Antri adalah Simbol Kedisiplinan.

Budaya

Rajapatni.com: SURABAYA – Budaya komunal, yang mengutamakan kebersamaan, harmoni kelompok, dan kepentingan bersama (seperti konsep gotong royong), sering kali menempatkan kepentingan individu di bawah kebutuhan kelompok.

Namun terkadang tidak mudah juga dalam mewujudkan konsep ini. Butuh suatu pembiasaan dan aturan atau akan terjadi desak desakan dan rebutan agar keinginan pribadi (individu) tercapai.

Budaya antri adalah salah satu alatnya. Dulu ketika masih duduk di bangku Taman Kanak Kanak tahun 1972-1973 ketika mau masuk ke dalam kelas dibiasakan untuk antri dengan berbaris memanjang ke belakang. Siswanya satu per satu masuk ke dalam kelas. Meski semua murid secara komunal akan masuk kelas, tapi cara masuknya diatur agar tidak berjubel dan rebutan.

Anak anak TK di Tiongkok antri. Foto: ist

Akhirnya 40 siswa itu bisa masuk kelas. Pelajaran pun dimulai. Sang guru mulai mengajar menjelaskan tentang budaya antri. Menurutnya budaya antri adalah kebiasaan positif yang mencerminkan kedisiplinan, kesabaran, dan penghormatan terhadap hak orang lain.

Budaya antri merupakan cerminan kemajuan suatu bangsa yang mengajarkan manajemen waktu dan tertib sosial. Ini pula yang diajarkan di sekolah-sekolah di Tiongkok.

Antri masuk ke dalam kereta subway. Foto: IS

Terlihat dalam keseharian, masyarakat Tiongkok terus membudayakan antri. Dalam pengamatan oleh Ita Surojoyo ketika di Tiongkok bahwa mau masuk ke dalam kereta subway pun mereka antri. Orang akan memposisikan diri di belakang orang lain ketika akan mendapatkan kesempatan atau giliran. Bahkan untuk mendapat layanan beli makanan di pinggir jalan.

Budaya antri di Tiongkok saat ini mengalami transformasi yang signifikan, di mana kedisiplinan semakin meningkat, terutama di kota-kota besar dan fasilitas umum modern seperti kereta api, yang ditandai dengan sedikitnya aksi saling dorong. (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *