Nusantara Bersuara Untuk Surabaya

 Budaya, Aksara

Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Bila Tradisi Bertemu Modernisasi. Itulah harapan Indonesia di masa depan. Keselarasan antara tradisi dan modernisasi memang menjadi kunci utama bagi masa depan Indonesia yang kokoh. Sebagai bangsa yang kaya akan budaya, Indonesia berpeluang besar untuk maju secara teknologi dan ekonomi tanpa harus kehilangan jati diri leluhurnya.

Ketika nilai-nilai masa lalu dan inovasi masa kini berjalan beriringan, Indonesia tidak hanya sekedar meniru bangsa lain, tetapi menciptakan kemajuannya sendiri yang berkarakter.

Ketika nilai-nilai luhur masa lalu (budaya, literasi kuno, gotong royong, dan identitas) berpadu secara harmonis dengan inovasi teknologi masa kini, Indonesia tidak akan terjebak menjadi plagiator, melainkan tumbuh menjadi trendsetter yang memiliki karakter dan kepribadian nasional yang kuat.

Indonesia punya itu semua, termasuk aksara Nusantara yang sangat beragam mulai dari Jawa, Sunda, Bali, Batak, Kampung, dan Makasar (Bugis). Aksara aksara itu nyelah mendiami Nusantara ratusan tahun lalu. Bahkan utusan PM India mendatangi Candi Plaosan untuk melihat jejak aksara Pallawa sebagai awal dari Aksara Nusantara. Dunia mengakui. Tapi sang pemiliknya kurang demikian.

Sudah ada sejumlah kecil komunitas yang sudah dengan getol dan konsentrasi untuk merawatnya. Bahkan komunitas kecil ini sudah mengajukan ke UNESCO akan penggunaan tradisi tulis seperti aksara Jawa.

Meski kecil namun saling merangkul untuk tujuan besar ketika yang besar terkesan kecil untuk negerinya sendiri.

Salah satu festival, yang diselenggarakan oleh yang kecil ini, adalah Lomba Menulis Aksara Jawa dalam memperingati bulan Bahasa dan Sastra di Oktober mendatang.

Acara ini diselenggarakan di Surabaya namun partisipasi dan dukungan datang dari ibukota dan Daerah Khusus di negeri ini. Mereka menyadari bahwa yang kecil di Surabaya itu belum besar untuk menanggung pelaksanaan. Karenanya dibutuhkan kolaborasi.

PANDI (Pengelola Nama Domain Internet Indonesia). Foto: courtesy of pandi

Dari ibukota Jakarta datanglah PANDI PANDI adalah Pengelola Nama Domain Internet Indonesia, yaitu organisasi nirlaba resmi yang mengatur dan merawat nama domain internet berakhiran .id di Indonesia.

Sega Jabung Yogyakarta. Foto: courtesy of segajabung

Dari Daerah Istimewa Yogyakarta datang juga komunitas Sega Jabung dan Genk Kobra. Keduanya adalah komunitas Aksara Jawa yang sepak terjangnya telah membawa Aksara Jawa dikenal di perangkat modern seperti gawai dan bersama PANDI membawa Aksara Jawa ke UNESCO.

Genk Kobra. Foto: courtesy of Genk Kobra

Lomba Menulis Aksara Jawa ini terbuka se Jawa Timur yang pernah menjadi rumah Kerajaan Besar, Majapahit, yang belum lama mendapat atensi dari pemerintah pusat dengan meresmikan peletakan batu pertama pembangunan Museum Agung Majapahit oleh Menteri Kebudayaan, Fadli Zon pada Minggu (13/9/26).

Museum Agung Majapahit secara fisik ada di wilayah Trowulan, tapi semangatnya harus menyebar se Nusantara, termasuk ke Surabaya. Aksara Jawa adalah salah satu bentuk dari penyesuaian dari Aksara Kawi atau Jawa Kuno, yang umum digunakan di era Majapahit.

Aksara adalah objek kebudayaan penting yang menjadi perantara antara masa lalu dan masa kini untuk masa depan. Aksara memang berfungsi sebagai fondasi peradaban dan jembatan identitas yang merekam jejak masa lampau untuk dipahami generasi masa kini serta diteruskan ke masa depan.

 

Peran Penting Aksara dalam Kebudayaan

Nusantara untuk Surabaya. Foto: par

Perekam Sejarah: Aksara menjadi saksi bisu dan wadah dokumentasi peristiwa, silsilah, hingga naskah kuno leluhur.

Pembentuk Identitas Bangsa: Keberadaan Aksara Nusantara seperti aksara Jawa, Sunda, Bali, hingga Lampung mencerminkan kekayaan dan karakter peradaban lokal.

Pewaris Pengetahuan: Nilai-nilai luhur dan ilmu pengetahuan diturunkan lintas generasi melalui tradisi tulis.

Karenanya mengenalkan kembali tradisi menulis dengan menggunakan aksara daerah (Jawa) berarti melakukan upaya nyata dalam melestarikan budaya, memperkuat identitas bangsa, dan menjaga warisan leluhur agar tidak punah ditelan zaman. (PAR/nng).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *