Budaya
Rajapatni.com: SURABAYA – Jika di Surabaya ada, mengapa pergi ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII) di Jakarta atau ke Batu untuk nuansa segar dan alami?
Memang, Surabaya adalah kota dataran rendah dengan cuaca panas. Sementara Batu menawarkan kontras total yang dicari banyak wisatawan. Yaitu sejuk.
Sedangkan TMII adalah satu-satunya tempat di mana pengunjung bisa melihat replika rumah adat dengan ukuran 1 : 1 dari seluruh provinsi di Indonesia dalam satu area besar.
Di Surabaya ada Taman Bhinneka, yang ukurannya jauh lebih kecil, tapi justru menawarkan keakraban dan kedekatan antar sesama pengunjung karena lebih mudah dalam berinteraksi sosial maupun budaya.
“Di sini ada kesempatan bisa saling berinteraksi antar sesama pengunjung karena lingkupnya kecil dan antar wahana saling berdampingan, misalnya wahana Pustaka Rumah Ibadah”,
demikian jelas Mama Hanna, perempuan 80-an tahun sebagai pembina Yayasan Pondok Kasih, yang mengelola Taman Bhinneka di Keputih Surabaya ini.

Wahana rekreasi Taman Bhinneka ini merupakan destinasi wisata edukasi baru di ujung Timur Surabaya (Keputih), yang menawarkan replika rumah adat dari seluruh Indonesia dan miniatur rumah ibadah. Resmi dibuka pada Mei 2025, taman ini mengusung konsep kebangsaan, toleransi, dan spot foto yang estetik dengan harga tiket masuk terjangkau.

“Awalnya lahan ini berupa alang alang dan semak belukar, yang tidak dilirik orang, sekarang berubah menjadi wahana edukasi yang universal. Artinya pengunjung dari manapun dengan berlatar kebangsaan dan kesukuan dapat mempelajari nilai Indonesia yang berbhineka”, jelas Mama Hanna.
Pada suatu hari ketika berkunjung ke tempat ini, banyak pengunjung dari latar belakang etnis, agama dan suku berkumpul di tempat ini. Kebhinekaan tampak tidak hanya dari wahananya tetapi dari pengunjung juga semakin mempertegas keberadaan kebhinekaan.
Ketika Taman Bhinneka ini menawarkan nilai nilai keberagaman, hal ini sekaligus mempertegas keberadaan Surabaya yang secara historis dan kultural juga sudah menjadi rumah keberagaman sejak dulu.

Taman ini bertindak sebagai simbol kontemporer yang menegaskan kembali identitas Surabaya, tidak hanya sebagai kota pahlawan, tetapi juga sebagai melting pot budaya.
Taman Bhinneka menyuguhkan anjungan nusantara yang menampilkan replika rumah adat dari berbagai daerah serta tujuh miniatur rumah ibadah (Masjid, Gereja Kristen, Katolik, Pura, Vihara, Klenteng, dan Aliran Kepercayaan) yang berdiri berdampingan sebagai pustaka rumah ibadah. Hal ini mempertegas semangat kerukunan umat beragama yang sudah lama terjalin di Surabaya.
Secara historis, Surabaya telah lama menjadi pelabuhan dagang penting sejak zaman Majapahit dan berkembang menjadi pusat pertemuan berbagai kebudayaan (Eropa, Cina, Arab, dan Nusantara). Konsep Taman Bhinneka merefleksikan nilai-nilai sejarah tersebut dalam bentuk edukasi modern.

Taman, yang berlokasi di Keputih ini, bertujuan mengenalkan budaya Indonesia kepada generasi muda, menanamkan toleransi, serta mendukung pelaku UMKM lokal, menjadikannya langkah nyata merawat keberagaman di tengah masyarakat.
Taman Bhinneka menjadi wadah fisik yang memperkuat narasi bahwa Surabaya adalah kota yang inklusif dan harmonis dalam kemajemukan. Karenanya wahana baru di Surabaya ini layak menjadi jujugan dalam berlibur lebaran. (PAR/nng)
