Budaya, Literasi
Rajapatni.com: SURABAYA – Berdasarkan kamus online Wisdomlib.org telah diketahui makna Śūrabhaya (ꦯꦹꦫꦨꦪ) Vs Surabaya (ꦱꦸꦫꦧꦪ). Pada artikel sebelumnya, telah dibahas makna kata Śūra Vs Sura. Śūra (शूर) adalah berani, pahlawan, tentara, raja dan anak raja. Sedangkan Surā (सुरा) berarti minuman keras.
Berdasarkan kamus online yang sama Wisdomlib.org ditelusuri pula kata Bhaya dan Baya. Dari temuan temuan dalam kamus ini “Bhaya” berarti bahaya, ketakutan dan resiko. Sedangkan “Baya” adalah jenis tanaman dan hewan secara biologi.
Dalam bahasa Jawa Kuna, Baya (atau variannya bwaya, wuhaya, buhaya) berarti buaya. Kata ini merujuk pada hewan predator sungai. Berbeda dengan Bhaya (serapan Sanskerta) yang berarti bahaya. Baya (ꦧꦪ) adalah kata asli Austronesia. Di Jawa Baru, baya sering luluh menjadi baya (buaya) atau bajul.
Berikut hasil penelusuran kata Bhaya Vs Baya dari laman Wisdomlib.org.
1. Bhaya (भय) refers to “fear” and represents a type of Ādhyātmika pain of the mental (mānasa) type.
2. Bhaya (भय) refers to “fear”, according to the Bṛhatsaṃhitā (chapter 4),
3. Bhaya (भय) refers to “fear”, according to the Śivapurāṇa 2.2.35.
4. Bhaya (भय) refers to the “dangers (of saṃsāra)”, according to the Guhyasūtra, the largest book of the Niśvāsa-corpus (a collection of early Śaiva Tantras comprising the Niśvāsamukha, Mūlasūtra, Uttarasūtra, Nayasūtra, and Guhyasūtra).—Accordingly.
5. Bhaya (भय) refers to a “risk” (or ‘fear’)
6. Bhaya (भय) refers to “fear”, according to the Mahābhārata verse 14.19.1-2.—Accordingly.
7. Bhaya (भय) (Cf. Pañcabhaya) refers to “fear”, as mentioned in the 2nd century Mahāprajñāpāramitāśāstra chapter XXXI in the section called “four foundations of mindfulness (smṛtyupasthāna)”, Accordingly.
8. Bhaya (भय, “fear”) refers to one of the “thirteen difficulties”,
9. Bhaya (भय) is
a. Fear, alarm, dread,
b. Fright, terror;
c. danger, risk, hazard;
10. Bhaya (भय) is fear, fearful, dread, anxiety, terror, danger, distress.
Sementara “Baya” berdasarkan kamus online Wisdomlib.org berarti jenis tanaman dan binatang. Dalam bahasa Jawa Kuno, Baya merujuk pada hewan predator sungai, yang disebut Buaya.

Bentuk yang lebih tua dari “Baya (बय)” dalam sastra Jawa Kuno adalah Wuhaya/Buhaya.
Jadi Bhaya Vs Baya adalah Bhaya (bahaya) dan Baya (buaya). Keduanya adalah dua kata yang berbeda. Dalam Konteks Surabaya sesuai sumber aslinya Prasasti Canggu, seharusnya adalah kata Śūrabhaya, yang secara etimologis berarti “berani menghadapi bahaya” dengan sesantinya ‘Śūra ing Bhaya” (Berani menghadapi Bahaya). Bukanlah Surabaya yang berarti “Buaya Mabuk”. Penggunaan kembali sesanti “Śūra ing Bhaya)” akan menyelamatkan kota Pahlawan ini. (PAR/nng)
