Budaya, Aksara
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Berbahasa yang baik dan benar tidak hanya dikabarkan melalui Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928. Jauh sebelumnya di abad 18-19, pesan ini sudah ditulis oleh Pujangga keraton Kasunanan Surakarta, khususnya oleh Sri Susuhunan Pakubuwana IV antara tahun 1788 – 1820.

Sri Pakubuwana IV juga terkenal sebagai pujangga, yang karya karya sastranya, masih dikenal hingga sekarang, seperti Serat Wulangreh.
Serat Wulangreh karya Sri Susuhunan Pakubuwana IV ini berisi ajaran moral, budi pekerti, dan tata cara hidup harmonis untuk mencapai kesempurnaan hidup. Salah satu nilai yang tersimpan adalah tata Krama berbicara yang baik dan benar.
Secara umum Serat Wulangreh berisi tentang:
Pendidikan Budi Pekerti:
Memuat nilai-nilai etika, moral, dan karakter yang baik dalam berperilaku sehari-hari, termasuk berbahasa (bertutur wicara) dan bertingkah polah.
Serat ini juga mengajarkan perihal
Hubungan Sosial
Yaitu mengajarkan cara berinteraksi dengan sesama manusia, menghormati orang lain, serta membangun hubungan yang harmonis di tengah masyarakat. Alat interaksi itu adalah bahasa.
Serat ini ditulis dalam bentuk Macapat lengkap yang filosofis mulai dari lahir hingga mati. Diawali dari:
1. Miji
Filosofi: Melambangkan kelahiran atau munculnya manusia ke dunia.
Watak: Kasih sayang, prihatin, dan penuh harapan.
2. Kinanthi
Filosofi: Menggambarkan masa anak-anak yang perlu dituntun (dikinthi) dan dibimbing oleh orang tua.
Watak: Senang, gembira, mesra, dan penuh keteladanan.
3. Sinom
filosofi: Menggambarkan masa muda (anom), waktu di mana manusia mulai tumbuh, belajar, dan mencari jati diri.
Watak: Ramah, lincah, sabar, dan penuh semangat.
4. Asmarandana
Filosofi: Melambangkan masa-masa asmara, jatuh cinta, dan ketertarikan antar manusia.
Watak: Sedih karena cinta, kasmaran, dan pilu.
5. Gambuh
Filosofi: Menggambarkan kecocokan atau ikatan pernikahan ketika dua insan bersatu (jumbuh).
Watak: Akrab, ramah, persaudaraan, dan cocok untuk menyampaikan nasihat hidup.
6. Dhandhanggula
Filosofi: Melambangkan puncak kehidupan manusia yang serba manis, mapan, dan sejahtera (dhandhang = mengharapkan, gula = manis).
Watak: Luwes, indah, manis, dan universal untuk berbagai suasana
7. Durma
Filosofi: Menggambarkan sifat manusia yang bisa terdorong hawa nafsu, amarah, ego, atau persiapan menghadapi tantangan/peperangan.
Watak: Galak, marah, keras, dan penuh tantangan.
8. Pangkur
Filosofi: Melambangkan masa tua ketika manusia mulai menyingkirkan (mungkur) hawa nafsu duniawi dan fokus pada spiritual.
Watak: Tegas, gagah, dan penuh kesungguhan.
9. Megatruh
Filosofi:Menggambarkan momen kematian, di mana roh atau nyawa terpisah (megat) dari tubuh (ruh).
Watak: Sedih, prihatin, penyesalan, dan duka mendalam.
10. Pocong
Filosofi: Menggambarkan jenazah manusia yang sudah dibungkus kain kafan (dipocong), siap kembali ke alam kubur.
Watak: Jenaka, santai, memberi nasihat, atau digunakan untuk teka-teki (cangkriman).
11. Maskumambang
Filosofi: Ada yang menempatkannya di awal sebagai fase janin yang mengapung di rahim (emas kumambang), atau di akhir sebagai simbol arwah yang mengapung menuju keabadian.
Watak: Sedih, merana, dan belas kasihan.

Yang menjadi soal untuk dikutip atau disalin untuk lomba menulis Aksara Jawa ini adalah Pupuh Pangkur bait 2 yang berbunyi:
“Deduga lawan prayoga,
myang watara reringa aywa lali,
iku parabot satuhu,
tan kena tininggala,
tangi lungguh angadeg tuwin lumaku,
angucap meneng anendra,
duga-duga nora kari.”
Penjelasan bait ini terkait dengan Etika Berbahasa (1788) yang relevan dengan Sumpah Pemuda (1928).
Bait itu menegaskan bahwa berbicara (angucap) dan diam (meneng) harus selalu dilandasi oleh pertimbangan akal sehat (deduga lawan prayoga).
* Sebelum berbicara: Seseorang wajib memikirkan apakah kata-kata yang diucapkan akan menyakiti orang lain atau tidak, serta apakah bahasanya sudah sesuai dengan unggah-ungguh (tata krama).
* Kapan harus diam: Serat ini mengajarkan bahwa diam jauh lebih baik daripada memproduksi ucapan yang tidak bermanfaat, sombong, atau memicu pertengkaran
Ternyata kita bisa memahami makna filosofi itu dari teks beraksara Jawa hasil karya tahun 1788. (PAR/nng)
