Budaya
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Ada yang menarik dari momen perayaan Hari Deepawali di Surabaya pada Sabtu malam (7 November 2026). Saya berada diantara warga India di Surabaya dalam perayaan Hari Deepawali atau yang umum disebut sebagai hari pencerahan atas kegelapan.
Deepawali adalah hari perayaan umum di India Utara yang di Indonesia baru mulai berkembang pada akhir akhir ini. Secara historis pengaruh India yang masuk ke Nusantara pada zaman dulu adalah budaya dan peradaban dari India Selatan.
Kini karena flobalisasi teknologi dan komunikasi, akhirnya kebudayaan dari India Utara ikut menyertai, termasuk Deepawali atau Diwali. Di Surabaya Hari Diwali diperingati dengan penuh kegembiraan dan keceriaan di Spins International Schools Surabaya.
Wanita India

Di sela sela perayaan Hari Deepawali itu, terlihat ada keanggunan para perempuan India mulai dari yang masih usia belia hingga dewasa. Keanggunan itu tampak pada gerai rambutnya yang panjang, hitam dan tebal.
Perempuan di India memang memelihara rambut panjang yang secara tradisi dilandasi oleh beberapa alasan utama yang berkaitan dengan budaya, tradisi, mitologi, hingga nilai spiritual (dari beberap sumber).
• Simbol Kebudayaan dan Mitologi: Dalam tradisi dan mitologi Hindu, para dewi secara tradisional digambarkan memiliki rambut yang sangat panjang. Rambut panjang dihubungkan dengan keanggunan, feminitas, dan kemuliaan.
• Kepercayaan Membawa Sial Jika Dipotong: Di sebagian masyarakat India, memotong rambut dianggap dapat membawa nasib buruk atau sial, sehingga perempuan cenderung dibiasakan untuk memanjangkan rambutnya sejak kecil.
• Pengaruh Leluhur dan Keluarga: Kebiasaan ini merupakan tradisi turun-temurun dari para ibu atau nenek. Banyak perempuan terinspirasi oleh figur keluarga atau ikon budaya/aktris klasik Bollywood yang identik dengan rambut panjang dan lebat.
• Makna Spiritual dan Keutuhan Diri (seperti pada tradisi tertentu): Dalam beberapa komunitas atau ajaran di India (misalnya umat Sikh), memelihara rambut secara utuh (tidak dipotong) melambangkan bentuk penghormatan terhadap ciptaan Tuhan serta pencapaian jiwa yang utuh dan selaras dengan alam.
• Standar Kecantikan Tradisional: Rambut panjang yang tebal, hitam, dan terawat (didukung tradisi perawatan menggunakan minyak alami serta rempah Ayurveda seperti amla dan kelapa) dipandang sebagai mahkota kecantikan perempuan India.
Tak heran keindahan mahkota itu menjadi perhatian tersendiri yang terpadu anggun dengan busana tradisional Sari. Perempuan berambut panjang, hitam dan tebal tidak hanya tampak pada perempuan dewasa, tetapi juga pada para remaja putri.
Sempat bertanya kepada tetua warga India di Surabaya, Manoj Bhat, mengapa banyak perempuan India memelihara rambut hingga panjang. Jawabnya dengan santai sambil bercanda karena tidak dipotong.
“Kalau rambut wanita Jawa tidak dipotong juga bisa panjang”, tambahnya.
Wanita Jawa

Dahulu, wanita Jawa juga gemar memelihara rambut panjang terutama karena kebutuhan untuk disanggul atau digelung, yang berkaitan erat dengan tradisi, nilai estetika, serta filosofi budaya Jawa.
Beberapa alasan utamanya meliputi:
• Kemudahan untuk membuat Sanggul (Konde): Rambut yang panjang memudahkan wanita menata rambut mereka menjadi berbagai bentuk sanggul atau gelungan tradisional yang merupakan bagian dari busana adat sehari-hari maupun acara resmi.
• Simbol Keanggunan dan Standar Kecantikan: Rambut panjang yang terawat rapi dianggap sebagai wujud keanggunan, feminitas, dan standar kecantikan perempuan Nusantara pada masa lalu.
• Penanda Status dan Kedisiplinan Perawatan: Memelihara rambut panjang membutuhkan waktu, ketelatenan, dan perawatan khusus (seperti penggunaan minyak cem-ceman atau mandi bunga), yang juga mencerminkan kesabaran serta kehormatan diri.
• Bagian dari Falsafah Tradisional: Dalam tradisi Jawa, tata cara merawat diri (ngadi saliro ngadi busono) adalah bentuk penghormatan terhadap tubuh agar senantiasa bersih, harum, dan sedap dipandang.
Zaman memang membawa perubahan seperti yang disebutkan dalam Jangka Jayabaya: wong wadon dadi kaya Priya.
Jangka Jayabaya
Ungkapan “wong wadon dadi kaya priya” (wanita menjadi seperti pria) dari Jangka Jayabaya memang sering kali dibahas karena relevansinya dengan fenomena sosial modern. Dalam konteks kebudayaan dan ramalan Jawa, kalimat ini tidak sekadar bermakna fisik, melainkan gambaran pergeseran peran gender dan tatanan sosial (emansipasi).
Berikut adalah beberapa sudut pandang dalam memaknai ramalan tersebut di zaman sekarang:
Pergeseran Peran Ekonomi dan Sosial
• Mandiri secara finansial: Wanita zaman sekarang banyak yang memegang posisi penting sebagai pemimpin perusahaan, politisi, ilmuwan, hingga kepala rumah tangga yang menjadi pencari nafkah utama.
• Mengambil alih tanggung jawab tradisional: Pekerjaan atau tanggung jawab yang dahulu dianggap hanya bisa dilakukan oleh pria, kini sudah umum digeluti oleh wanita.
Kritik Terhadap Hilangnya Kodrat (Perspektif Tradisional)
• Keseimbangan alam (Kosmologi Jawa): Dalam pandangan Jawa kuno, tatanan dunia yang ideal berjalan jika masing-masing pihak berjalan sesuai kodratnya (pranatan). Ramalan ini terkadang ditafsirkan sebagai peringatan tentang masa di mana batas-batasan kodrat tersebut menjadi kabur, yang bagi sebagian kalangan dianggap memicu ketidakharmonisan dalam rumah tangga atau masyarakat.
Perubahan Gaya Hidup dan Penampilan
• Mode dan Ekpresi: Secara visual, tren pakaian unisex, potongan rambut pendek, hingga cara berbicara dan bersikap yang tegas (maskulin) kini sangat lumrah diadopsi ol
eh wanita modern tanpa harus kehilangan identitas mereka. (PAR/nng)
