Warung Kopi Ruang Diskusi Yang Nyaman.

Budaya

Rajapatni.com: SURABAYA – Indonesia dikenal kaya akan kopi. Bahkan Indonesia adalah negara penghasil kopi terbesar nomor empat setelah Brasil, Vietnam, dan Kolombia. Varietas biji kopinya beragam mulai dari Arabika Gayo, Robusta Lampung, Toraja, dan secara regional dari Jawa Timur ada Arabika Ijen Raung (Bondowoso, Banyuwangi), Arabika Argopuro (Situbondo, Probolinggo) dengan rasa buah tropis manis dan madu, serta Robusta Jember yang unik dengan rasa pahit dominan plus asam. Selain itu ada juga Robusta Dampit (Malang) yang terkenal, Kopi Raung Blue Mountain, dan Liberika Jember.

Indonesia penghasil kopi urutan keempat dunia. Foto: ist

Tidak mengherankan jika di Jawa Timur ini terdapat pabrik kopi dalam berbagai kemasan SASET yang melimpah. Ada Kapal Api, Kopi Tubruk Gadjah, Top Coffee, Kopi ABC, Caffino, Brontoseno, dan produk lokal serta UMKM lainnya.

Kopi ini sungguh melalui jaringan yang berantai. Bermula dari perkebunan (hulu) – pengolahan (pabrikan) kopi – distribusi dan akhirnya di penjualan (hilir) seperti kedai, cafe dan warung, dalam bentuk secangkir kopi.

Kopi dari hulu hingga hilir. Foto: ist

Tidak mengherankan jika pada akhirnya hadir budaya ngopi. Kopi menyatu dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari tradisi di pedesaan hingga kedai kopi di daerah urban yang modern. Ini semua mencerminkan sejarah dan budaya lokal. Bahkan kopi sudah digemari lintas gender.

Gresik adalah contoh daerah yang terkenal dengan warung kopinya yang khas, sehingga sering dijuluki “Kota Seribu Warkop”. Julukan ini karena menjamurnya warung kopi, yang secara sosial dan kultural mampu menyatukan berbagai kalangan, menawarkan kopi unik seperti Kopi Kopyok (dicampur kelapa) dan Kopi Kasar Saring, serta menjadi tempat nongkrong akrab dengan gorengan dan cemilan lokal, yang tentu berbeda dari kafe modern.

Warung kopi menjadi tempat yang nyaman untuk diskusi dan sosialisasi. Foto: ist

Ngopi telah menjadi tradisi, yang mengakar kuat di Gresik, Surabaya, Malang, Jember, Banyuwangi dan tempat tempat lain di Indonesia.Tradisi ini berkembang dari kebiasaan sehari-hari menjadi ritual sosial, budaya, dan bahkan ekonomi, yang menyatukan orang melalui diskusi, memperkuat hubungan sosial, dan menjadi bagian dari identitas lokal maupun gaya hidup modern: dari warung kopi sederhana hingga kafe kekinian. Bahkan warung kopi sederhana bergaya ala modern.

Modernitas ini ditandai dengan layanan yang sebetulnya di luar cita rasa kopi, tapi sangat berpengaruh. Yaitu adanya layanan free wifi, yang layanan ini menjadi bagian dari promosi warung yang tertulis pada banner banner warung.

Warung kopi tidak ada wifi akan tertinggal. Foto: ist

Penjaja warung pun bukan umumnya ibu ibu seperti dahulu kala, tetapi anak anak muda dengan gayanya yang keren. Layanan free wifi adalah umum dan pengunjung justru mencari warung dan kedai yang berwifi. Layanan wifi mampu membuat pengunjung berlama lama sambil ditemani kopi. Terkadang seorang pengunjung bisa memesan sampai dua cangkir kopi.

Akhirnya kopi bisa terbalut dalam satu kesatuan dengan wifi dan gaya hidup, yang akhirnya menjadi tradisi baru. Ini menggambarkan bagaimana kopi, Wi-Fi, dan gaya hidup telah menyatu secara halus untuk menciptakan tradisi sosial baru baik di pedesaan maupun di perkotaan.

Akhirnya warung dan kedai kopi menjadi ajang diskusi dan sosialisasi karena warung kopi (warkop) secara tradisional telah lama berfungsi sebagai ruang publik informal tempat dimana berbagai kalangan bertemu, bertukar informasi, berdiskusi isu sosial/politik, bahkan menjadi pusat informasi komunitas dan wadah sosialisasi lintas generasi, yang melampaui dari sekedar tempat minum kopi. Kenyamanan semakin ditunjang dengan berbagai fasilitas yang ada.

Bahkan warung kopi menjadi ajang bisnis yang menggeliat. Di Surabaya telah bermunculan jaringan bisnis kopi seperti Warkop Bening, Warkop Togar, Warkop STK, Kofibrik, Warkop Pitikur dan masih banyak lainnya. (PAR/nng)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *