Pohon Kelapa, Blarak & Kamboja Dalam Kenangan Mudik Lebaran 1970-an.

Sejarah

Rajapatni.com: SURABAYA – Pernah mengalami masa kecil. Pada masa liburan lebaran, orang tua selalu mengajak pergi ke luar kota, ke Tulungagung. Kala itu masih di usia TK dan SD serta SMP di tahun 1970 an hingga 1980 an. Pergi pulang naik kereta api, yang jarak stasiun Surabaya Kota dari rumah kerap ditempuh dengan berjalan kaki. Berangkat pagi setelah subuh sekitar pukul 5 pagi dan sampai di stasiun kereta api Tulungagung sekitar pukul 09.30. Jarak tempuh nya sekitar 4 sampai 5 jam. Keretana masih berteknologi tenaga uap.

 

Kereta Uap dan Bus Sri Lestari

Loko kereta api uap, sejenis yang pernah membawa ke luar kota. Foto: ist

Selain naik kereta api, kadang kadang juga naik bus jika Pak De berada di Surabaya. Pak De tinggal di Tulungagung dan pekerjaannya adalah sopir Bus. Perusahaan Otonya (PO) bernama Sri Lestari dengan mesin berada di depan. Sehingga bus punya moncong di depan sopir. Kami sekeluarga selalu duduk di belakang sopir sehingga selama perjalanan kami selalu saling bercakap cakap. Pak De selalu bercerita kepada saya. Saya pun sering bertanya kepada Pak De.

Bus Sri Lestari yang pernah berbentuk seperti ini. Foto: ist

Di Tulungagung kami berhenti di tepi jalan yang langsung menuju ke Desa. Namanya Desa Sembung dan kadang ke Desa Mangunsari. Pakde tinggal di Mangunsari. Sedangkan desanya Bapak ada di Desa Sembung. Jarak antara desa Mangunsari dan Sembung tidak terlalu jauh. Kadang kami berjalan kaki dari satu desa ke desa lainnya, melewati lahan kuburan desa.

 

Pohon Kelapa

Ketika berjalan saya mengamati bahwa setiap rumah memiliki halaman luas dan berpagar tembok yang membatasi dengan jalan desa. Di halaman umumnya terdapat pohon kelapa.

Pemandangan alam pedesaan yang pernah kulihat. Foto: ist

Saya ingat saya pernah bertanya kepada Bapak (alm).

“Pak, kok mesti ana wit klopo?”. Tanyaku.

Bapak menjawab bahwa pohon kelapa di halaman rumah di pedesaan umumnya melambangkan pohon kehidupan atau pohon seribu manfaat karena seluruh bagian pohon, mulai dari akar, batang, daun, hingga buahnya dapat dimanfaatkan untuk menopang kehidupan sehari-hari.

 

Blarak

Kini setengah abad lebih telah berlalu. Saya mendengar lagi kata yang menjadi bagian dari pohon kelapa yang kebetulan disebut oleh seorang kawan yang berada di Bali dan menjelaskan bahwa bahan obor yang dibakar sebagai bagian dari tradisi ngerupak di Bali. Yaitu Blarak.

Blarak untuk obor tradisi ngerupak. Foto: IS

“Blarak, duh kata yang sudah jarang diucapkan”, katanya sambil mengikuti tradisi ngerupak di desa Gelgel, Klungkung, Bali.

Saat itu spontan saya pun ingat Bu De di desa Sembung (kakaknya Bapak) yang sering mengumpulkan daun kelapa kering yang kemudian diambil lidinya untuk sapu halaman rumah.

 

Kamboja

Pohon Kamboja rang rindang di depan rumah. Foto: ist

Sementara di Desa Mangunsari dimana di depan rumah Pakde ada pohon Kamboja. Bunga kamboja atau jepun di Bali merupakan simbol kesucian, ketulusan, dan penghormatan kepada Dewa Siwa serta para leluhur dalam agama Hindu.

Bunga beraneka warna. Foto: IS

Bunga ini adalah “sari alam” yang sering digunakan dalam sarana sembahyang, sesajen, perhiasan telinga, dan penanda tempat suci, melambangkan kebaikan, keindahan, dan pencerahan. Beberapa untaian bunga atas kiriman kawan dari Bali mengingatkan saya akan pohon Kamboja yang pernah tumbuh di halaman rumah Pakde di Desa Mangunsari.

Kala itu ketika saya berkunjung ke rumah itu, saya sering naik pohon Kamboja itu karena pohonnya yang rindang dan memiliki banyak cabang yang mudah dipanjat.

Sekarang semua itu tinggal kenangan. Kedua orang tua sudah tiada. Tradisi mudik dengan kereta uap dan bus Sri Lestari juga sudah tinggal cerita. Tidak ada lagi momen mudik seindah bersama orang tua. Mudik tinggal cerita indah yang tak mungkin berulang. Perayaan Hari Raya dengan tradisi mudik sudah tidak seperti dulu lagi.

Sejarah tradisi Lebaran di Indonesia mencerminkan perjalanan panjang akulturasi antara nilai-nilai Islam dan kearifan lokal Nusantara. Dari masa penyebaran Islam hingga era digital saat ini, tradisi Lebaran terus berkembang namun tetap mempertahankan esensinya sebagai momen spiritual, sosial, dan kultural yang penting bagi bangsa Indonesia. (PAR/nng).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *