Budaya
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Surabaya yang metropolis dan maju tidak lupa akar budayanya. Masih ada punden punden sebagai bukti mula kawasan Surabaya, yang tersebar di penjuru kota. Salah satunya adalah punden Sonokwijenan, di Sukomanunggal.
Punden Sonokwijenan yang terletak di wilayah Sukomanunggal ini, bukan sekadar tumpukan batu atau peninggalan masa lalu, melainkan simbol identitas dan “penjaga” keseimbangan sosial bagi warga asli di tengah gempuran modernitas.
Bagi masyarakat lokal, meski belum diketahui siapa sosok “penghuninya”, Punden Sonokwijenan diyakini sebagai petilasan Mbah Buyut, yang dipercaya membabat alas atau pendiri permukiman di wilayah tersebut.
Keberadaannya menjadi bukti bahwa Surabaya tidak hanya dibangun oleh narasi kolonial, tetapi juga oleh tokoh-punden yang dihormati di tingkat akar rumput.
Menandai dan dalam upaya mengingat itu, pada Minggu malam (12/7/26) digelar Wayang Kulit dengan Lakon: “Pendowo Syukur” (Sesaji Rojo Suyo) di jalan Raya Kupang Baru sebagai rangkaian acara tradisi Bersih Desa.

Pagelaran wayang kulit ini menampilkan 10 dalang yang secara bergiliran mendalang tandem dengan hiburan campursari dengan bintang tamu Niken Salindri.

Hadir dalam acara ini adalah Bambang Haryo Soekartono (BHS), Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, dari partai Gerindra, juga Cahyo Harjo Prakoso, S.H., M.H., anggota DPRD Jatim dari Partai Gerindra, serta Bahtiyar Rifai, S.H., Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya serta Ajeng Wira Wati, Yona Bagus Widyatmoko, S.H., S.M., dan Hj. Luthfiyah, S.Psi., juga A. Hermas Thony, mantan Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya (2019-2024) yang kini bergerak sebagai tokoh Kebudayaan Surabaya dan politikus Gerindra lainnya.

Bambang Haryo Soekartono (BHS) mengapresiasi kadernya seperti Cahyo Harjo Prakoso beserta jajaran politikus Gerindra, yang masih mau melestarikan budaya seperti Wayang Kulit sebagai identitas bangsa. Sementara Cahyo Harjo Prakoso sendiri berpesan kepada semua penonton agar bisa mengambil hikmah budaya sebagai tuntunan.

Bambang Haryo berpesan agar tradisi ini bisa digelar berkelanjutan sebagai upaya bersama untuk melestarikan budaya daerah. Bambang juga ingin di masa masa resesnya mendatang bisa menanggap wayang kulit ini.

Di kawasan Sukomanunggal sendiri setidaknya ada beberapa Punden seperti Punden Sonokwijenan, Punden Ngesong dan Punden Sono. Menurut seorang warga setempat bahwa dalam bulan Suro tradisi bersih desa marak yang diramaikan dengan tradisi wayangan.

Tradisi bersih desa pada bulan Suro dilakukan sebagai bentuk sedekah bumi dan ungkapan rasa syukur atas rezeki yang diberikan. Ritual ini juga bertujuan memohon keselamatan (tolak bala) dan membersihkan desa dari gangguan roh jahat atau mara bahaya menjelang pergantian tahun baru kalender Jawa. (PAR/nng)
