Budaya, Aksara
Rajapatni.com: SURABAYA – “Aksara Jawa di Surabaya”. Kalimat pendek itu kedengarannya kontras. Aksara Jawa bersifat tradisional dan Surabaya sudah bersifat modern.
Adalah sebuah tantangan (bukan halangan) dalam memperkenalkan kembali aksara Jawa di Surabaya. Sesungguhnya Surabaya bukanlah tempat yang asing bagi aksara Jawa. Aksara jawa secara historis dan kultural pernah ada di Surabaya pada masa lalu. Bukti bukti itu masih ada. Diantaranya di komplek Sunan Ampel, di masjid Kemayoran dan kompleks pemakaman para Bupati Surabaya
Bersama orang orang (tim), yang punya rasa dan tentu saja logika, maka upaya mengenalkan kembali aksara Jawa di Surabaya dapat berjalan dengan baik. Aksara Jawa adalah objek tak benda (intangible), yang menjadi identitas bangsa Indonesia. Treatmentnya harus melalui rasa, selain logika.

Treatment pengenalan aksara Jawa (Ha-Na-Ca-Ra-Ka) memang idealnya melalui pendekatan rasa (batin/kebatinan/filosofi) sebelum logika. Hal ini dikarenakan aksara Jawa bukan sekadar sistem penulisan silabus untuk komunikasi, melainkan warisan budaya adiluhung yang sarat makna spiritual dan filosofis.
Jika hanya mengandalkan logika, maka seseorang itu akan kandas meski mereka berstatus akademisi budaya. Budaya itu berbasis Rasa, Simbol, dan Makna, Bukan Sekadar Data. Budaya tidak selalu bekerja berdasarkan prinsip sebab-akibat (kausalitas) yang logis. Budaya dibangun di atas mitos, tradisi, emosi kolektif, dan simbolisme. Bahkan akademis, yang berbasis logika saja, bisa jadi kontradiksi dalam upaya pemajuan aksara Jawa sebagai identitas bangsa yang adiluhung.
Kebudayaan bukanlah produk logika murni, melainkan hasil kristalisasi mitos, tradisi, emosi kolektif, dan simbolisme yang diwariskan.
Memandang budaya dalam upaya pemajuannya harus dilihat dengan mata kepala (logika) dan mata hati (rasa). Mata kepala akan melihat hasil ekspresi visual dari aksara Jawa misalnya tulis dan kreativitas seni sebagai keindahan. Mata hati akan melihat keterlibatan diri dalam proses pemajuan.
Mata Kepala, melihat sebagai Estetika dan Wujud Fisik. Menggunakan mata kepala berarti mengamati kebudayaan dari sisi fisik, visual, dan hasil akhirnya (tangible).
Mata Hati, merasakan sebagai Nilai dan Keterlibatan. Menggunakan mata hati berarti menyelami makna, filosofi, dan ruh dari budaya tersebut (intangible). Ini melibatkan empati dan rasa memiliki.
Itulah sikap segelintir orang dalam wadah Puri Aksara Rajapatni yang berangkat dari NOL hingga membawa aksara Jawa ke dunia modern dan manca. (PAR/nng)
