Mengingat Kembali Materi “Urban Heritage Study” dari Belanda 2023. 

Sejarah Heritage

Rajapatni.com: SURABAYA – Sebuah kelas global di Erasmus University Rotterdam, Belanda pada 2023 berkesempatan memberikan materi khusus Urban Heritage, khususnya dalam mengikuti dan mengamati perkembangan kota yang membawa dampak perubahan. Tak terkecuali dampak perubahan pada aset yang bernilai warisan budaya.

Masalah warisan budaya adalah persoalan global karena adanya arus globalisasi, modernisasi, dan urbanisasi yang cepat sehingga mengancam keberlangsungan tradisi lokal akibat dominasi budaya asing dan gaya hidup modern. Tidak hanya di Surabaya saja. Tetapi juga di dunia lainnya. Karenanya, dalam kelas global di Erasmus University di kota Rotterdam pada 2023, mahasiswanya berasal dari 20 negara. Salah satunya Indonesia, yang pesertanya dari kota Surabaya.

Peserta World’s Urban Heritage Study di Erasmus University Rotterdam pada 2023. Foto: kol pribadi

Kelas ini menjadi tempat belajar mengenai warisan budaya yang sangat baik. Case study nya mengambil object di kota tua dari era Romawi. Namanya kota Nijmegen. Nijmegen adalah sebuah kota Belanda yang terletak di provinsi Gelderland, dekat perbatasan dengan Jerman.

Di tempat inilah mahasiswa dari 20 negara dalam program Urban Heritage Study, bersama kota setempat, Stad van Nijmegen, mengkaji potensi perkembangan kota pada situs situs budaya peninggalan Romawi.

Di sana ada komplek perindustrian tua yang berjajar di tepi sungai Waal, yang dalam perkembangan kota akan ikut berubah, tetapi diharapkan perubahan itu akan adaptive. Sehingga muncul pakem Adaptive Reuse.

Kota tua Nijmegen dengan sungai Waalnya. Foto: ist

Adaptive reuse adalah strategi desain arsitektur yang mengubah fungsi bangunan tua, bersejarah, atau terbengkalai menjadi fungsi baru yang modern dan berguna, tanpa menghancurkan struktur aslinya. Konsep ini bertujuan melestarikan warisan budaya (heritage), mengurangi limbah konstruksi, serta meningkatkan nilai ekonomi bangunan.

Dalam diskusi antar peserta dari berbagai negara ini, para peserta berada pada koridor yang sama dalam membuat desain sebagai bentuk rekomendasi kepada pemerintah kota Nijmegen.

Dari beberapa kelompok diskusi, setiap hasil diskusi yang berupa rekomendasi itu, tidak satupun usulan yang membongkar bangunan asal dan asli, tetapi lebih ke pemanfaatan yang sesuai dengan kebutuhan zaman tanpa harus merusak.

Pemahaman adaptive Reuse ini menjadi nilai universal, yang siapapun orangnya dari negara manapun, terbingkai dalam pemahaman yang sama.

Surabaya dalam kaitan negara peserta dalam Urban Heritage Study (UHS) di Erasmus University Rotterdam dianggap sebagai kota global yang menyimpan banyak warisan cagar budaya.

Kota Lama Surabaya sebetulnya jejak kota global dari era kolonial. Kini Kota Lama Surabaya dikembangkan sebagai kawasan wisata sejarah Surabaya. Pada 18 April 2026 mendatang akan diperingati Hari Warisan Budaya Internasional (International Heritage Day), apa yang Surabaya bisa lakukan dalam memaknai hari itu? (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *