Rombongan Mahasiswa Jerman Belajar Sisi Lain Sejarah Surabaya Dari Kalimas dan Kali Londo.

Budaya

Rajapatni.com: SURABAYA – Dua belas mahasiswa dan satu dosen pembimbing dari Universitas Marburg (Philipps-Universität Marburg) Jerman datang dan belajar tentang Surabaya. Dalam setahun universitas ini datang ke Indonesia, termasuk mengunjungi Surabaya.

Tahun ini (2025) mereka datang di Bulan Maret dan Agustus. Kali ini kedatangan mereka menjajal wahana wisata alam Mangrove Wonorejo, setelah dari Pelabuhan Rakyat (Pelra) Kalimas, Ampel, Pasar ikan Pabean dan Toko perkulakan rempah rempah di jalan Panggung.

Mengenal Pelabuhan Rakyat Kalimas yang selalu sibuk. Foto: nng

“Today’s trip was OK and we had another sight in Surabaya, which was a nature” (Perjalanan hari ini baik dan kami mendapat pemandangan lain di Surabaya, yakni alam), terang Markus Hassler sang dosen pembimbing di penghujung perjalanan ketika kembali ke hotel.

Selama ini rombongan mahasiswa, yang dibawa Markus Hassler ke Surabaya telah mengunjungi Toko rempah rempah di kawasan Kampung Melayu, Pasar Ikan Pabean dan Masjid Ampel. Baru kali ini ada perpanjangan jam kunjung di Surabaya dengan mengunjungi Pelabuhan Rakyat Kalimas dan Wisata Alam Mangrove Wonorejo.

Kunjungan ke Wisata Alam Mangrove Wonorejo ini terjadwal di sore hari dengan harapan bisa melihat turunnya matahari sehingga ada kilau sinar matahari di atas Kali Londo yang eksotik. Waktu sore tidak terlalu panas.

Menyusuri Kali Londo dengan perahu motor di hutan Mangrove Wonorejo. Markus (kiri depan) dosen pembimbing yang sekaligus tour leader. Foto: nng

Kunjungan hari ini, Kamis (28/8/25), sangat pas dengan adanya musim migrasi burung burung dari Utara ke Selatan karena di Utara masuk musim dingin dan kawanan burung berpindah ke selatan untuk mencari cuaca hangat. Karena bunyi deru mesin perahu motor, burung burung migrasi yang hidup di rerimbunan bakau beranjak terbang dan menghiasi Kali Londo yang membujur Timur – Barat.

Atraksi alam ini menjadi hiburan tersendiri bagi mahasiswa Jerman. Apalagi di rerimbunan pohon bakau terlihat kawanan kera, yang bersenda gurau. Bahkan ketika perahu motor, yang membawa rombongan, mendekat ke Marina bambu di muara sungai, kera kera penghuni mangrove tidak beranjak kabur. Mereka seolah menyambut kedatangan rombongan.

Menuju muara sungai yang menjadi pertemuan laut (shark) dan darat (buaya). Foto: nng

Sesampai pada walking track bambu di ujung hutan mangrove, rombongan menapaki dek bambu, menikmati indahnya muara Kali Londo yang langsung menghadap Selatan Madura dan pulau Madura.

In the island of Madura, people speak Madurese, which is not the same as Javanese, the language spoken by the people of Surabaya”, jelas seorang pemandu dari Puri Aksara Rajapatni.

Cerita pun berkembang mengenai perbedaan budaya dan kebiasaan antara bahasa orang Madura dan orang Jawa. Mendengar perbedaan bahasa, mahasiswa Jerman ini diajak memahami kekayaan budaya Indonesia. Termasuk diantaranya adalah aksara aksara daerah di Indonesia.

Satu di antara rombongan adalah Nicholas, yang sebelum berangkat ke Indonesia, punya pengalaman belajar bahasa Indonesia secara online.

I’ve been learning Bahasa Indonesia for two months via online. My teacher is in Jakarta”, terang Nicholas, yang sedikit sedikit mempraktekkan Bahasa Indonesia.

Di penghujung acara, dia bahkan meminta kontak untuk tetap saling silaturahmi.

Could I have your number, maybe I Will come back to Indonesia”, kata Nicholas kepada guide dari Rajapatni.

Menitih papan menuju Perahu Pinisi adalah pengalaman tersendiri. Foto: nng

Melalui Kalimas dan Kali Londo, mereka belajar sisi lain sejarah Surabaya, dimana dulu Surabaya merupakan desa kecil di tepian sungai (Naditira Pradesa). Bukti itu ada pada sebuah prasasti yang dikenal dengan nama Prasasti Canggu (1358 M).

Perjalanan ke Surabaya ini memang sudah menjadi agenda kegiatan universitas yang dikelola oleh Markus Hassler sebagai dosen pembimbing.

We will come back again next year in March, I Will let you know”, pungkas Markus ketika bus, yang membawa rombongan mendekati hotel. (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *