Ini Lho Ada Manuskrip Tentang Surabaya

Budaya, sejarah

Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Terkadang, bila kurang mendalami kota Surabaya, banyak orang bilang bahwa Surabaya tidak banyak dicatat pada masa lalu (klasik). Alias tidak pernah tertulis dalam catatan kuno atau manuskrip.

Setelah terwadahi dalam group WA trah Hamengkubuwono II, data Kuna Surabaya mengalir karena ada jalur sharing dan komunikasi untuk mau saling belajar: memberi dan menerima.

Data Kuna dalam bentuk manuskrip ini adalah data tentang komplek pemakaman Sunan Ampel Surabaya. Judul manuskripnya adalah “KUBURAN NGAMPEL SURAPRINGGA”.

Tertulis Ngampel Śūrapringga. Foto: aryobayat

Bila merujuk pada buku yang pernah ditulis oleh almarhum Khotib Ismail bahwa kawasan Ampel Denta dulunya adalah kawasan permukiman kuno, yang pernah dipimpin oleh seorang pimpinan (bupati), menurutnya sebagaimana ditulis dalam buku “Bangsawan Jawa, sebuah Ras Bupati” karya Khatib Ismail.

Buku Bangsawan Jawa sebuah raa Bupati karya Khatib Ismail. Foto: google

Sunan Ampel sendiri di kawasan itu (Ampel Denta) meninggalkan jejak, yang menggambarkan sosok tiga pemimpin: Ulama (pemimpin agama), Umara (pemimpin masyarakat/bupati) dan saudagar.

Jejak sosok pemimpin itu adalah Masjid Ampel (ulama), inskripsi di Gapura Ampel beraksara Jawa yang berbunyi “Kertining Pandhita Winayang ing Ratu” (Umarah) dan relief cengkeh, kapulaga dan lainnya (rempah rempah) sebagai simbolisasi saudagar.

Ampel Denta adalah bagian dari Śūrapringga atau bahkan Śūrapringga sendiri. Sekarang namanya lebih dikenal dengan nama Surabaya (d/h. Śūrabhaya).

Inskripsi di Masjid Kemayoran Surabaya bertulis Śūrapringga. Foto: dok

Nama Śūrapringga juga sudah tertulis pada prasasti pembangunan Masjid Kemayoran Surabaya (1848) dan hingga kini prasasti yang berukuran panjang hampir 2 meter dan lebar 75 cm masih terpampang pada dinding dalam Masjid.

Masjid Kemayoran dan Masjid Ampel adalah dua masjid yang secara konstruksi beton dibangun pada pertengahan abad 19. Sementara Masjid Ampel adalah bentuk pengembangan dari apa yang sudah ada sebelumnya (peninggalan) Sunan Ampel dari abad 15.

Di komplek masjid inilah terdapat makam Sunan Ampel beserta keluarga dan bangsawan Surabaya lainnya. Informasi ini didapat dari Manuskrip yang bernama “KUBURAN NGAMPEL SURAPRINGGA”.

Manuskrip ini menggambarkan nama tempat NGAMPEL ŚŪRAPRINGGA dan nama nama ahli kubur mulai dari 1) Raden Rahmat, 2) Nyai Ageng Manyura, 3) Nyai Ageng Meloko, 4) Mas Sriti, 5) Lembupeteng, 6) Lembusura, 7) Pecat Tondha Terung, 8) Sinuhun Kalijaga, 9) Ki Ageng Dalem, 10) Ki Ageng Mukamat Saleh, 11) Panembahan Rama, 12) Pangeran Surabaya, 13)Pangeran Pekik dan 14) Pangeran Kubur Panjang.

Data manuskrip ini adalah milik pemegang akun FB Aryo Bayat, yang dalam akun FB-nya menyajikan manuskrip Kubur Ampel Śūrapringga. Nama lengkap judul catatan Kuna beraksara Jawa ini adalah “Kang Sinare ing Kuburan Ngampel Śūrapringga Kang Wonten Lebete Ruji”.

Melalui tambahan data tentang sejarah klasik Surabaya ini, semoga semakin banyak pihak di kota Surabaya ini menjadi melek sejarah, bukan AMNESIA SEJARAH dan AMNESIA PERADABAN KLASIK.

 

Transliterasi

Berikut transliterasi Manuskrip Kuburan Ngampel Śūrapringga ini, yang telah ditransliterasi oleh Aryo Bayat..

Manuskrip tentang Kuburan Ngampel Śūrapringga..Oto: aryobayat

KANG SINARE ING KUBURAN NGAMPEL SURAPRINGGA KANG WONTEN LEBETE RUJI

1. Kangjeng Sinuhun Makdum, Maksih Timur Nami Raden Rakmad Putrane Seh Maulana Ibrahim Asmara, Ing Arab, Kang Ibu Putri Ing Cempa, Wau Raden Rakmad Dipun Kengken Tinjo Kang Uwa Dhereke Ibune Kang Dipun Krama Ratu Majapahit, Nami Brawijaya Kang Wekasan, Keparingan Rencang Sanake Nami Seh Abu Hurerah, Sareng Dhateng  Majapahit Dipun Genah Wonten Ngampeldenta  Mulang Agami Islam, Akrama Putrane Harya Teja Ing Tuban, Nami Nyai Ageng Manila.

2. Nyai Ageng Manyura, Putrane Sinuhun Makdum

3. Nyai Ageng Meloko, Putrane Sinuhun Makdum

4. Mas Sriti, Juru Lados Sinuhun Makdum

5. Lembupeteng, Putrane Ratu Majapahit, Wonten Jawine Ruji

6. Lembusura, Sentanane Ratu Majapahit Dados Prajuritan, Wonten Kilene Pager Tembok. Sebab Wau Lembupetang, Lembusura Kautus Ratu Majapahit Neliki Kawontenanipun Sinuhun Makdum, Sareng Waktu Subuh, Sinuhun Malebet Ing Kulah Badhe Mendhet Toya Wulu, Dipun Adhang Wonten Jawine Kulah Sumeja Dipun Cidra, Lembu Peteng Lembu Sura Sami Dheprok Boten Saget Obah, Sareng  Sinuhun Medal Saking Kulah Lembu Peteng Lembu Sura Matur Nuwun Tobat, Nuwun Sepunten Saha Nuwun Malebet Agami Islam, Ugi Dipun Sepunten, Lembu Peteng Lembu Sura Lajeng Waras, Wulya Kadi Kang Sampun, sarta Sami Malebet Agami Islam, Manggen Ing Ngampel Pindhah.

7. Pecat Tondha Terung, Wonten Kilene Ruji.

8. Sinuhun Kalijaga, Wonten Cungkup Kidule Pasareyan.

9. Ki Ageng Dalem, Wonten Jawine Pager Wetane Pesareyan.

10. Ki Ageng Mukamat Saleh, Wonten Jawine Pager.

11. Panembahan Rama.

12. Pangeran Surabaya.

13. Pangeran Pekik., Wonten Cungkup Kang Kidul

14. Pangeran Kubur Panjang

Nama Pangeran Surabaya dan Pangeran Pekik. Foto: aryobayat

Mari, berdasarkan petunjuk manuskrip ini, para Penghageng kota Surabaya bisa bersama sama mengidentifikasi dan meneliti karena di sana ada nama nama tokoh penting selain Sunan Ampel. Yaitu ada Pangeran Surabaya, Pangeran Pekik, Lembu Peteng, Lembu Śūra,  dan Sinuhun Kalijaga. (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *