Budaya
Rajapatni.com: SURABAYA – Hubungan bilateral indonesia Belanda telah lama ada di Surabaya. Bahkan Revitalisasi Koneksi Belanda-Indonesia saat ini tengah berjalan intensif, difokuskan pada penguatan hubungan budaya seperti pengembalian artefak bersejarah (repatriasi), dan kerja sama berorientasi masa depan. Proses ini menandai babak baru persahabatan kedua negara, yang didasarkan pada kesetaraan dan saling menghormati.
Peningkatan hubungan bilateral kedua negara (G2G) ini disokong oleh peran masyarakat dengan konsep People-to-people (P-2-P) serta Community-to-Community (C2C) secara mandiri. Di Surabaya, telah ada hubungan mandiri antar komunitas dan masyarakat.

Secara kelembagaan telah lahir hubungan Puri Aksara Rajapatni dan Stichting Anak Mas. Bahkan hubungan antar komunitas ini juga didukung oleh ikatan relasi antar individu masyarakat. Ini yang kemudian dikatakan sebagai hubungan People-to-People (P2P). Konon hubungan ini cukup progresive yang pada gilirannya memacu hubungan Community-to-Community.
Secara lebih luas formal antar negara ada konsep Government-to-Government (G2G). Maka ada upaya Revitalisasi Koneksi, yaitu hubungan Indonesia-Belanda yang pada era kekinian sedang berjalan pesat dengan fokus pada kemitraan strategis, ekonomi hijau, pendidikan, dan penyelesaian sejarah masa lalu melalui repatriasi benda budaya. Momentum ini diperkuat dengan rencana aksi bersama untuk periode 2026-2029.

Apalagi di Surabaya telah dibuka Erasmus Training Centre Surabaya dan Netwerk Internationale Neerlandistiek in Asie, kantor perwakilan Surabaya. Bahkan secara formal sudah ada Pusat Kebudayaan dan Konsulat Kerajaan Belanda di Surabaya. Adanya Konsul Kehormatan Kerajaan Belanda di Surabaya memang berperan penting dalam memperkuat hubungan politik, ekonomi, dan budaya antara Belanda dan Indonesia, khususnya di Jawa Timur.
Kolaborasi antara Kementerian Kebudayaan kedua negara pun sengaja difokuskan pada pengembalian (repatriasi) benda-benda sejarah dari Belanda ke Indonesia, termasuk koleksi dari Wereldmuseum Rotterdam.
Selain itu, Pemerintah Belanda juga berkomitmen dalam digitalisasi arsip. Hal ini membuka, akses bersama terhadap dokumen sejarah, dan kolaborasi dalam kemitraan film serta warisan budaya. (PAR/nng)
