Nilai Spiritual, Intelektual Dan Tradisional Dalam Bentuk Trofi.

Budaya, Aksara

Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Trofi penghargaan Lomba Menulis Aksara Jawa, yang berbentuk Miniatur Candi Bajang Ratu, dikerjakan dengan seksama melalui proses Intelektual dan Spiritual.

Secara intelektual bahwa trofi berbentuk Miniatur Candi merupakan representasi sejarah bangsa Indonesia, Majapahit. Karena lomba ini memiliki keterkaitan dengan nilai kenusantaraan yang dicetuskan di era Majapahit (Sumpah Palapa 1336), maka seluruh peserta diajak mengenal sejarah Majapahit.

Dipilih Candi Bajang Ratu sebagai visualisasi Majapahit karena bentuk Candi ini memiliki nilai keterpaduan dari dua unsur atau zat yang berbeda. Secara keyakinan sifat keagamaan, candi ini berbentuk Paduraksa, yaitu yang dalam tradisi arsitektur, paduraksa sering melambangkan kepala atau bagian utama dari tubuh manusia, serta menjadi lambang perlindungan dan kekuatan persatuan bagi wilayah di dalamnya.

 

Makna Spiritual 

 

Menghampiri situs Candi Bajang Ratu. Foto: par

Atau melambangkan keterpaduan antara manusia (penyembah) dan ruh Sang Hyang Widhi (yang disembah). Karenanya gapura berbentuk Paduraksa ini umumnya berada pada komplek masuk ke bangunan suci.

Struktur gapura, yang memiliki atap dan menyatu (berbeda dengan Candi Bentar yang terbelah), melambangkan kesatuan utuh atau keterpaduan antara alam manusia (mikrokosmos) dan alam ketuhanan/Sang Hyang Widhi (makrokosmos). Hubungan ini sering dikaitkan dengan konsep Manunggaling Kawula Gusti atau bersatunya penyembah dengan yang disembah.

Melalui miniatur Candi yang bersifat Paduraksa ini setidaknya semua peserta diajak untuk memahami nilai spiritual yang hingga kini masih diterapkan pada konsep tata ruang.

Ita Surojoyo (pendiri Puri Aksara Rajapatni) melihat dari dekat Candi Bajang Ratu. Foto: par

Dalam proses pemikiran penciptaan trofi lomba pun, panitia harus mengamati kondisi lapangan dimana candi tersebut, Candi Bajang Ratu, berada, Kondisi lingkungannya terlihat lebih alami dengan vegetasi rimbun dan hijau serta alam sosial kultural pedesaan yang masih kaya akan unsur tanah.

Unsur tanah inilah yang harus didapat dalam konstruksi trofi. Karenanya seniman Supriyadi mencari bahan yang bersifat alami yang mudah didapat. Yaitu tanah sebagai simbolisasi alam Majapahit.

Maka dari tanah (alam) Majapahit tercipta miniatur berwarna terakota alami bagai warna natural aslinya candi Bajang Ratu.

Dari gagasan spiritual dan intelektual itu, disampaikan lah ke seniman desa Bejijong Supriyadi untuk membuatnya dan Supriyadi sendiri pun memiliki gagasan yang sama untuk memberikan bobot dan nilai sebuah trofi sebagai penghargaan bergengsi kepada siapapun para juara.

 

Di Tangan Ahlinya

Supriyadi sang seniman patung di desa Bejijong. Foto: Supriyadi

Di tangan para ahli (Mpu) pembuat patung di desa Bejijong dalam naungan Bhagaskara Bronze, akhirnya terwujudlah trofi. Trofinya diberi Inskripsi beraksara Jawa dengan tujuan mendekatkan nilai tradisi tulis masa lalu dengan bangunan masa lalu dalam wujud trofi.

Miniatur Candi Bajang Ratu..Foto:Supri.

Setiap trofi terdapat tulisan murni dalam aksara Jawa, tidak ada tulisan aksara Latin. Pemikiran ini adalah upaya dalam mengingatkan publik bahwa pada masanya literasi tulis adalah menggunakan literasi tradisional. Meski yang dipakai adalah aksara Jawa Baru (Carakan).

Setidaknya dalam wujud trofi ini menjadi wadah perpaduan nilai intelektual, spiritual dan tradisional. (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *