Budaya, sejarah
Rajapatni.com: SURABAYA – Menyongsong International Heritage Day 2026, komunitas Puri Aksara Rajapatni dan Hotel Horison Arcadia Heritage Rajawali Surabaya bersiap menyelenggarakan pameran Sketsa Kota Lama Surabaya. Hotel Horison Arcadia Heritage Rajawali Surabaya sendiri merupakan hotel yang menempati bangunan cagar budaya di jantung kota lama Surabaya. Secara fisik hotel ini menempati gedung yang dulu merupakan kantor Geo & Wehry.

Kantor Geo & Wehry adalah bekas perusahaan dagang raksasa Hindia Belanda, yang didirikan di Surabaya pada 1867 dan bergerak di bidang ekspor-impor, perkebunan, dan tekstil. Kini, gedungnya dikenal sebagai cagar budaya ikonik di kota Lama Surabaya .
Jalan Rajawali, dimana gedung hotel ini berdiri, adalah sebagian ruas jalan Jalan Raya Pos atau Jalan Daendels di Surabaya yang menghubungkan Anyer (Jabar) dan Panarukan (Jatim).
Jalan Rajawali yang dulunya bernama Heerenstraat adalah jalan arteri di Benedenstad Kota Lama Surabaya. Jalan ini bersinggungan langsung dengan Balai Kota (Stadhuis) Surabaya yang pernah berdiri di barat Jembatan Merah.

Jalan ini berada di zona Eropa Kota Lama Surabaya yang tidak lain adalah kota kosmopolitan pada eranya (Kolonial) dimana warganya selain beretnis Belanda, juga Jerman, Perancis, Inggris, Armenia dan lainnya.
Kini Kota Lama Surabaya adalah warisan budaya, di mana di lahan yang sama, sebelum bangsa Eropa hadir adalah tempat bermukim warga lokal: Jawa dan Madura (keluarga Pangeran Songenep).

Kini dalam pemajuannya Kota Lama Surabaya melalui karya seni sketsa karya Budi Irawan mengingatkan peradaban itu. Melalui pameran karya seni sketsa, Puri Aksara Rajapatni bersama Hotel Hotison Arcadia Heritage Rajawali Surabaya, mengetengahkan narasi dalam visual kepada generasi sekarang.
Karenanya judul sketsa ini berisikan aksara Jawa yang menjadi bahasa tulis warga Jawa dan Madura sebelum masuknya bangsa Eropa di abad 17.
“Penggunaan aksara Jawa ini sebagai penanda bahwa warga etnis Jawa dan Madura pernah bermukim di sini. Bahasa lisannya adalah Madura dan Jawa. Namun bahasa tulisnya adalah aksara Jawa”, jelas Nanang Purwono aktivis budaya dan sejarah Surabaya.
Karenanya generasi sekarang perlu juga tahu bahwa Kota Lama Surabaya tidak hanya berupa koleksi bangunan kolonial, tetapi ruang peradaban yang bersifat sosial dan budaya yang masih ada dan hidup.
Jadwal Penyelenggaraan Pameran

Pameran ini akan diselenggarakan di Hotel Horison Arcadia Heritage Rajawali Surabaya mulai tanggal 18 April 2026, yang bertepatan dengan Hari Warisan Budaya Dunia 2026.
“Sebagai hotel yang berdiri tepat di jantung Kota Lama Surabaya, kami memandang bahwa pelestarian heritage bukan sekadar menjaga bangunan tua, melainkan menghidupkan kembali ‘jiwa’ dari sejarah tersebut agar tetap relevan bagi generasi sekarang”, kata Rully Herlambang, General Manager Hotel Horison Arcadia Heritage Rajawali Surabaya.
Pria, yang akrab dipanggil Rully ini, menambahkan bahwa pameran mendatang ini adalah momentum yang sangat tepat untuk memperkuat Identitas Kawasan, menegaskan bahwa Surabaya Utara adalah museum hidup yang kaya akan nilai historis, termasuk Magnet Wisata Baru.
Acara seperti ini diharapkan akan mampu menarik minat wisatawan domestik maupun mancanegara untuk tinggal lebih lama dan mengeksplorasi sisi otentik Surabaya.
“Kami berharap pameran ini melibatkan komunitas lokal, sehingga dampak ekonominya terasa langsung bagi ekosistem pariwisata di sekitar kita. Kami juga berkomitmen untuk terus menyelaraskan layanan hotel dengan semangat heritage tersebut, baik melalui suasana, kuliner, hingga pengalaman menginap, agar para tamu tidak hanya sekedar berkunjung, tapi benar-benar ‘merasakan’ sejarah Surabaya”, papar Rully Herlambang, General Manager Hotel Horison Arcadia Heritage Rajawali Surabaya.
“Semoga pameran ini berjalan sukses dan menjadi inspirasi bagi kita semua untuk terus menjaga warisan budaya bangsa”, pungkasnya.
Respon pihak management Hotel Arcadia ini mendapat tanggapan dari pendiri Puri Aksara Rajapatni, Ita Surojoyo,.
“Dukungan dari Arcadia di Kota Lama Surabaya ini adalah bukti bahwa pimpinan, yang paham sejarah dengan wujud pemberian kebijakan, berupa dukungan dalam meramaikan peringatan Hari Warisan Budaya Dunia, bukan wacana“, sambut Ita Surojoyo. (PAR/nng)
