Mencari Makna Berani Pada Śūrabhaya 

Budaya, Aksara

Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Biarlah halangan dan rintangan menghadang, namun tetap derapkan langkahmu terus menerjang. Ingat, setiap tantangan adalah bahan bakar untuk melaju lebih kencang. Tetap fokus pada tujuan, niscaya rencana itu kan datang pada waktunya.

Ini momen yang menunjukkan sebuah proses pembelajaran. Yakni pembelajaran mengenal jati diri. Terkadang guru pun kedapatan kencing sambil berlari, yang tidak hanya berdiri. Jika itu terjadi, maka bersiaplah karena murid mungkin akan kencing sambil bersalto, yang jauh lebih ekstrim lagi!

Belajar mengenal jati diri memang tidak semudah mengenal jati diri orang lain karena kita memiliki blind spot (titik buta) dan ego, yang menghalangi objektivitas. Kita seringkali melihat orang lain dari luar, sementara mengenali diri sendiri menuntut kejujuran penuh atas emosi, ketakutan, dan kelemahan terdalam yang seringkali tidak ingin kita akui.

Berani mencari dan merangkum. Foto: nng

Apa takutnya dengan kejujuran penuh atas kebaikan yang ada ataukah kebaikan dan kejujuran itu dianggap membuka kelemahan / keburukan atau rasa malu yang teramat sangat.

Sementara pihak lain (asing) yang beda budaya itu malah sempat membelalakkan mata kita untuk kejujuran penuh atas kebaikan leluhur kita. Tapi sayang kita masih buta.

Apapun itu, tetap saja bertindaklah baik dan jujur demi leluhur budaya. Leluhur budaya Surabaya adalah rasa berani. Berani berbuat baik, yang tidak hanya untuk diri sendiri tapi juga untuk orang lain.

Esensi sejati dari budaya Arek Suroboyo memang berakar pada keberanian yang berlandaskan kasih sayang. Karakter ini terpatri abadi dalam catatan sejarah lokal sebagai jiwa Wani. Yakni keberanian membela kebenaran, menolak ketidakadilan, dan mengabdi untuk kemaslahatan bersama.

Terus menggali dan mencari jejak Berani. Foto: nng

Teruslah menggali esensi sejati arek Surabaya. Yakni jiwa Berani. Secara historis, nama Surabaya sendiri berasal dari kata çūra (berani) dan bhaya (bahaya), yang tertulis dalam Prasasti Canggu (1358 M), yang berbunyi Śūrabhaya atau Çūrabhaya atas penulisan asli dalam aksara Jawa Kuna. (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *