Seni Budaya
Rajapatni.com: SURABAYA – Bergiatlah demi pemajuan kebudayaan. Mendorong pemajuan kebudayaan adalah hal yang penting. Ada banyak cara untuk berkontribusi, baik secara individu maupun kolektif.
Mengapresiasi dan mempelajari budaya lokal seperti memahami nilai-nilai, tradisi, seni, dan sejarah budaya sendiri adalah fondasi untuk melestarikannya. Ini bisa dilakukan dengan mengunjungi museum, situs sejarah, atau menghadiri acara budaya lokal.
Termasuk mendukung seniman dan pelaku budaya. Membeli karya seni lokal, menonton pertunjukan, atau mendukung inisiatif budaya setempat secara langsung akan berkontribusi pada keberlanjutan ekonomi sektor kebudayaan.
Tidak ketinggalan melestarikan bahasa dan aksara daerah. Yaitu menggunakan dan mengajarkan bahasa dan aksara daerah kepada generasi muda untuk membantu mencegah kepunahan bahasa dan aksara demi menjaga identitas budaya yang terkait.
Mendukung seniman dan pelaku budaya. Di kota Surabaya banyak tersimpan pelaku pelaku seni yang beragam bidangnya. Salah satunya adalah seniman gambar, sketcher. Ada nama nama sketcher tersohor di Surabaya. Diantara mereka adalah mereka yang telah menorehkan karya di lingkungan museum dan taman Tugu Pahlawan Surabaya. Yakni Budi Irawan dan Edy Marga. Sekarang mereka sedang memamerkan karya karyanya di hotel Quds di jalan Kyai Haji Mas Mansyur, di kawasan religi Ampel.

Edy Marga lebih fokus pada gambar gambar yang bertema kejuangan dan Kepahlawanan. Sementara Budi Irawan lebih membidik tema tema sosial dan budaya. Budi sudah memvisualkan kondisi perkampungan Peneleh dan dalam sebuah proses membingkai Kota Lama Surabaya.

Tampilan Kota Lama Surabaya sudah umum dibingkai dalam karya karya fotography. Namun keindahan sosial budayanya masihlah jarang. Dulu pernah ada skecher dari Australia, Tony Rafty. Lebih dari satu abad yang lalu, 1923, ada nama Hendrik Petrus Berlage, yang kemudian di publish dalam catatan “Mijn Indische Reis”.

Semua karya karya mereka, Tony Rafty dan HP. Berlage belumlah menyeluruh. Kini Budi Irawan terpanggil untuk melengkapinya. Terlalu sayang jika keindahan Kota Lama Surabaya tidak dituangkan dalam kuas. Mengapa kuas?
Fotografi dan Sketsa

Ada perbedaan antara photography dan sketsa. Perbedaan utama antara fotografi dan sketsa sebetulnya terletak pada media, proses, dan sifatnya. Fotografi adalah seni melukis dengan cahaya yang menangkap momen nyata secara instan dan objektif dan sering kali bisa dire-produksi massal.
Sementara sketsa adalah pra-rancangan atau gambar kasar menggunakan media garis (pensil, tinta, cat air) untuk eksplorasi ide, emosi, atau studi detail, bersifat unik, dan fokus pada interpretasi seniman daripada representasi persis seperti aslinya.

Contoh yang membedakan dalam proses Fotografi dan Sketsa. Dalam fotography, Anda memotret gedung tua di pagi hari. Hasilnya adalah bangunan itu, dengan orang-orang berlalu lalang sesuai momen, dan Anda bisa mencetak foto itu ratusan kali dengan hasil sama.
Sementara sketsa, dimana Anda duduk berjam-jam menggambar gedung yang sama. Anda bisa menghilangkan orang-orang, mengubah sudut, atau menambahkan detail yang tidak ada di foto, karena Anda fokus pada interpretasi dan ide Anda sendiri dalam menambahkan dan mengurangi lingkungan Object.
Dalam Sketsa ada pengembangan ide, mengeksplorasi bentuk, pelibatan emosi, atau persiapan gambar akhir. Pengalaman ini yang dialami Budi ketika mengekspresikan wajah Kota Lama Surabaya.
Sehingga pada dasarnya, fotografi menangkap “apa yang ada” dengan cahaya. Sementara sketsa menciptakan “apa yang dirasakan” atau “apa yang direncanakan” melalui garis.
Budi Bernafas Dalam Sketsa

Karena itulah karya karya sketsa Budi Irawan menjadi vokal dalam gagasan penerbitan buku sketsa kota Lama Surabaya sebagai upaya menghidupkan emosi sosial dan kultural di balik gedung gedung kolonial, yang menjadi guratan sejarah kota Surabaya. Gagasan buku album sketsa kota lama Surabaya ini mendapat apresiasi sejumlah seniman dan antusias Luar Negeri, yang berharap bisa melihat karya sketsa kota lama Surabaya ini.

“Ada nuansa sosial dan budaya di antara ruang dan celah gedung gedung tua di Kota Lama Surabaya. Ada pedagang rujak, ada tukang becak dan ada lagi lainnya”, jelas Budi. (PAR/nng).
