Śūrabhaya Tidak Sama Dengan Surabaya. Mengapa? Ini penjelasannya Berdasarkan Kamus Wisdomlib

Budaya

Rajapatni.com: SURABAYA – Penelusuran terhadap makna kata “Surabaya”, yang diduga kuat berasal dari kata Çurabhaya atau Śūrabhaya terus berlanjut sebagai follow up dari temuan sebelumnya.

Berdasarkan sumber yang samahttps://www.wisdomlib.org/definition/ didapati lebih lanjut dan spesifik kata Çura atau Śūra. Ada penulisan dan bahkan pengucapan (bunyi) yang mirip tapi beda. Misalnya Śūra (शूर) yang berarti pahlawan dan kata Surā (सुरा) yang berarti minuman keras.

Kamus luar biasa. Foto: ist

Kamus definisi ini https://www.wisdomlib.org/definition/ memiliki bahasa yang lengkap baik dari tinjauan definisi bahasa bahasa dan agama agama. Pengguna harus tau secara detail kata apa yang mau dicari. Dalam hal ini Puri Aksara Rajapatni mencari kata “Çura” atau “Śūra”. Dalam kamus ini tidak diketemukan huruf “Ç” tetapi padanannya adalah “Ś”

Huruf Ç (C dengan cedilla) tidak ada dalam kamus atau aksara asli India (seperti Devanagari, Bengali, Tamil, dll.) karena beberapa alasan linguistik dan sejarah utama.

Aksara India memiliki sistem fonetik sendiri yang sangat terstruktur. Bunyi /s/ (seperti dalam ça) diwakili oleh huruf-huruf khusus seperti स (sa) atau श (sya) dalam Devanagari, sehingga tidak memerlukan modifikasi huruf ‘C’ untuk menghasilkan bunyi “s” lembut.

Karenanya dalam Kamus itu secara phonetic dan teks yang ditemukan adalah स (sa) atau श (sya). Khususnya kata Śūra (शूर) yang dibaca Syura. Çūrabhaya atau Śūrabhaya dibaca Syurabhaya.

Dari hasil pencarian kata Śūra (शूर) didapatkan beberapa makna yang sama dan serupa. Yakni tentara, pahlawan, pemberani, raja dan anak raja. Misalnya ada definisi sebagai berikut:

1. Śūra (शूर) refers to “heroic (people)”,

2. Śūra (शूर) refers to “one who is heroic”

3. Śūra (शूर) refers to a King in ancient India

4. Sūra (सूर) (lit. “one who is a warrior”)

5. Śūra (शूर) or Śūragaṇa refers to “valient (soldiers)”,

6. Śūra (शूर) refers to a Yādava King

7. Śūra (शूर) refers to a King of the Lunar dynasty.

8. Śūra (शूर) refers to “brave (persons)”,

9. Ada lagi lainnya.

Perbandingan makna antara Śūra (शूर) dan Surā (सुरा). Foto: ist

Sementara Sura dengan bunyi “s” tebal disuarakan Surā (सुरा). Surā ini bermakna minuman keras. Misalnya sebagai berikut:

1. Surā (सुरा):—Indigenous beer beverage prepared from fermented cereals.

2. Surā (सुरा) refers to “drinking wine” which is considered one of the five “great sins” (mahāpātaka),

3. Surā (सुरा) is the principal drinks of the Ṛgvedic Aryans.

4. Surā (सुरा) refers to “liquor”

5. Surā (सुरा) refers to a “type of liquor” (to be consumed during social drinking parties),

6. Surā (सुरा) (Cf. Madirā) refers to “alcoholic drinks”,

7. Ada lagi lainnya.

Mungkin lidah kita tidak membedakan bunyi Śū /Syu/ dan Su /Su/, padahal bunyi itu membedakan makna. Seiring dengan masuknya bangsa Eropa yang membawa huruf latin, huruf Śū yang mestinya dibaca (disuarakan) /Syu/, tetap saja dibaca (disuarakan) /Su/. Ini yang mengakibatkan terjadinya salah makna. Mestinya Śū yang berarti berani, pahlawan, raja menjadi Su yang berarti minuman keras.

Bangsa Eropa (Belanda) tidak mensetarakan bunyi Śū dengan padanannya. Śū dianggap sama dengan Su, maka Śūrabhaya menjadi Surabaya (d/h Soerabaja)

Singkatnya, Ç adalah simbol penanda pelafalan (diakritik) khas Eropa, yang tidak relevan dengan fonologi dan sejarah penulisan bahasa-bahasa di India.

Aksara India berkembang secara mandiri dari akar Sansekerta, bukan dari alfabet Latin atau Latin-Romance tempat “Ç” berasal.

Sistem Aksara Berbeda (Brahmi vs Latin). Bahasa-bahasa di India menggunakan aksara turunan Brahmi (seperti Devanagari untuk Hindi), yang merupakan sistem abugida (konsonan + vokal bawaan). Sementara “Ç” adalah karakter dari aksara Latin yang digunakan dalam bahasa Eropa (Prancis, Turki, Portugis) untuk menandai bunyi /s/ atau /ts/.

Garçon /gar-son/

Français /frang-say/

Façade /fa-sad/

Ini yang akhirnya huruf “Ç” dengan suara /s/ menjadi S seperti “Śūrabhaya” menjadi “Surabaya”.

Nah, jelas sekali bahwa sesungguhnya “Śūrabhaya” berbeda dari “Surabaya”. Pun demikian dengan maknanya. “Śūra” adalah pahlawan pemberani. “Sura” adalah minuman keras. (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *