Membasuh Dan Membasahi Derajat Kekeringan Nilai Budaya

Budaya

Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Surabaya dan Jawa Timur memiliki kekayaan nilai budaya, seni, dan sejarah yang besar. Namun, tantangan terbesarnya sering kali terletak pada perubahan gaya hidup di tengah arus modernisasi dan urbanisasi.

Kota-kota besar seperti Surabaya dihadapkan pada dominasi budaya digital dan tren global yang membuat seni tradisional (seperti ludruk, tari daerah, atau bangunan cagar budaya serta literasi tradisional) mulai tersisih dari keseharian anak muda.

Para pakar kota dan pegiat budaya sering mencatat bahwa kesadaran kolektif untuk merawat memori sejarah dan nilai lokal belum merata di semua lapisan warga.

Untuk membangun kesadaran kolektif yang merata dalam merawat memori sejarah dan nilai lokal di Surabaya, diperlukan pendekatan kolaboratif (multi stakeholder) yang mengemas sejarah bukan lagi sebagai pajangan masa lalu, melainkan sebagai gaya hidup dan identitas kota.

 

Internalisasi melalui Jalur Pendidikan Formal dan Informal

Foto: ist

Kurikulum Muatan Lokal yang Kontekstual: Sekolah-sekolah di Surabaya wajib menerapkan pembelajaran sejarah dan budaya lokal yang tidak hanya menghafal tahun, tetapi mengajak siswa melakukan heritage trail (jalan-jalan sejarah) ke cagar budaya terdekat dan pengalaman budaya (cultural experience).

Program “Seniman/Pegiat Masuk Sekolah”: Menghadirkan maestro ludruk, sejarawan, dan pegiat komunitas ke sekolah-sekolah untuk memberikan workshop interaktif (misal: belajar kidungan atau mendongeng sejarah kota).

 

Aktivasi Ruang Publik dan Revitalisasi Cagar Budaya

Menjadikan Cagar Budaya Tempat Nongkrong: Mengubah kawasan bersejarah (seperti Kota Tua Surabaya, Jalan Karet, atau Kya-Kya) menjadi ruang publik yang hidup, lengkap dengan pencahayaan yang bagus, kafe, ruang pameran, dan panggung seni jalanan. Jika areanya hidup secara ekonomi, warga sekitar akan otomatis ikut menjaga.

 

Museum Sebagai Ruang inklusif dan interaktif

Menurut Nofa Farida Lestari, Pendiri & Direktur Eksekutif Musee ID, yang juga Anggota Dewan ICOM CECA bahwa museum adalah ruang publik dan kolaborasi. Yaitu menjadi titik temu berbagai kalangan masyarakat (dari anak-anak, pelajar, hingga komunitas) melalui workshop, diskusi, dan kegiatan seni. Bukan lagi sekedar tempat penyimpanan barang yang berharap dikunjungi pengunjung.

Apalagi segera akan berlangsung Konferensi (tingkat dunia) Tahunan ICOM CECA di Jakarta mulai 10-14 November 2026 yang menurut

Wencke Maderbacher, Chair of ICOM CECA bahwa peran edukator museum menjadi lebih penting dari sebelumnya. Yaitu menjadikan museum bukan sekedar “gudang “ koleksi barang barang kuno tetapi menciptakan ruang yang inklusif dan kolaboratif.

Pengunjung tidak lagi disuguhi sajian artefak tetapi diajak berinteraksi dan memberi ruang kreatif kepada mereka.

 

Pemberdayaan Berbasis Komunitas (Bottom-Up)

Pembentukan “Sahabat Budaya dan Cagar Budaya” di Tingkat RT/RW: Memberikan pelatihan kepada pemuda kampung untuk menjadi pemandu wisata lokal (local guide) di wilayahnya sendiri. Ini menciptakan rasa bangga (sense of pride) sekaligus dampak ekonomi bagi warga setempat.

Kompetisi Inovasi Kampung Sejarah: Pemerintah kota dapat menggelar lomba antar-kampung untuk merawat dan menghias kampung mereka berdasarkan identitas sejarah masing-masing. PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *