Budaya, uang
Rajapatni.com: SURABAYA – Melalui jejak mata uang, khususnya uang koin kuno dari masa kerajaan nusantara pada abad 9 di masa Syailendra dan kerajaan Jenggala abad 11, dapat diketahui akulturasi bangsa asing, khususnya India.
Diakui bahwa hubungan India dan Nusantara sudah lama terjadi. Hubungan bilateral itu telah terjalin bahkan sejak awal abad Masehi, jauh sebelum era kolonial Barat. Hubungan ini didominasi oleh interaksi perdagangan dan budaya, yang membentuk landasan sejarah yang kuat.

Interaksi perdagangan maritim dan pertukaran budaya, yang intensif antara India dan Nusantara, terutama sejak awal abad Masehi, menjadi saluran utama masuknya pengaruh ekonomi, termasuk mata uang.
Mata uang India yang berpengaruh pada awal interaksi perdagangan dengan Nusantara berakar pada koin perak, yang disebut Rupya atau Rupiya. Istilah ini berasal dari bahasa Sanskerta Rupya, yang berarti “perak yang ditempa” atau “kekayaan”. Tak heran bila hingga sekarang masih ada orang yang menggunakan kata “perak” untuk “rupiah” dalam konteks informal.
Pengaruh seni dan tradisi India pada mata uang kuno Nusantara adalah pada mata uang Syailendra dan Jenggala.

Mata Uang Syailendra (Mataram Kuno), sekitar 850-860 M, adalah koin emas dan perak yang menggunakan aksara Nagari dengan gaya seni India. Seringkali ditemukan inisial atau huruf tunggal pada koin-koin tersebut.

Sementara mata uang dari era Jenggala yang disebut koin Krishnala dari abad ke-11 seringkali menggunakan inisial yang bertulis kṛ, singkatan dari Krishnala atau Krisnala.
Menarik, karena secara umum hingga sekarang ada masyarakat yang masih menggunakan istilah “perak” untuk merujuk pada satuan mata uang rupiah, terutama ketika menyebutkan nominal uang logam atau uang koin. Contohnya, seseorang mungkin berkata “Harganya cuma 500 perak” yang artinya “500 rupiah”.
Bisa dimengerti karena asal-usul penggunaan kata “perak” berkaitan dengan akar kata rupiah yang berasal dari bahasa Sansekerta rupyakam (रूप्यकम्) atau rupya, yang berarti “perak”.
Secara linguistik nama mata uang rupiah yang berasal dari bahasa Sansekerta India dan secara faktual, aksara Nagari pun tertulis pada mata uang koin, beredar di era Syailendra (Jawa Tengah) dan Jenggala (Jawa Timur).
Akulturasi budaya ini tidak hanya berpengaruh pada mata uang, tapi juga pada agama dan arsitektur bangunan seperti Candi Prambanan dan percandian di Jawa Timur. (PAR/nng)
Sumber:
https://rajaemasindonesia.co.id/uang-emas/
