Śūrabhaya Bagai Sumber Cahaya Murni Yang Menghasilkan Cahaya Pelangi

Budaya, Aksara

Rajapatni.com : ŚŪRABHAYA – Sejarah Surabaya semakin ke kini semakin terbaca sangat luas dan besar (banyak). Sehingga terasa bingung dari mana harus memulai.

Namun Puri Aksara Rajapatni menemukan pola pembelajaran (pemahaman) yang komprehensif dan sistematis. Yaitu dengan pendekatan pola pemahaman Spektrum Cahaya

Spektrum Cahaya adalah rentang panjang gelombang dari radiasi elektromagnetik yang dapat dilihat oleh mata manusia, atau yang biasa disebut sebagai cahaya tampak. Kemudian cahaya itu masuk kedalam Prisma yang membiaskan cahaya pelangi.

 

Pengertian

Definisi: Segmen kecil dari spektrum elektromagnetik yang merambat dalam bentuk gelombang, warnanya terlihat putih.

Cahaya Tampak (Visible Light): Bagian dari spektrum yang bisa dilihat oleh mata, berkisar antara 380 hingga 750 nanometer (nm).

Ketika cahaya putih itu melewati prisma, cahaya yang kemudian terurai (dispersi) menjadi tujuh warna utama pembentuk pelangi.

 

Tujuh Warna Cahaya Tampak

Cahaya primer maauk prisma menjadi cahaya pelangi. Foto: ist

Dalam spektrum cahaya tampak, cahaya putih matahari dapat diuraikan menjadi 7 warna utama. Urutannya dari panjang gelombang terpanjang ke terpendek (atau energi terendah ke tertinggi) adalah:

1. Merah (panjang gelombang paling panjang)

2. Jingga (oranye)

3. Kuning

4. Hijau

5. Biru

6. Nila (indigo)

7. Ungu (panjang gelombang paling pendek dan energi paling tinggi)

 

Perumpamaan (Analogi)

Cahaya Putih yang masuk PRISMA itu bagaikan satu sumber cahaya yang bernama ŚŪRABHAYA. Setelah sumber cahaya itu masuk ke dalam Prisma, yang dapat terurai menjadi Pelangi dengan tujuh warna. Ketujuh warna ini adalah sebaran sejarah dan budaya Surabaya.

Cahaya Tampak Putih = Śūrabhaya

Prisma Pelangi = Keragaman Sejarah dan Budaya Surabaya

Artinya dari diksi Śūrabhaya (klasik) menjadi keragaman sejarah dan budaya Surabaya setelah melewati ruang waktu yang panjang (Prisma).

Śūrabhaya (Sumber kekuatan Cahaya/energi) diibaratkan sebagai jasa penarik tambangan (penyeberangan sungai) untuk tujuan tujuan keagamaan, kebudayaan, perhubungan, pembangunan, perdagangan, sosial, dan ekonomi kala itu, yang kemudian dicatat dalam prasasti oleh Raja Hayam Wuruk (1358 M)

Surabaya (cahaya pelangi) sebagai gambaran bentuk urusan di era modern ini seperti yang dikelola oleh Kantor Agama, Dinas Kebudayaan, Dinas Perhubungan, Bappekolitbang, Dinas Perdagangan, Dinas Sosial dan Dinas Perekonomian.saat ini

Masing masing urusan ini mengandung sejarah dan budayanya sendiri sendiri yang telah mewarnai Surabaya. (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *