BL Add. MS. 12341 (f. 212r–297v) yang memuat informasi mengenai kepemilikan tanah *apanage* di Yogyakarta serta berbagai hal lainnya.

 

Surat Tanah Apange (apanase/tanah lungguh)

Sementara itu, satu jilid lainnya (BL Add. MS. 12303), yang berisi salinan naskah hukum, surat keputusan pemberian tanah *apanage*, perintah kerajaan, serta perjanjian antara Yogyakarta, Surakarta, dan Perusahaan Hindia Timur Belanda (VOC), ditemukan di antara barang-barang pribadi Sultan kedua dan tampaknya digunakan oleh beliau sebagai buku acuan dalam pengambilan keputusan politik maupun hukum.

Jilid ini merupakan satu-satunya dari keempat jilid tersebut yang seluruhnya ditulis di atas kertas Jawa dan memiliki sampul kulit khas Jawa yang terbuat dari kulit kambing dengan hiasan ukiran timbul (*tooled goatskin*).

Tiga jilid lainnya dijilid oleh Crawfurd sendiri, yang tidak berupaya menyusun surat-surat tersebut menurut urutan kronologis maupun topik tertentu.

Dokumen-dokumen lain dalam koleksi ini kemungkinan besar berasal dari arsip Keresidenan Yogyakarta. Dokumen-dokumen tersebut mencakup semua surat yang ditulis oleh Sultan kedua dan sosok yang saat itu menjabat sebagai Putra Mahkota Yogyakarta (yang setelah tanggal 21 Juni 1812 bergelar Sultan Hamengku Buwono III, memerintah 1812–1814) kepada Crawfurd (Carey, *Archive*, I, hlm. 71–79), serta berbagai catatan dari Kapitan Cina Yogyakarta, Tan Jin Sing (menjabat 1803–1813), dan para negosiator perjanjian keraton pada bulan Juli 1812 (Carey, *Archive*, I, hlm. 29–30 dan 97–99).

Kebiasaan menyimpan dokumen resmi dan semi-resmi merupakan hal yang lazim di kalangan pejabat senior Eropa di Jawa pada masa itu, dan beberapa Residen Belanda di Yogyakarta kemudian mengumpulkan koleksi pribadi yang cukup besar selama masa jabatan mereka.

 

Penjualan Hasil Jarahan

Koleksi naskah Jawa milik Crawfurd sendiri dibawa kembali bersamanya ke Inggris pada bulan Oktober 1816, saat ia meninggalkan Jawa untuk terakhir kalinya; pada tahun 1840, koleksi tersebut, bersama dengan naskah-naskah Indonesia dan Melayu lainnya miliknya, ditawarkan untuk dijual kepada British Museum (yang setelah tahun 1973 menjadi British Library) seharga £526 (setara dengan £46.650 dalam nilai mata uang saat ini [tahun 2020]).

Tampaknya Crawfurd tidak berhasil mendapatkan harga yang sesuai, Kepala Departemen Naskah Museum menganggap harga yang diminta Crawfurd terlalu tinggi untuk kategori “sastra Timur kelas terendah” ini, meskipun koleksi tersebut merupakan “koleksi terlengkap dari jenisnya di Eropa”, sehingga ia sempat mencoba melelang koleksi itu di Paris namun gagal.

Kemudian pada bulan Februari 1842, ia kembali mengajukan penawaran kepada pihak Museum dan akhirnya menerima pembayaran sebesar £250 (setara dengan £23.120 dalam nilai mata uang saat ini [tahun 2020]).

Pada tanggal 19 Februari, koleksi tersebut, yang menurut Crawfurd mencakup total 81 naskah Jawa, 31 naskah Bugis, dan 23 naskah Melayu, diserahkan kepada Kepala Departemen Naskah Museum, Sir Frederic Madden (1801–1873; menjabat 1837–1866), seorang ahli paleografi terkemuka.

Berselang lebih dari setahun kemudian (Agustus 1843), Crawfurd menambahkan satu jilid lagi yang berisi surat-surat asli, piagam, dan puisi Jawa (BL Add. MS. 14397); keseluruhan koleksi ini rampung pada bulan Maret 1851, saat ia menyerahkan salinan naskah catatannya mengenai tata bahasa dan sastra Jawa (BL Add. MS. 18577) serta kamus Jawa-Inggris yang memuat 15.000 kata (BL Add. MS. 18578).

Sejak saat itu, koleksi tersebut dapat diakses oleh publik, dan upaya pertama untuk mendata naskah-naskah tersebut secara akurat dilakukan oleh seorang sarjana Belanda, Dr. Salomo Keyzer (1823–1868), pada tahun 1853.

Namun, inventaris deskriptif yang lengkap baru muncul pada tahun 1969; inventaris ini kemudian diperluas secara signifikan melalui katalog yang pertama kali diterbitkan oleh Ricklefs dan Voorhoeve pada tahun 1977, serta direvisi dengan tambahan masukan dari Annabel Gallop pada tahun 2014. Jilid suntingan penulis saat ini, *The Archive of Yogyakarta; Volume I: Documents relating to Political and Internal Court Affairs* (1980), yang diterbitkan sebagai bagian dari seri *Oriental Documents* milik British Academy, merupakan publikasi teks pertama yang memuat materi non-sastra dari koleksi Crawfurd; dua puluh tahun kemudian, jilid kedua diterbitkan dengan bantuan Mason C. Hoadley, yakni *The Archive of Yogyakarta*.(PAR)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *