Budaya, Sejarah
Rajapatni.com: SURABAYA – Di bulan April ini ada hari besar yang berkaitan dengan nilai emansipasi wanita. Hari itu dikenal dengan Hari Kartini, yang jatuh pada 21 April.
A month to go (dari tanggal 19 Maret ini). Bangsa Indonesia diingatkan pada peran wanita Indonesia yang berasal dari Rembang, Jawa Tengah. Yaitu Raden Ajeng Kartini.
Kelahiran R.A. Kartini pada 21 April 1879 diperingati sebagai Hari Kartini untuk menghormati jasanya sebagai pelopor emansipasi wanita, kesetaraan gender, dan hak pendidikan bagi perempuan Indonesia. Peringatan ini ditetapkan oleh Presiden Soekarno melalui Kepres No. 108 Tahun 1964, mengakui Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional yang berjuang melawan ketidakadilan adat dan sosial.
Gayatri Rajapatni

Sesungguhnya jauh sebelum Kartini ada di abad 19, di tanah Jawa ini sudah ada seorang perempuan perkasa tapi lembut hatinya bagai Princess Warrior. Yaitu Gayatri Rajapatni.
Gayatri Rajapatni hidup sekitar tahun 1276–1350 Masehi. Ia adalah putri bungsu Raja Kertanegara (Singhasari) dan istri dari Raden Wijaya, pendiri Majapahit (1293-1309). Sebagai tokoh intelektual dan “ibu” kerajaan Majapahit, ia berperan besar di balik layar hingga wafat pada 1350 dan diperingati oleh Hayam Wuruk pada 1362.
Gayatri Rajapatni adalah sosok kunci di balik layar Majapahit, bertindak sebagai penasihat politik utama, penjamin stabilitas kerajaan, dan mentor bagi Raja Tribhuwana Tunggadewi. Sebagai permaisuri Raden Wijaya, ia berperan sebagai Ibu Suri yang mengarahkan kebijakan istana dan memfasilitasi kebangkitan Gajah Mada.
Kita boleh ingat peran wanita di masa kolonial, R.A. Kartini. Tapi kita tidak boleh melupakan peran wanita di masa Nusantara bisa menjadi Jaya. Nusantara itu telah menjelma menjadi Indonesia sekarang .
Mengingat peran wanita di masa kolonial (seperti Kartini, Cut Nyak Dien, Dewi Sartika) adalah bentuk penghormatan pada perjuangan emansipasi dan kemerdekaan. Namun, menengok ke belakang, jauh sebelum penjajahan, wanita Nusantara memiliki peran pemimpin, penggerak, dan penentu kebijakan yang membuat Nusantara jaya dan dihormati di mata dunia.
Gayatri Rajapatni dianggap luar biasa karena ia adalah sosok ibu suri dan “otak” di balik kejayaan Majapahit yang pengaruh politiknya sangat besar, meskipun secara formal ia memilih menjadi biksuni.
Ratu Tanpa Mahkota
Gayatri Rajapatni adalah putri bungsu Raja Kertanegara (Singasari) dan istri utama Raden Wijaya (pendiri Majapahit) yang menjadi sosok kunci di balik kejayaan Majapahit. Ia dijuluki “ratu tak bermahkota” karena ia memilih menjadi bhiksuni dan mentor politik daripada naik takhta, ia menginisiasi Sumpah Palapa Gajah Mada dan mendidik Tribhuwana Tunggadewi, Raja perempuan berikutnya di Kerajaan Majapahit adalah Dyah Suhita.
Dalam skala dunia, ada nama Cleopatra VII, Ratu Mesir Kuno yang terkenal karena kecerdasan dan keterlibatannya dalam politik Romawi. Juga ada nama Ratu Elizabeth II (Inggris), penguasa perempuan paling lama memerintah di dunia, memimpin selama lebih dari 70 tahun.
Untuk Indonesia masa sekarang, setidaknya ada semangat perempuan perkasa seperti Rajapatni, Elizabeth II, Cleopatra VII dan Raden Ajeng Kartini. Itulah Princess Warrior. (PAR/nng)
