Belajar “Sejatining Budaya Jawa Tumrap Janji.”

Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Sejatining budaya Jawa tumrap janji (hakikat budaya Jawa terhadap janji) drajate dhuwur banget lan dadi salah siji tuntunan moral sing paling utama. Ing filosofi Jawa, janji dudu mung ucapan ing lambe, nanging sawijining “utang” spiritual lan moral sing kudu dilunasi. Wong sing ora bisa netepi janjine bakal kelangan drajat lan ajining dhiri ing mripate masyarakat.

Dalam budaya Jawa, menjaga janji adalah prinsip moral yang sangat fundamental dan sakral. Ucapan seseorang dianggap sebagai cerminan dari martabat, kehormatan, dan integritas dirinya.

Nilai ini mengakar kuat dalam berbagai falsafah hidup masyarakat Jawa.

Pitutur luhur Jawa. Foto: ist

1. Ajining Diri Saka Lathi

Falsafah utuh dari ungkapan ini adalah “Ajining diri saka lathi, ajining raga saka busana”. Kalimat pertama memiliki arti bahwa kehormatan diri seseorang dinilai dari lidahnya (ucapannya). Ketika seorang individu terbiasa mengingkari janji, maka ia akan kehilangan ajining diri atau harga dirinya di mata masyarakat.

 

2. Sabda Pandhita Ratu

Istilah “Sabda pandhita ratu tan kena wola-wali” merujuk pada ucapan seorang pendeta (orang suci) atau ratu (pemimpin) yang tidak boleh mencla-mencle atau berubah-ubah. Falsafah ini mengajarkan agar kita berpikir matang sebelum berbicara. Begitu sebuah komitmen atau janji diucapkan, ucapan tersebut harus bersifat final dan wajib ditepati, layaknya titah seorang raja.

 

3. Aja Cidra ing Janji

Secara harfiah, falsafah ini berarti jangan pernah berkhianat atau mengingkari janji. Falsafah ini erat kaitannya dengan nasihat “Aja kuminter mundak keblinger, aja cidra mundak cilaka” (jangan sok pintar supaya tidak salah arah, jangan curang/ingkar supaya tidak celaka). Masyarakat Jawa meyakini hukum tabur-tuai (ngunduh wohing pakarti)—siapa yang suka ingkar janji, lambat laun akan memanen sial atau kesulitan dalam hidupnya sendiri.

 

4. Setya Tuhu Marang Janji

Ungkapan ini berarti setia dan patuh sepenuhnya terhadap janji yang telah dibuat. Prinsip ini tidak hanya berlaku dalam hubungan sosial atau bisnis, tetapi juga menjadi fondasi utama dalam hubungan asmara dan pernikahan adat Jawa untuk menjaga kesetiaan.

Bagi orang Jawa, janji bukanlah sekadar pemanis kata di bibir, melainkan sebuah “utang” moral yang pertanggungjawabannya dibawa sampai mati. (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *