Budaya
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Banyak orang tertarik membaca inskripsi pada Candi Plaosan. Alasannya karena inskripsi itu memuat catatan sejarah mengenai kegotong royongan, daftar tokoh penting, serta simbol toleransi beragama dari era Mataram Kuno.
Salah satunya adalah peneliti dari India, yang datang bersama rombongan Perdana Menteri India Narendra Modi, yang baru saja berkunjung ke Yogyakarta (8/7/26). Ia diajak oleh filolog Yogyakarta, Setya Amrih Prasaja, yang juga seorang Kepala Seksi Bahasa, Sastra dan Aksara di Dinas Kebudayaan, DIY.

Inskripsi di Candi Plaosan ini dikenal mengabadikan nama anggota masyarakat, pejabat kerajaan, yang mewakafkan dana untuk membangun stupa atau candi perwara. Gotong Royoong.
Melalui pembacaan prasasti di sana, para sejarawan dan pengunjung dapat mengetahui daftar donatur atau pelindung candi pada abad ke-9. Dengan begitu, inskripsi ini dapat membedah struktur sosial dan moderasi beragama, yang kuat antara umat Hindu dan Buddha pada masa lalu. Toleransi beragama.
Prasasti Perwara
Umumnya inskripsi ini disebut Prasasti Perwara. Prasasti perwara adalah prasasti pendek, yang biasanya dipahatkan pada bagian tangga atau selasar candi perwara (candi pengiring/pendamping di kompleks percandian).
Prasasti ini umumnya berisi catatan mengenai dermawan, pejabat, atau kelompok masyarakat yang mensponsori pembangunan candi tersebut.
Contoh paling menonjol yaitu ditemukannya nama nama pejabat, yang diawali dengan tulisan anumoda (tanda terima kasih atau restu), yang diikuti nama pejabat dan asal wilayah penyumbang, seperti Rakryan i Hino, Rakryan i Halu, Rakryan i Sirikan,
Gelar “Rakryan” (atau “Rakai”) adalah gelar kebangsawanan atau pangkat jabatan setingkat menteri atau pejabat tinggi kerajaan pada masa Mataram Kuno. Inskripsi ini menjadi sumber sejarah penting mengenai struktur pemerintahan pada masa itu.
Penanda Struktur Jabatan, misalnya Gelar Rakryan sebagaimana tertulis Rakryan i Hino, Rakryan i Halu, Rakryan i Sirikan, yang berarti seorang pejabat di wilayah Hino, Halu dan Sirikan. Rakyran merupakan jabatan fungsional dalam struktur administratif.

“Karena di Plaosan itu mudah ditemukan aksara kawi yang tertulis di setiap candi pewara, yang tidak seperti candi lain, yang minim aksara. Karena konteks dimana dia mau tahu aksara Kawi, maka saya arahkan ke sana”, jelas Setya Amrih Prasaja (Filolog), yang mendampingi ke Candi Plaosan.
Gotong Royong

Berdasarkan kajian epigraf, temuan nama-nama dengan gelar ini mengindikasikan bahwa pembangunan kompleks percandian ini tidak hanya melibatkan raja, tetapi juga mendapat dukungan dan partisipasi dari para pejabat tinggi kerajaan.
Tulisan ini biasanya dipahatkan pada bagian stupa perwara, dinding candi, atau prasasti pendek yang ditemukan di sekitar kawasan Candi Plaosan Lor.

Candi Plaosan merupakan kompleks percandian besar dan luas, yang memiliki latar belakang keagamaan Buddha dan secara umum percandian ini terbagi dalam dua kompleks, yaitu kompleks Candi Plaosan Lor dan kompleks Candi Plaosan Kidul.
Menarik Mata Karena Kekayaan Bangunan
Sebagaimana yang sudah diketahui secara umum, bahwa kompleks percandian ini merupakan peninggalan dari masa Mātaram Kuno, yang diperkirakan dibangun pada pertengahan abad VIII Masehi.
Antara kedua kompleks percandian (Lor dan Kidul), dimana yang paling banyak menjadi objek penelitian dan kunjungan para wisatawan adalah Kompleks Percandian Plaosan Lor.

Kompleks Percandian Plaosan Lor terdiri dari dua candi induk, yang ada di bagian tengah, lalu yang dikelilingi oleh pagar pembatas, dan di luar pagar pembatas dikelilingi lagi oleh bangunan-bangunan candi perwara, berupa bangunan prasadha berjumlah 58 bangunan, yang mengelililingi pagar tembok pembatas (Ring 1) hingga ke arah masing-masing sudut.
Kemudian beberapa di antaranya berupa bangunan stupa pada Ring 2 dan Ring 3 yang mengelilingi bagian luar bangunan prasada. Bangunan stupa tersebut pada bagian selatan dan utara berjumlah 20 bangunan dan pada bagian timur terdapat 40 bangunan serta pada bagian barat terdapat 36 bangunan.
Jumlah antara bangunan stupa di bagian timur dan barat tidak sama karena empat stupa sengaja tidak dibangun untuk menyediakan jalan masuk antara pintu masuk dari lokasi arca dwarapala (penjaga pintu) sampai ke dalam kompleks candi induk.
Pada bagian paling utara terdapat sebuah bangunan mandapa. Karena halamannya yang luas dan terbagi dalam beberapa ruang, kompleks percandian ini mampu menampung pengunjung dalam jumlah yang cukup banyak.
Dapat dibayangkan keindahan dari kompleks percandian ini ! (PAR/nng)
