Rumah Sakit Peninggalan Belanda Jadi Ingatan Kolektif Bangsa.

Sejarah

Rajapatni.com: SURABAYA – Pertempuran Surabaya 10 November 1945 adalah simbol perlawanan gigih rakyat Indonesia di Surabaya dalam melawan kembalinya penjajah (Sekutu/Belanda) pasca-Proklamasi. Dipicu tewasnya Brigjen Mallaby pada 30 Oktober 1945 dan sebelumnya ada insiden Hotel Yamato 19 September 1945, rakyat bersama pejuang yang semangatnya dibakar orasi Bung Tomo, membuktikan kedaulatan bangsa dengan pengorbanan ribuan nyawa.

Rumah Sakit Simpang ketika masih berdiri. Foto: ist

Ada beberapa rumah sakit utama yang digunakan untuk merawat korban pertempuran Surabaya (khususnya 10 November 1945), yaitu Rumah Sakit Simpang (CBZ – Centrale Burgerlijke Ziekenhuis). Ini adalah pusat rujukan utama bagi korban pertempuran yang terletak di pusat kota. Sekarang bekas lahan tersebut menjadi Delta Plaza/Surabaya Plaza) di jalan Pemuda Surabaya.

Ada juga Rumah Sakit Katolik St. Vincentius a Paulo (RKZ). RKZ Surabaya menjadi tempat krusial bagi perawatan korban pertempuran 10 November 1945.

Selain itu ada pula Rumah Sakit Marinir (sekarang RSUD Dr. Soetomo). Rumah Sakit ini sempat dikuasai Jepang dan Belanda, yang selanjutnya menjadi tempat perawatan vital, terutama setelah peralihan kekuasaan.

Tidak ketinggalan RS Darmo. RS yang juga tercatat sebagai salah satu bangunan bersejarah yang juga berperan pada masa-masa tersebut.

Semua Rumah Sakit itu adalah rumah sakit dengan bangunan yang sudah ada di era Kolonial. Dari empat Rumah Sakit itu, satu yang sudah hilang, yaitu Rumah Sakit Simpang. Lainnya seperti Rumah Sakit Karang Menjangan, RS Darmo dan RKZ serta Rumah Sakit Vincentius a Paulo (RKZ, masih ada.

Suasana dalam RS Simpang. Foto: ist

Pada saat pertempuran memuncak pada 10 November 1945, banyaknya korban menyebabkan rumah sakit-rumah sakit tersebut membludak, dan akibatnya banyak juga korban terpaksa dievakuasi hingga ke luar kota seperti Mojokerto.

Pertempuran Surabaya ini adalah perang pertama pasukan Indonesia melawan pasukan Sekutu setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan satu pertempuran terbesar dan terberat dalam sejarah Revolusi Nasional Indonesia, yang menjadi simbol nasional atas perlawanan Indonesia terhadap kolonialisme dan Imperialisme. Presiden Soekarno pun menjadikan peristiwa perang Surabaya sebagai latar belakang historis peringatan Hari Pahlawan Nasional yang diperingati setiap 10 November.

Nama Sepuluh November selanjutnya diabadikan menjadi nama Museum, nama Taman Makam Pahlawan dan nama Universitas ITS Surabaya. Ini semua sebagai upaya menjaga ingatan aka peristiwa penting bangsa Indonesia.

Ini adalah upaya strategis dalam merawat ingatan kolektif bangsa atas pertempuran heroik Surabaya tahun 1945. Langkah ini juga sebagai upaya melestarikan nilai perjuangan melawan sekutu demi menjaga kedaulatan NKRI. (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *