Budaya
Rajapatni.com: SURABAYA – Secara filosofi makna urutan Aksara Jawa dari Ha hingga Nga adalah sebuah narasi kosmologis mengenai kehidupan manusia, hubungan dengan pencipta, dan akhir hidup.
Masing masing Aksaranya menyimpan maksa. Berbeda dari aksara Latin, dimana aksara baru bisa bermakna bila huruf huruf (aksara)itu dirangkai menjadi kata, frasa dan bahkan kalimat.

Dalam Aksara Jawa, setiap hurufnya (aksara) secara mandiri memiliki makna, apalagi dirangkai menjadi kata dan bahkan kalimat. Aksara Jawa (Hanacaraka) bukan sekadar sistem tulisan, melainkan sarat akan nilai spiritual, historis, dan filosofi mendalam yang mencerminkan pandangan hidup orang Jawa.
Long Life Education
Dalam pandangan hidup secara umum, aksara Jawa ini adalah konsep long life education (pembelajaran seumur hidup) yang sudah dimulai dari Pra Natal (sebelum kelahiran) – Natal – Post Natal (setelah kelahiran atau kematian).
Long life education (pendidikan seumur hidup) adalah konsep pembelajaran berkelanjutan yang berlangsung sepanjang hidup, dari sebelum kelahiran, lahir hingga akhir hayat, tanpa batasan usia maupun tempat. Tujuannya adalah mengembangkan potensi manusia secara menyeluruh, meningkatkan kualitas hidup, serta beradaptasi dengan perubahan zaman, baik melalui pendidikan formal, non-formal, maupun informal.
Tembang Macapat

Konsep long life education ini sudah juga tercermin pada tembang tembang Macapat. Ada 11 tembang macapat yang menggambarkan filosofi siklus hidup manusia dari dalam kandungan hingga meninggal dunia. Urutannya adalah itu adalah: Maskumambang, Mijil, Sinom, Kinanti, Asmaradana, Gambuh, Dhandhanggula, Durma, Pangkur, Megatruh, dan Pocung (Pucung). Tembang ini mengajarkan nilai moral di setiap tahapan kehidupan.
Maskumambang adalah salah satu jenis tembang macapat (puisi tradisional Jawa) yang melambangkan tahap paling awal kehidupan manusia, yaitu saat masih berada di dalam rahim ibu.
Pucung adalah urutan terakhir dalam tembang Macapat (puisi Jawa tradisional), yang menggambarkan tahapan akhir kehidupan manusia (kematian/dibungkus kain kafan).
Diantaranya adalah Asmaradana (atau Asmarandana) yang bertemakan cinta kasih, asmara, dan kerinduan, sering kali menggambarkan api asmara yang menyala.
Semua tembang tembang itu adalah wujud rangkaian huruf yang menjadi kata lalu dari rangkaian kata membentuk kalimat. Kemudian kalimat kalimat dalam sajak itu membentuk cerita yang sangat bermakna.
Itulah Aksara Jawa yang mulai dari aksara secara mandiri Sudak menyimpan makna. Apalagi kalau dirangkai menjadi kata dan kalimat lalu membentuk alinea dalam untaian puisi. (PAR/nng)
