Sejarah
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Nilai kejuangan dan kepahlawanan adalah modal pembangunan masa depan dalam mengisi kemerdekaan.
Nilai kejuangan dan kepahlawanan ini merupakan fondasi mental serta moral bagi generasi penerus. Nilai ini menjadi penggerak persatuan, semangat pantang menyerah, dan pengorbanan demi kemajuan bangsa dalam mengisi kemerdekaan serta menghadapi tantangan pembangunan masa depan.
Adapun makna nilai Kejuangan dan Kepahlawanan ini sesungguhnya adalah Semangat Persatuan, yang mengutamakan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi atau golongan demi menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Dalam menjaga semangat itu tersimpan jiwa Pantang Menyerah dengan keteguhan hati untuk menghadapi berbagai hambatan, krisis, maupun dinamika global yang terus berubah.
Yang tidak ketinggalan dalam makna nilai kejuangan itu adalah adanya rela berkorban serta kesadaran untuk memberikan tenaga, pikiran, dan waktu demi kemajuan bersama dan kesejahteraan masyarakat luas.
Sekarang bagaimana menggali nilai kejuangan itu?

Menggali nilai kejuangan di era modern ini dapat dilakukan melalui refleksi sejarah, kunjungan ke tempat bersejarah, meneladani tokoh tokoh pejuang bangsa masa lalu. Ada banyak tokoh pejuang dari masa yang berbeda beda. Salah satunya adalah Hamengkubuwono II, Raja Mataram Islam yang berkedudukan di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dari era awal abad 19.
Perjalanan sejarah tentang nilai kejuangan yang beliau torehkan adalah sikapnya yang gigih dalam menghadapi kedaulatan bangsa asing (Belanda dan Inggris). Sikap itu tampak nyata yang terwujud dalam perlawanan dan peperangan dalam peristiwa Geger Sepehi pada 1812.
Geger Sepehi ini dilatarbelakangi oleh penolakan Hamengkubuwono II atas permintaan protokoler Inggris yang menghendaki kursi Thomas Stamford Raffles bisa sejajar dengan kursi singgasana Raja. Permintaan protokoler Inggris ini sangat bertentangan dengan tata Krama Keraton. Tata Krama Keraton adalah pedoman perilaku, etika, dan sopan santun luhur yang bersumber dari tradisi istana yang harus dihormati. Apalagi oleh tamu yang hendak bertamu menghadap raja.
Karuan saja Raja Hamengkubuwono II menolak. Penolakan ini menjadikan pihak Inggris marah dan menyerbu keraton serta melakukan penjarahan harta benda dan pusaka keraton, termasuk menurunkan Raja dari tahta dan bahkan mengasingkannya ke pulau Penang.
Teladan Inspiratif
Perlawanan dan sikap gigih inilah yang menjadi contoh inspiratif dalam menegakkan kedaulatan bangsa (kerajaan dan budaya). Contoh ini menjadi sikap kejuangan dan kepahlawanan dalam menghadapi apapun ancaman yang menghadang.
Entah dari mana contoh itu dan kapan terjadinya contoh itu tidak jadi masalah, sejauh masih dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) berdasarkan proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Sejauh contoh itu dapat memberikan inspirasi faktual kepada generasi muda.
Nilai kejuangan dan kepahlawanan itu selaras dengan nilai kepahlawanan dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang pernah terjadi di Surabaya sebagaimana dalam peristiwa Pertempuran 10 November 1945.
Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya adalah puncak perlawanan rakyat Indonesia mempertahankan kemerdekaan melawan tentara Sekutu dan NICA. Peristiwa ini melahirkan nilai-nilai kepahlawanan seperti keberanian tanpa takut, pengorbanan jiwa raga, persatuan tanpa memandang suku, dan wilayah serta keikhlasan membela tanah air demi kedaulatan bangsa.
Korelasi
Ada korelasi nilai kejuangan antara peristiwa Geger Sepehi pada Juni 1812 di Mataram Yogyakarta dan Pertempuran Surabaya pada November 1945. Keduanya saling menguatkan adanya nilai kejuangan dalam menghadapi bangsa asing.
Geger Sepehi pada Juni 1812 di Yogyakarta dan Pertempuran Surabaya pada November 1945 memiliki korelasi nilai kejuangan yang kuat. Keduanya mencerminkan penolakan tegas terhadap dominasi bangsa asing (Inggris), perlawanan total meski menghadapi kekuatan militer yang tidak seimbang, serta semangat kedaulatan yang mengakar pada keberanian rakyat dan pemimpin lokal.
Ad titik singgung Nilai Kejuangan yaitu menolak Hegemoni Asing. Kesultanan Yogyakarta di bawah Sultan Hamengkubuwono II menolak tunduk pada kebijakan kolonial pimpinan Thomas Stamford Raffles. Hal ini serupa dengan rakyat Surabaya yang menolak ultimatum Sekutu pimpinan AWS Mallaby untuk menyerahkan senjata pasca-proklamasi.
Mataram Yogyakarta dan Surabaya menghadapi lawan yang Sama. Kedua peristiwa itu besar dan sama-sama melibatkan pasukan Britania Raya (Inggris) sebagai kekuatan militer utama penentang kedaulatan setempat.
Dari keduanya, peristiwa Pertempuran 10 November 1945 telah dikenang melalui peringatan Hari Pahlawan dan status Pahlawan Nasional buat Bung Tomo.
Bagaimana dengan peristiwa di Mataram Yogyakarta? (PAR/nng)
