Budaya Aksara
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Semangat mempopulerkan aksara Jawa terus membara dan berkobar bagai suluh dunia. Ini menggambarkan semangat yang luar biasa dan sekaligus betapa berharganya warisan leluhur yang harus terus dijaga agar tidak padam ditelan zaman.
Ke dalam (secara internal), sejumlah kecil komunitas pegiat aksara Jawa di Surabaya terus menggelorakan penggunaan penulisan aksara tradisional yang secara nasional sudah diajukan ke UNESCO.
Penggunaan ini diperkenalkan melalui wadah wadah festival/lomba menulis aksara Jawa mulai dari Masjid Kemayoran Surabaya hingga keluar Kampus yang rencananya akan digelar pada 25 Oktober mendatang.
Ada pula melalui media kartu aksara Jawa dengan metode “learning by playing” seperti yang diperkenalkan oleh Paguyuban Aksara Jawa Nusantara.
Kehadiran komunitas pegiat aksara Jawa di Surabaya ini menambah giat dan semangat para guru bahasa Jawa yang juga aktif memperkenalkan aksara Jawa kepada murid muridnya. Praktik praktik budaya ini menunjukkan pentingnya perlindungan dan pengayoman terhadap giat pemajuan aksara Jawa.
Dalam nada yang sama bahwa kehadiran komunitas pegiat aksara Jawa di Surabaya ini memberikan dampak positif yang signifikan (suasana segar) bagi ekosistem pendidikan dan kebudayaan daerah. Sinergi antara komunitas dan guru bahasa Jawa merupakan fondasi kuat untuk menjaga agar aksara daerah tidak hanya menjadi peninggalan masa lalu, tetapi tetap hidup sebagai bagian dari identitas kontemporer.

Bahkan aksara Jawa juga aktif diperkenalkan kepada komunitas global, seperti ke Australia, Asia dan Eropa. Misalnya sambutan beberapa pihak dari Australia, Asia dan Belanda semakin memberikan semangat pelestarian budaya daerah.

Melalui aksara daerah disadari bahwa kesejatian makna dapat dikenali. Seperti kenalilah kotamu melalui media aksara. Pesan ini sebagaimana disampaikan oleh Nanang Purwono (Ketua Puri Aksara Rajapatni) dalam Indonesia Bioethic Forum (IBF) di Gedung Bank Mandiri di jalan Basuki Rahmat dan di DSDABM (Dinas Sumber Daya Air Dan Bina Marga) Kota Surabaya pada Jumat siang – sore (16/10).

Melalui rangkaian gerakan kebudayaan di Surabaya, niscaya aksara Jawa akan mendapat hati di Surabaya sebagaimana mestinya secara historis dan budaya. (PAR/nng)
