Kemiripan Peristiwa Geger Sepoy (1812) & Perang Surabaya (1945).

Sejarah

Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Nilai Kepahlawanan lokal Surabaya memancar luas secara nasional dan bahkan dikenal menjamah ke dunia internasional.

Nilai juangnya tidak tanggung tanggung sehingga menjadi dasar penetapan kota Surabaya sebagai Kota Pahlawan oleh Presiden Pertama Soekarno pada 1950.

 

Pahlawan Nasional

Arek Surabaya sungguh menjiwai nilai nilai kejuangan itu dan di era kekinian, layak menilai siapa memiliki nilai juang di negeri ini. Salah satunya adalah tokoh Bung Tomo, yang telah diajukan sebagai Pahlawan Nasional yang akhirnya ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 10 November 2008. Gelar tersebut dikukuhkan secara resmi bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan di Istana Merdeka, Jakarta.

Ada dalam lini masa perjalanan bangsa ini, yang mewarnai untaian nilai kepahlawanan. Yaitu peristiwa penting yang jauh sebelum masa kemerdekaan. Salah satunya adalah bagaimana Hamengku Buwono (HB) II dalam menghadapi pemerintahan Inggris di bawah Raffles di awal abad 19.

Sri Sultan Hamengku Buwono II (lahir 7 Maret 1750), yang wafat 3 Januari 1828, adalah Sultan Yogyakarta berkuasa tiga kali (1792–1810, 1811–1812, dan 1826–1828). Ia dikenal dengan nama kecil Raden Mas Sundoro dan memiliki karakter keras dan gigih dalam menentang kehadiran penjajah (VOC, Inggris, dan Belanda) demi mempertahankan kedaulatan Mataram (bangsa).

 

Berani

Perlawanan berani Sultan Hamengku Buwono II (HB II) terhadap Inggris ini dipicu oleh penolakannya terhadap kebijakan kolonial dan upaya mempertahankan kedaulatan Mataram (bangsa).

Geger Sepoy ekspresi keberanian Hamengkubuwono II melawan protokoler Inggris. Foto: ist

Penolakan ini berujung pada peristiwa Geger Sepoy pada 18–20 Juni 1812 ketika pasukan gabungan Inggris dan tentara bayaran asal India (Sepoy) di bawah komando Kolonel Robert Rollo Gillespie atas perintah Letnan Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles menyerbu, menaklukkan, serta menjarah Keraton Yogyakarta.

Peristiwa ini dipicu oleh penolakan Sultan Hamengkubuwono II, yang secara konsisten menolak aturan protokoler, intervensi politik, serta kebijakan sepihak dari Thomas Stamford Raffles dan Herman Willem Daendels demi mempertahankan kedaulatan Mataram (bangsa),

Melihat sikap berani itu, ini menunjukkan bahwa Sri Sultan Hamengku Buwono II (Sultan HB II) memiliki jiwa kejuangan yang kuat. Sri Sultan Hamengku Buwono II memang dikenal sebagai penguasa yang gigih, vokal, dan tidak pernah kompromi dalam menentang intervensi serta penjajahan kolonial Inggris dan Belanda demi mempertahankan kedaulatan keraton dan martabat bangsa.

 

Nilai Kejuangan dan Kepahlawanan

Dari peristiwa itu, ada nilai Kejuangan dan Kepahlawanan dari Sri Hamengkubuwono II serta ada peran tentara bayaran Sepoy asal India. Dari peristiwa itu, ada nilai yang bisa dipetik. Yaitu:

Konsistensi Perlawanan:

Menolak tunduk secara konsisten terhadap kekuasaan kolonial mulai dari VOC, Daendels, hingga Raffles.

Membela Marwah Bangsa:

Berani mempertahankan kedaulatan dan martabat istana meski berada di tengah kepungan kekuatan besar.

Kepemimpinan Visioner: Memobilisasi pertahanan termasuk membentuk prajurit wanita untuk menghadapi ancaman asing.

 

 Kota Pahlawan

Tokoh Sri Sultan Hamengku Buwono II dalam peristiwa Geger Sepoy pada 1812 itu terefleksikan pada peristiwa berikutnya, perang Surabaya 10 November 1945, dimana gerakan rakyat yang dikompori oleh Bung Tomo dalam menghadapi tentara Sekutu yang dipimpin oleh Brigadir A.W.S. Mallaby.

Dalam peristiwa itu (perang Surabaya) terdapat keterlibatan Inggris dan serdadu India. Peristiwa ini mengulang kembali peristiwa Sepoy yang juga melibatkan Inggris dibawah Raffles dan serdadu bayaran Sepoy asal India.

 

Menjaga Nilai Kejuangan dan Kepahlawanan Atas Geger Sepoy dan Perang Surabaya.

Atas peristiwa Geger Sepoy dan Perang Surabaya, ada kemiripan peristiwa:

• Perlawanan terhadap protokoler asing

• Ada keterlibatan Inggris

• Ada keterlibatan tentara bayaran Sepoy yang dimanfaatkan Inggris sebagai penjajah atas India.

Inggris dikenal mulai menguasai India sejak tahun 1757 melalui Perusahaan Hindia Timur (EIC) setelah Pertempuran Plassey. Penguasaan berubah menjadi penjajahan resmi oleh Pemerintahan Kerajaan Inggris pada tahun 1858, dan berakhir ketika India merdeka pada 15 Agustus 1947.

 

1625

Pada tahun 1625 adalah momen ketika Surabaya masuk dalam wilayah kekuasaan politik dan Pemerintahan Mataram.

Pada tahun 1625, Surabaya memang secara resmi jatuh dan masuk dalam wilayah kekuasaan Kesultanan Mataram di bawah pimpinan Sultan Agung setelah pengepungan panjang dan blokade. Peristiwa ini mengakhiri kedaulatan politik Kadipaten/Kerajaan Surabaya di Jawa Timur.

Apa hubungan Sultan Agung dan Hamengkubuwono II? Keduanya adalah penguasa besar dari akar tradisi Kerajaan Mataram Islam. Sultan Agung adalah raja ketiga Mataram, yang membawa kerajaan ke puncak kejayaan, sementara Hamengkubuwana II adalah raja kedua Kesultanan Yogyakarta yang merupakan pecahan dari imperium Mataram tersebut.

Berikut silsilah Dinasti Mataram Islam mulai dari Sultan Agung hingga ke Hamengkubuwono II.

Sultan Agung (1613–1645)

Raja terbesar Mataram Islam yang membawa kerajaan mencapai puncak kejayaan dan memperluas wilayah hampir ke seluruh pulau Jawa.

Amangkurat I (1645–1677)

Putra Sultan Agung yang memerintah secara otoriter, memicu banyak pemberontakan, dan wafat dalam pelarian akibat Perang Trunajaya.

Amangkurat II (1677–1703)

Putra Amangkurat I yang meminta bantuan VOC untuk meredam pemberontakan, memindahkan ibu kota ke Kartasura, dan dijuluki Sunan Amral oleh rakyat karena memakai pakaian ala Eropa.

Hamengkubuwono I

Pendiri sekaligus peletak dasar Kesultanan Yogyakarta pasca-Perjanjian Giyanti yang memecah Mataram Islam.

Hamengkubuwono II (1792–1810, 1811–1812, 1826–1828)

Putra Hamengkubuwono I yang mengalami masa pemerintahan unik dalam tiga periode kekuasaan di tengah konflik melawan kekuatan kolonial.

 

Nilai Luhur

Nilai kejuangan dan kepahlawanan Sri Sultan Hamengku Buwono II mencakup sikap gigih menentang kolonialisme VOC, Daendels, dan Inggris, keteguhan mempertahankan kedaulatan takhta di tengah tekanan asing, serta pengorbanan besar berupa pemakzulan dan pengasingan ke Penang dan Ambon demi martabat rakyat Jawa.

Nilai kejuangan dan kepahlawanan Sutomo (Bung Tomo) tercermin dari keberaniannya mengorbankan tenaga dan suara lewat radio pemberontakan untuk membakar semangat Arek-Arek Suroboyo melawan tentara Sekutu pada Pertempuran 10 November 1945. Ia menunjukkan jiwa pantang menyerah, nasionalisme tinggi, serta kesederhanaan demi kedaulatan bangsa. (PAR/nng)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *