Budaya Aksara
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Lomba Menulis Aksara Jawa tidak sekedar ajang lomba, tetapi mengenal sejarah Surabaya. Pemenangnya bukan sekedar mendapat trophy dan uang pembinaan, tetapi dapat menimba pengetahuan yang bisa langgeng sepanjang hayat. Yaitu tentang sejarah Surabaya.
“Ini belajar sejarah sambil berlomba”, kata pembina Puri Aksara Rajaptni, A Hermas Thony.
Sasaran mengembalikan (mengenalkan) aksara tradisional Jawa adalah anak anak sekolah mulai SD, SMP dan SMA/SMK yang masih inline dengan kurikulum sekolah.

Jalur, yang pas dalam mengenalkan kembali budaya literasi aksara, Jawa adalah jalur sekolah.
“Untuk jenjang SD dan SMP kan berada di bawah naungan Dinas Pendidikan dan dinas terkait lainnya adalah Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kota Surabaya”, tambah A.H. Thony.
Beberapa waktu yang lalu A. H. Thony juga menemui Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kota Surabaya, Yusuf Masruh , dan sempat membicarakan keberlanjutan program Kemis Mlipis yang menjadi produk Dinas Pendidikan ketika Yusuf Masruh masih menjabat sebagai Kadis Pendidikan.

Program budaya Jawa Kemis Mlipis adalah wadah pembelajaran budaya Jawa, yang tidak hanya dalam berbahasa Jawa tetapi juga bisa menjadi wadah belajar aksara Jawa.
“Keterampilan beraksara Jawa itu memberikan pondasi berbahasa Jawa yang baik dan benar”, imbuh Thony.
Keterampilan beraksara Jawa itu memang memberikan pondasi yang kuat untuk memahami tata bahasa, pelafalan, dan makna kata dalam bahasa Jawa secara benar.
Dengan melihat antusiasme anak anak setingkat SD dan SMP yang mengikuti lomba menulis aksara Jawa semoga secara formal aksara Jawa bisa diajarkan secara formal melalui kurikulum sekolah sebagai kelengkapan belajar bahasa Jawa. (PAR/ nng)
