Budaya
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Ada perubahan perubahan nama daerah (kota) dari nama asal menjadi nama terkini atau yang dipakai sekarang. Misalnya Jayakarta menjadi Batavia di era Belanda lalu kita mengenalnya sekarang sebagai Jakarta. Sama halnya dengan Śūrabhaya, lantas di era Belanda dengan Soerabaia dan sekarang menjadi Surabaya.
Khususnya untuk kota Surabaya, asalnya adalah Śūrabhaya berdasarkan pada prasasti Canggu atau Trowulan I (1358 M). Pergeseran itu terjadi karena ada kebiasaan peradaban tertentu dalam budaya tulisnya.
Asal

Asal mula nama kota Surabaya adalah tertulis sesuai bunyi ucapan (pelafalan) dari aksara Jawa Kuno, yang lalu ditulis (digrafikkan) Śūrabhaya. Tulisan pada dasarnya adalah sistem simbol grafik, yang digunakan manusia untuk merekam, bahasa secara visual.
Dalam linguistik dan fonologi, “bunyi yang digrafiskan” merujuk pada bunyi bahasa (fonem), yang direpresentasikan atau dituliskan menggunakan dua huruf (grafem) yang sekaligus untuk melambangkan satu fonem tunggal. Kombinasi dua huruf ini dikenal sebagai digraf.
Prasasti itu muncul pada 1358 M di masa Kerajaan Majapahit yang kala itu umum menggunakan aksara Jawa Kuno atau Kawi. Aksara Kawi, atau sering disebut aksara Jawa Kuno, merupakan aksara historis yang digunakan secara luas pada masa abad ke-8 hingga ke-16, termasuk pada era Kerajaan Majapahit. Aksara ini menjadi fondasi bagi sistem penulisan tradisional di Nusantara.
Era Kolonial
Abad ke-16 menjadi pintu masuk penjelajahan bangsa Barat (Eropa) ke Nusantara. Dipelopori oleh bangsa Portugis yang tiba di Malaka pada 1511 dan Maluku pada 1512, kedatangan mereka didorong oleh pencarian rempah-rempah, motivasi mencari kekayaan, perluasan wilayah, serta penyebaran agama (dikenal dengan misi (3G): Gold, Glory, dan Gospel).
Disusul kemudian bangsa Belanda yang diawali oleh perusahaan dagang VOC pada 1602 M. Kongsi dagang VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie) ini resmi didirikan pada 20 Maret 1602 untuk menghindari persaingan antar-pedagang Belanda dan menghadapi monopoli bangsa Eropa lainnya seperti Portugis.
Sejak itulah bangsa Belanda terus bercokol di Nusantara hingga berganti bentuk dari VOC lalu Hindia Belanda. Periode penjajahan Belanda di Nusantara membentang panjang dan mengalami metamorfosis dari korporasi dagang menjadi pemerintahan kolonial resmi.
Masa VOC (1602–1799):
Vereenigde Oostindische Compagnie dibentuk sebagai kongsi dagang. Mereka diberikan hak istimewa (oktroi) untuk memonopoli perdagangan, mencetak uang, memiliki angkatan perang sendiri, hingga membuat perjanjian
Kebangkrutan dan Pembubaran: Akibat korupsi massal dan utang yang membengkak, VOC bangkrut dan resmi dibubarkan pada 31 Desember 1799. Aset dan wilayah kekuasaannya kemudian diambil alih langsung oleh pemerintah Kerajaan Belanda.
Masa Hindia Belanda (1800–1942):
Pemerintahan kolonial resmi berpusat di Batavia. Era ini menandai peralihan dari sekadar mencari keuntungan ekonomi (monopoli rempah-rempah) menjadi kontrol teritorial dan eksploitasi sistematis melalui kebijakan seperti Tanam Paksa dan Politik Etis.
Pada masa peradaban Belanda inilah, nama Surabaya berganti dalam hal penulisan. Perubahan penulisan dari Śūrabhaya (atau Curabhaya) menjadi Soerabaja dan Surabaya di era Belanda ini terjadi karena penyesuaian fonetik dengan lidah Eropa, kebijakan pembakuan bahasa Melayu, dan evolusi ejaan nasional.
Pengaruh Lidah Belanda (Abad ke-17 hingga ke-19)
Pendatang dan pedagang VOC awalnya sering menulis nama kota ini secara bervariasi seperti Sourabaya, Surubaia, atau Soerabaia. Huruf ‘oe’ digunakan oleh Belanda untuk menghasilkan bunyi bunyi ‘u’. Hal ini dilakukan agar pelafalan kata lokal lebih mudah diucapkan oleh orang Belanda.
Standarisasi Ejaan van Ophuijsen (1901)
Pemerintah kolonial Belanda memberlakukan sistem ejaan resmi yang disusun oleh Charles Adriaan van Ophuijsen pada 1901. Ejaan ini menetapkan penulisan kota tersebut secara resmi menjadi Soerabaja. Huruf ‘oe’ dipakai untuk melambangkan fonem ‘u’, dan huruf ‘j’ digunakan untuk bunyi ‘y’ sesuai kaidah bahasa Belanda.
Ejaan Republik / Ejaan Soewandi (1947)
Setelah kemerdekaan Indonesia, pemerintah menyederhanakan ejaan agar lebih sesuai dengan bahasa Indonesia. Huruf ‘oe’ resmi diganti menjadi ‘u’, sehingga tulisan Soerabaja berubah menjadi Surabaja.
Ejaan Yang Disempurnakan / EYD (1972 – Kini)

Penulisan akhirnya disesuaikan lagi dengan tata bahasa baku menjadi Surabaya, di mana huruf ‘j’ berubah sepenuhnya menjadi ‘y’.
Dari perjalanan panjang sesuai peradaban yang ada, maka kata Śūrabhaya berevolusi menjadi Sourabaya (era Perancis), Soerabaia (Belanda), Soerabaja (Republik) dan Surabaya (EYD).
Atas evolusi dan perubahan huruf pada kata Śūrabhaya ke Surabaya ini tidak hanya terjadi perubahan grafis (simbol), tetapi juga terjadi perubahan makna berdasarkan tinjauan Linguistik bahasa Sansekerta dan bahasa Jawa Kuno. (PAR/nng)
