Miniatur Candi Bajang Ratu Untuk Tiga Juara Beruntung.

Budaya, Aksara

Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Hanya yang beruntung dari 150 juara patut mendapat penghargaan bergengsi dari Bumi Majapahit. Ke 150 juara itu adalah semua peserta lomba menulis aksara Jawa karena akan menunjukkan keberanian dalam mempersembahkan budaya bangsa. Yaitu tulisan tradisional aksara Jawa.

“Mereka adalah pemberani di tengah langkanya aksara tradisional Jawa di bumi Jawa Timur saat ini”, ujar A.Hermas Thony di sela sela perjuangan menegakkan kebenaran dan keberanian demi Śūrabhaya baik.

Mereka berani menuliskan aksara Jawa dalam agenda peringatan Bulan Bahasa dan Sastra serta Sumpah Pemuda 2026. Tanya tiga yang beruntung dari 150 juara.

Peninggalan Kerajaan Majapahit di Trowulan.. Foto: par

Mereka berhak atas trofi istimewa yang dibuat dari tanah Majapahit di Bumi Majapahit.

Miniatur Candi Bajang Ratu..Foto:Supri.

Tiga trofi ini adalah karya seniman Supriyadi dari Bhagaskara Bronze di Desa Bejijong, Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

Ya, dari tengah situs jantung Kerajaan Majapahit, Desa Bejijong, Trowulan, ini berdiri Bhagaskara Bronze, tempat di mana Supriyadi Trowulan menciptakan berbagai karya seni berbahan logam perunggu.

Kali ini, untuk mendukung lomba penulisan aksara Jawa, Bhagaskara bronze menghadirkan sesuatu yang berbeda: replika Gapura Bajang Ratu, yang terbuat dari tanah liat yang diambil langsung dari tanah leluhur.

Miniatur Candi Bajang Ratu tampak samping. Foto: supri

Tanah adalah manifestasi dari Ibu Bumi, sumber dari segala sumber kehidupan.

“Semoga setiap pemegang trofi ini senantiasa ingat akar dan asal usulnya”, kata Supriyadi.

Patung Gajah Mada, sosok pemersatu Nusantara. Foto: supri

“Kepada generasi muda: jadilah manusia yang maju, moderat dan berpikiran terbuka, namun jangan biarkan bahasa dan budaya ibumu hilang. Karena disanalah jati dirimu berada, abadi sepanjang masa.”, tambahnya.

Itulah pesan Supriyadi melalui karya nya untuk pelestari budaya yang beruntung.

Supriyadi dengan Patung Gajah Mada, karyanya.Foto: supry

Hanya ada tiga trofi yang juga bertulis dalam aksara Jawa. Setiap trofi langsung dikemas dalam kotak kaca. Isinya adalah miniatur Candi Bajang Ratu dengan ukuran yang sama.

“Yang membedakan adalah nilai dana pembinaan”, jelas Nanang Purwono sebagai ketua pelaksana lomba dari Puri Aksara Rajapatni. (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *