Jejak Kejuangan Hamengkubuwono II.

Sejarah

Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA ,- Secara nasional Sri Sultan Hamengkubuwono II dikenal sebagai sosok yang tidak mau kompromi dengan bangsa penjajah (Inggris dan Belanda) di awal abad 19. Ia dengan tegas melawan protokoler bangsa asing demi menjaga harga diri dan kedaulatan budaya dan wilayahnya (Keraton).

Meski akhirnya dirinya menjadi taruhan. Ia diturunkan dari tahta kerajaan dan diasingkan. Harta kekayaan keraton pun dijarah.

Hamengkubuwono II, lahir dengan nama Gusti Raden Mas Sundara pada 7 Maret 1750 dan wafat 3 Januari 1828. HB II adalah Sultan Yogyakarta kedua yang memerintah dalam tiga periode (1792–1810, 1811–1812, dan 1826–1828).

Periode Pertama (1792–1810): Naik tahta menggantikan ayahnya, Sultan HB I. Pada masa ini, ia gigih mempertahankan kedaulatan keraton dari intervensi VOC dan menolak posisi duduk yang disetarakan dengan wakil Belanda.

Periode Kedua (1811–1812): Kembali berkuasa di bawah pendudukan awal Inggris, namun berujung pada pemakzulan paksa oleh pasukan di bawah pimpinan Thomas Stamford Raffles pada Juni 1812 akibat penolakannya terhadap kekuasaan kolonial, lalu diasingkan ke Penang.

Periode Ketiga (1826–1828): Dipanggil kembali oleh pemerintah kolonial pada masa Perang Jawa untuk meredam pemberontakan, tetapi ia tetap menolak bekerja sama hingga akhir hayatnya.

 

Tegas dan Konsisten

Hamengkubuwono II dikenal sebagai Sinuhun Sepuh, ia memiliki karakter tegas dan konsisten menolak kerja sama dengan penjajah kolonial.

Ia lahir di lereng Gunung Sindoro pada 7 Maret 1750 sebagai putra kelima dari Sri Sultan Hamengku Buwono I dan permaisuri GKR Hageng (Kanjeng Ratu Kadipaten).

Masa kecilnya dihabiskan di wilayah pengungsian dalam suasana perang melawan VOC, dan pengalaman ini membentuk watak keras dan pemberaninya.

 

Kebijakan dan Karakter

Anti-Kolonial: Menentang keras campur tangan asing dan tidak segan mengganti pejabat keraton yang dianggap lebih membela pihak Belanda.

Pertahanan Fisik: Membangun Tembok Baluwarti serta menempatkan meriam di depan keraton sebagai bentuk perlawanan simbolis terhadap benteng Belanda di Yogyakarta.

Warisan Budaya: Meninggalkan berbagai karya sastra, filosofi, seni, dan bangunan fisik yang mencerminkan keteguhan sikapnya terhadap pemerintah kolonial.

Ia meninggal dunia pada usia 77 tahun pada tanggal 3 Januari 1828 di Yogyakarta dan dimakamkan di Kotagede.

 

Beteng Baluwarti

Kawasan Beteng Baluwarti. Foto: ist

Benteng Baluwerti merupakan sebuah dinding yang mengelilingi kawasan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Dinding ini didirikan atas prakarsa Hamengkubuwana II ketika masih menjadi putra mahkota pada tahun 1785–1787. Bangunan ini kemudian diperkuat lagi sekitar 1809 ketika ia telah naik tahta sebagai sultan Yogyakarta.

Bastion atau pojok Beteng. Foto: ist

Awalnya pembangunan fisik tembok Benteng Baluwerti (Keraton Yogyakarta) dimulai pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono I (1755–1792) dan selanjutnya diperkuat sekitar tahun 1782 M oleh Hamengkubuwono II.

Awalnya dibangun menggunakan kayu untuk pertahanan, benteng ini kemudian diperkuat dengan dinding bata tebal yang diplester campuran pasir, gamping, dan tumbukan bata merah.

Revitalisasi dan Pembangunan Kembali

Beteng Baluwarti berdiri kembali. Foto: ist

Pemugaran Modern: Proyek pemulihan dan pembangunan fisik kembali (revitalisasi) dilakukan secara bertahap oleh pemerintah daerah dan pihak Keraton Yogyakarta untuk mengembalikan bentuk historisnya seperti 200 tahun lalu.

Dukungan Warisan Dunia: Upaya fisik ini menjadi bagian penting dalam mendukung pelestarian Sumbu Filosofis Yogyakarta yang telah ditetapkan sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO.

Titik Pengerjaan: Restorasi mencakup beberapa titik krusial termasuk area Wijilan hingga kawasan Kadipaten Lor, serta perbaikan bastion pojok benteng yang sempat rusak akibat peristiwa sejarah masa lalu.

Kota Gede

Kotagede adalah kawasan kota lama dan bekas ibu kota pertama Kerajaan Mataram Islam sejak abad ke-16. Letaknya berada di bagian tenggara Yogyakarta, wilayah ini terkenal dengan gang-gang sempit yang klasik, arsitektur rumah tradisional Jawa, situs makam raja-raja, serta pusat kerajinan perak.

 

Makam Raja Raja

Makam para Raja Mataram. Foto: ist

Kompleks Makam Raja Mataram Kotagede (Pasareyan Hastana Kitha Ageng) adalah tempat peristirahatan awal para tokoh penting dan penguasa Kesultanan Mataram Islam, termasuk di dalamnya ada makam Hamengkubuwono II.

Raja Yogyakarta ini masih dimakamkan di sini karena situasi Perang Jawa (1825-1830) yang tidak memungkinkan dibawa ke Imogiri

Keunikan:

Terdapat makam Ki Ageng Mangir yang posisinya diletakkan separuh di dalam cungkup dan separuh di luar cungkup sebagai simbol statusnya.

Aturan Ziarah: 

Pengunjung wajib mematuhi norma kesopanan, menjaga ketertiban umum, dan mengikuti tata cara berpakaian adat Jawa atau pakaian yang sopan saat memasuki area sakral ini. (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *