Perayaan Keagamaan India Diwali di Surabaya.

Budaya

Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Dīpāvali atau Diwali adalah salah satu perayaan Agama Hindu, yang berarti “Festival Cahaya”. Perayaan tersebut melambangkan kemenangan Kebaikan atas Keburukan dan melambangkan perayaan serta harapan manusia.

Diwali di India pada tahun 2026 jatuh pada Minggu, 8 November 2026. Di Surabaya, khususnya di Spins International Schools, diperingati pada Sabtu (7 November 2026).

Acara yang bertempat di Lingkungan sekolah ini mempersembahkan kreativitas siswa siswi Spins International Schools yang malam itu juga dihadiri oleh keluarga besar sekolah dan masyarakat India di Surabaya.

Bertindak sebagai tuan rumah adalah Manoj Bhat, yang juga dikenal sebagai Konsul Kehormatan India untuk Jawa Timur, Jawa Tengah dan DIY. Sebagai tuan rumah, Manoj Bhat bertindak langsung memimpin jalannya acara.

Manoj Bhat mengawali acara dengan memimpin menyalakan lilin. Foto: nng

Manoj Bhat mengawali acara dengan menyalakan lilin. Menyalakan lilin atau lampu pada perayaan Diwali (Deepavali) melambangkan kemenangan kebaikan atas kejahatan, kemenangan cahaya atas kegelapan, serta pengetahuan atas ketidaktahuan.

Beberapa makna filosofis mendalam dari penyalaan cahaya atau lilin saat Diwali meliputi:

Pembawa acara menghantarkan acara demi acara. Foto: nng

• Kemenangan terang atas gelap: Mengusir kegelapan lahir dan batin, serta menyingkirkan sifat negatif seperti keserakahan, kebencian, dan rasa takut.

• Cahaya batin (spiritual): Menjadi pengingat bahwa nyala api sekecil apa pun mampu mengusir kegelapan yang luas, serta membimbing individu menuju welas asih dan realisasi diri.

• Kesucian dan keberuntungan: Pancaran cahaya merupakan tanda kesucian yang diharapkan dapat melindungi kehidupan sepanjang tahun ke depan dari kekuatan jahat.

• Kesatuan masyarakat: Deretan lilin atau lampu yang dinyalakan bersama-sama menyimbolkan kebersamaan dan keharmonisan dalam komunitas.

Menyalakan lilin bersama sama inilah yang menandai dimulainya acara yang diselenggarakan di auditorium Spins International Schools Surabaya.

Di acara itu semua bergembira dan semua ceria mulai dari anak anak hingga dewasa. Mata acara demi mata acara berjalan silih berganti, yang masing masing mengekspresikan kegembiraan dan kemenangan hingga ditutupnya dengan penampilan kelompok muda mudi yang riang gembira dengan ending turun ke lapangan olahraga di luar gedung serta santapan kuliner khas India.

Acara khas India ini sebenarnya sudah eksis di daratan India jauh sebelum Hindu Jawa berkembang di era Majapahit. Ketika. Hindu Jawa berkembang seiring dengan Majapahit, Hindu yang masuk ke Jawa adalah Hindu dari India Selatan, sementara Diwali adalah praktik keagamaan yang berkembang di India Utara.

Karenanya, festival tersebut tidak pernah menjadi bagian dari kalender keagamaan maupun tradisi masyarakat Majapahit. Inilah alasan mengapa umat Hindu etnis asli Indonesia (seperti di Bali dan Jawa) memiliki tradisi hari raya yang berbeda dan tidak merayakan Diwali hingga saat ini. Perayaan Diwali di Indonesia baru mulai dikenal luas di era modern, utamanya dirayakan oleh komunitas umat Hindu keturunan etnis India

Secara historis, perayaan Diwali (atau Deepavali) secara konseptual sudah ada di India jauh sebelum berdirinya Kerajaan Majapahit, dengan akar sejarah yang membentang lebih dari 2.500 tahun yang lalu. Namun, masyarakat di era Kerajaan Majapahit tidak merayakan Diwali.

Perlu diketahui bahwa Agama Hindu yang berkembang di Nusantara, termasuk pada era Majapahit, sebagian besar dipengaruhi oleh gelombang migrasi dan komunikasi budaya dari wilayah India Selatan (seperti dinasti Pallava dan Chola) serta India Timur.

Penarinya ruang gembira..Foto: nng

• Tradisi Diwali/Deepavali pada masa kuno merupakan festival musiman dan perayaan tahun baru (kalender Wikrama Samwat) yang sangat melekat di wilayah India Utara.

• Karena masyarakat India Selatan dan Timur pada masa itu belum merayakan Diwali secara masif atau dengan tradisi yang sama seperti orang India Utara, kebudayaan ini tidak ikut terbawa ke Nusantara.

 

Akulturasi Budaya Lokal (Hindu-Jawa)

Umat Hindu di era Majapahit telah mengalami proses akulturasi yang kuat dengan kepercayaan lokal (animisme, dinamisme, dan pemujaan leluhur). Mereka merayakan hari-hari suci berdasarkan kalender tersendiri, baik berbasis siklus sasih (bulan) maupun wuku/pawukon.

Kitab-kitab kuno era Majapahit dan pasca-Majapahit (seperti Pararaton atau Nagarakretagama) mencatat bahwa hari raya dan upacara besar nasional yang mereka selenggarakan meliputi:

• Galungan dan Kuningan

• Nyepi

• Upacara Sraddha (upacara agung pemujaan arwah leluhur/raja yang telah wafat)

• Waisak (karena Majapahit menerap

kan sistem Hindu-Buddha yang harmonis) PAR/nng)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *