Budaya, Aksara
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Akhirnya dengan melalui ajang “Lomba Menulis Aksara Jawa” dapat diketahui minat sekolah baik murid dan guru terhadap budaya Jawa. Kali ini yang akan berlangsung adalah lomba menulis Aksara Jawa untuk siswa tingkat SMA dan SMK se Jawa Timur, yang akan bersaing dengan Mahasiswa dan kalangan pegiat budaya dalam satu kategori yang sama.
Bukan menang atau kalahnya, tetapi ajang lomba menulis aksara Jawa ini menjadi wadah yang dianggap bisa mewadahi dan menguji kompetensi siswa.
Setelah dibuka pendaftaran hari ini, Selasa (15/9/26), animo peserta dari kalangan siswa SMA dan SMK sudah terlihat. Berdasarkan data pendaftaran google form yang dipakai panitia, dapat diketahui dari mana peserta mengetahui acara lomba ini.

Ada pertanyaan dalam form: Sumber informasi lomba berasal dari mana? Ada lima pilihan: a) Instagram, b) Facebook, c) teman, d) guru dan e) komunitas.
Dari tiga golongan peserta ini, untuk sementara peserta terbanyak adalah kalangan siswa SMA/SMK yang mayoritas mendapat informasi dari GURU.
Tingginya peserta lomba menulis aksara Jawa dari kalangan siswa SMA/SMK, yang asal informasinya dari GURU, menunjukkan bahwa ajang lomba ini menjadi WADAH kompetensi siswa di luar sekolah.

Keterlibatan aktif para guru sebagai sumber informasi utama mencerminkan peran krusial sekolah dalam mendeteksi dan mengarahkan potensi siswa.
Link pendaftaran via link laman:
https://docs.google.com/forms/d/1VYYONM3UyCGXm9o9QUR9dY-hW48BE7RvtxGYkkcdVXk/edit#responses
Ketika lomba menulis aksara Jawa ini mendapat respons tinggi, hal tersebut membuktikan dua poin penting:
Wadah Aktualisasi: Kompetisi ini berhasil menjadi ruang bagi siswa SMA/SMK untuk menguji dan menunjukkan kemampuan mereka di bidang yang spesifik (pelestarian budaya) yang mungkin tidak selalu mendapat panggung utama dalam kegiatan akademik harian.
Sinergi Guru dan Siswa: Guru tidak hanya bertindak sebagai pengajar di kelas, tetapi juga sebagai jembatan (fasilitator) yang menghubungkan minat bakat siswa dengan peluang kompetisi di luar sekolah.
Melalui ajang lomba, yang bersifat inisiatif komunitas ini, ternyata menjadi wadah diantara kekeringan fasilitas yang ada di jalur formal. Di dalam internal sekolah ternyata masih ada insan siswa dan guru, yang masih peduli dan kepedulian mereka itu perlu mendapatkan payung hukum dalam pelestarian Aksara Jawa secara struktural dan formal sebagai identitas bangsa.
Apalagi pemerintah Pusat melalui Kementerian Kebudayaan telah resmi melakukan pembangunan Museum Agung Majapahit di Trowulan, yang nilai nilainya harus diiringi dengan persebaran di luar museum, yang secara formal bisa melalui jalur sekolah.
Pendidikan karakter dan nilai nilai luhur bangsa, yang dikemas dalam Kemajapahitan, bisa disalurkan melalui jalur sekolah.
Golongan Kedua terbanyak dalam kepesertaan lomba ini adalah dari kalangan Pegiat Budaya dan ketiga adalah kalangan mahasiswa.
Lomba ini bagai sebuah motto dari Trilogi Pendidikan, yang terdiri dari tiga prinsip utama:
“Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun,Tut Wuri Handayani”.
Yang artinya: di depan memberi teladan; di tengah memberi semangat atau inspirasi; di belakang memberi dorongan.

Ini seperti dalam lomba ini dimana ada golongan dewasa (tua) dan golongan muda (siswa sekolah). Yang generasi dewasa (tua) membersamai dan memberi semangat dan dorongan kepada generasi muda dalam lomba ini. (PAR/nng).
