Kalau bukan kita siapa lagi ! Kalau bukan sekarang, kapan lagi!

Budaya Literasi

Rajapatni.com: SURABAYA – Kalimat itu adalah kalimat yang mengandung ajakan, yang sekaligus menekankan tanggung jawab pribadi dan inisiatif untuk bertindak. Artinya, kita tidak boleh mengandalkan orang lain untuk menyelesaikan suatu masalah atau mencapai tujuan, melainkan harus memulainya dari diri sendiri sekarang juga dengan menggunakan berbagai cara sesuai kemampuan. Seringkali kalimat itu diikuti dengan “…kalau bukan sekarang, kapan lagi!”. 

Ajakan ini adalah ajakan dalam pelestarian tradisi literasi penggunaan Aksara Jawa. Pengenalan kembali penggunaan Aksara Jawa di Surabaya secara publik mulai pada September 2023, yang kemudian secara nyata diwujudkan dalam bentuk penulisan Aksara Jawa di kantor kantor Pemerintah Kota Surabaya mulai dari kantor kelurahan, kecamatan, OPD, Balai Kota Surabaya termasuk DPRD Surabaya.

Sekarang di lingkungan pemerintah kota Surabaya telah ber signage Aksara Jawa. Tapi itu belum cukup. Perlu ada gerakan aktif yang berupa pembelajaran (Sinau).

 

Langka

Pembelajaran aksara Jawa di Surabaya ini masih terlalu langka. Jangankan bagi masyarakat umum, bagi pemangku terkait pun, pengajaran aksara Jawa masih dipandang “miring”. Padahal pengajaran gratis oleh relawan ini mendukung kebijakan Walikota Surabaya, yang sudah diperkenalkan dan diaplikasikan sejak 2023.

Di sebuah museum di kota Surabaya, yang koleksinya mengenalkan/memamerkan koleksi aksara (pasif), juga menjadi haral lintang dalam upaya pemajuan aksara Jawa secara aktif di Surabaya.

Surabaya sebagai kota besar dan modern ternyata mampu mengenalkan dan memakai aksara Jawa di tengah tengah modernisasi. Ini bukan sesuatu yang mengherankan sebenarnya karena secara tradisional aksara Jawa ini sudah dipakai di Surabaya pada masa lalu. Contohnya ada bukti arkeologis di lingkungan wisata religi Sunan Ampel, Masjid Kemayoran dan komplek makam para bupati Surabaya di Sentono Agung Botoputih Pegirian Surabaya. Belum lagi iklan iklan produk barang pada masa itu. Tulisannya beraksara Jawa.

Produk barang beraksara Jawa. Foto: tepe

Itu semua adalah fakta sejarah dan budaya di Surabaya. Sekarang ada sekelompok kecil warga dalam sebuah entitas budaya yang dengan sukarela mengenalkan aksara daerah ini meski harus membayar HTM untuk peserta (menanggung HTM) untuk masuk ke museum itu, tetapi pihak terkait “bertepuk sebelah tangan”.

Penggunaan Aksara Jawa umum di masa lalu. Foto: tepe

“Bertepuk sebelah tangan” adalah peribahasa yang menggambarkan situasi cinta tak berbalas, di mana seseorang mencintai atau menyukai orang lain, namun perasaan tersebut tidak ditanggapi, dihargai, atau dibalas dengan intensitas yang sama.

Unik iklan beraksara asli Nusantara. Foto: tepe.

Peribahasa di atas adalah fakta. Fakta ini patut mendapat perhatian dari Walikota Surabaya karena kegiatan edukasi relawan ini bersifat dukungan terhadap program walikota, termasuk meramaikan museum.

 

Menteri Kebudayaan: Inklusif dan Kolaboratif

Museum arah baru memang mengusung pendekatan kolaboratif, menghubungkan berbagai pihak seperti kurator, komunitas, lembaga internasional, dan pemerintah (seperti Indonesian Heritage Agency) untuk re imajinasi museum sebagai ruang inklusif, interaktif, dan modern. Kolaborasi ini bertujuan memperkaya perspektif sejarah dan meningkatkan relevansi museum bagi generasi muda.

Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon dalam kunjungan ke Museum Mpu Tantular pada Sabtu (21/2/26) pun menyampaikan pesan tersebut di Museum Mpu Tantular dalam kunjungannya ke Jawa Timur. (PAR/nng)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *