Budaya
Rajapatni.com: SURABAYA – Iman, harapan, dan kasih adalah tiga landasan utama, yang menguatkan manusia dalam menghadapi rintangan kehidupan. Ketiganya berfungsi sebagai pelindung hati agar tidak hancur oleh tekanan hidup, menjadikan hidup lebih bermakna, serta menjadi inti dari ajaran spiritual yang tetap ada dan tak lekang oleh waktu.
Bagi umat Katolik dan Kristiani pada umumnya, setidaknya tiga landasan itulah yang menjadi inti dalam rangkaian perayaan Paskah dan Kenaikan Isa Almasih tahun ini. Tiga landasan itu tentunya berlaku bagi semua umat manusia.
Ajaran luhur agamis dengan ditopang oleh penataan tata ruang macapat yang kondusif antar umat beragama menjadikan lingkungan sosial dan budaya menjadi damai dan tentram serta penuh kasih.
Ini menggambarkan idealisme harmonisasi antara nilai spiritual, penataan fisik wilayah, dan kerukunan sosial yang berakar pada kearifan lokal Jawa. Konsep ini menggabungkan ajaran luhur (etika dan spiritualitas) dengan tata ruang macapat (konsep kosmologis Jawa: Catur Gatra Tunggal) untuk menciptakan lingkungan yang damai, tentram, dan penuh kasih.
Di Surabaya, Malang dan bahkan Jakarta, ada jejak satu ruang (lapangan/alun alun) dengan dua rumah ibadah. Yaitu Masjid dan Gereja.

Di alun alun Surabaya (Kemayoran) pernah ada gereja Katedral di sisi Timur alun alun yang menghadap ke Barat (ke arah lapangan). Sementara di sisi Barat berdiri sebuah Masjid yang menghadap ke Timur (ke arah lapangan). Betapa sebuah interaksi ruang yang harmonis.
Sekarang ruang alun alun itu sudah penuh sesak dengan bangunan dan menjadi sekat antara dua rumah ibadah.
Di Surabaya, pembangunan dan perkembangan kotanya memang telah merenggut ruang terbuka alun alun. Lapangan luas alun alun itu sudah hilang karena telah berdiri bangunan sekolah. Pertahanan terakhir harmonisasi dalam ruang bersama itu menjadi ingatan kolektif yang harus dijaga dan dilestarikan.
Tata ruang klasik ini sungguh melambangkan toleransi umat beragama. Hidup harmonis di antara perbedaan. Mereka bisa hidup rukun dan damai, berdampingan dalam toleransi dengan menerima serta menghargai setiap perbedaan latar belakang budaya, agama, atau pendapat.
Sekarang tidak bisa lagi melihat dua rumah ibadah dari satu lokasi lapangan alun alun. Dulu pada zamannya dua rumah ibadah ini dapat dipandang dari satu titik yang sama. Jika menghadap ke Barat, terlihat berdiri Masjid Kemayoran. Bila menghadap ke Timur, terlihat Gereja Katedral.
Alun alun menjadi ruang interaksi masyarakat. Ada anak bermain. Ada bakul berjualan. Bahkan lapangan alun alun ini menjadi ruang apel militer. Sekarang yang tertinggal adalah ingatan kolektif. Jangan jadikan hilangnya ruang interaktif itu menjadi hilangnya keharmonisan antar umat beragama.
Dalam semangat memupuk rasa keimanan, harapan, dan kasih antar sesama, Kenaikan Isa Al-Masih (Yesus Kristus) menjadi momen memperingati terangkatnya Yesus ke surga pada hari ke-40 setelah kebangkitan-Nya (Paskah).
Kenaikan Isa Al-Masih merupakan momentum penuh makna, yang mempertegas kemenangan kasih atas kebencian, terang atas kegelapan, dan harapan atas keputusasaan. Sebagai “tali untaian” yang menghubungkan iman, harapan, dan kasih, Kenaikan Isa Al-Masih yang diperingati pada 14 Mei 2026 mengajak umat Katolik dan Kristiani untuk memperbaiki relasi dengan Tuhan serta sesama. (PAR/nng)
