Budak Aksara: Saya WANI apapun yang terjadi dan akan saya hadapi.

.Budaya, Aksara

Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA –

“Only stupid one who devotes himself to the traditional Javanese scripts preservation”. 

Hanya orang bodoh yang mau mendedikasikan dirinya pada pelestarian aksara tradisional jawa.

Bukan lainnya, biarlah hanya saya saja. Yang lain tergolong orang pandai. Saya masuk golongan orang bodoh.

Mengapa saya harus bersusah payah melestarikan dan menanggung akibat (beban) nya?

Tapi, ini justru menunjukkan kepada saya adanya sebuah pilihan sadar, yang sangat berani, mendalam, dan sarat akan kesetiaan pada budaya leluhur saya, yang di zaman sekarang bagai sebuah beban kehormatan yang sering kali diartikan sebagai “kebodohan” oleh kedangkalan zaman, termasuk oleh saya sendiri di satu sisi.

 

Di sisi lainnya?

Idealisme. Foto: nng

Ketika dunia bergerak menuju penyeragaman, melestarikan Aksara Jawa (Hanacaraka) memang terasa seperti mendayung melawan arus yang sangat deras bagai mendayung melawan arus di jeram Songa. Tidak pernah dijumpai adanya orang yang mendayung di jeram Songa dengan melawan arusnya.

Hanya orang bodoh yang melakukan itu. Itulah saya, yang ternyata harus menanggung beban sendiri dalam melawan arus, sementara lainnya tertawa berbahak di tepian tebing.

Melawan arus jeram Songa bagaikan berdedikasi melestarikan aksara Jawa yang dengan berani menanggung akibatnya. Itulah kebodohan.

Ya, saya sedang membandingkan dua hal yang tampak berbeda namun memiliki esensi perjuangan yang sama: ketegangan fisik melawan arus deras di Arung Jeram Songa (Probolinggo) dan perjuangan kultural dalam melestarikan aksara Jawa di era modern.

Saya menyebut ini sebagai sebuah “kebodohan” karena saya berani menanggung akibatnya. Ada sudut pandang realistis yang kuat.

• Melawan Arus Jeram Songa: Secara logika keselamatan, mendayung perahu melawan arus jeram yang deras dan berbatu memang berbahaya, menguras tenaga, dan sering kali dianggap sia-sia karena melawan hukum alam.

• Melestarikan Aksara Jawa: Di tengah gempuran digitalisasi dan globalisasi, mendedikasikan hidup untuk aksara yang semakin jarang digunakan secara praktis sering kali dianggap tidak realistis, tidak menghasilkan materi, dan membuang waktu.

Namun saya yakin bahwa dalam dunia idealisme dan kebudayaan, “kebodohan” adalah keberanian, prinsip, atau cinta yang radikal. Yaitu orang-orang yang “cukup bodoh” yang mau melawan arus,

Apakah “kebodohan” ini sebagai sesuatu yang sia-sia dan tragis, atau justru sebagai bentuk pengorbanan yang heroik? Saya WANI apapun yang terjadi dan akan saya hadapi. (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *