Ikut Lomba Dan Belajar Sejarah 

Budaya Sejarah

Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Ringkas dan singkat saja bahwa aksara Jawa di Surabaya menguak sejarah kotanya. Bukti bukti sejarah itu bukan hoax, tapi nyata. Bukti bukti itu adalah wujud artefak, yang masih in-situ. Diantaranya adalah inskripsi pada salah satu Gapura Sunan Ampel, prasasti pembangunan Masjid Kemayoran Surabaya dan prasasti pada salah satu kijing di kompleks pemakaman bupati Surabaya di Pesarean Botoputih Pegirian Surabaya.

Masjid Kemayoran model lama. Foto: courtesy of masjidkemayoran

Berdasarkan ketiga artefak yang masih in-situ tersebut, upaya pemajuan budaya literasi tradisional Aksara Jawa punya dasar historis. Prasasti Masjid Kemayoran dengan nyata dikisahkan bahwa penulisan dalam aksara Jawa kala itu (1848) dengan tujuan agar pesan dalam prasasti dapat dibaca oleh masyarakat Surabaya. Ini menunjukkan bahwa kala itu masyarakat Surabaya masih lebih mengerti Aksara Jawa daripada Latin.

 

Fungsi Prasasti sebagai Media Massa: Masjid Kemayoran (Masjid Raudhatul Musyawarah) dibangun atas prakarsa pemerintah kolonial Belanda sebagai pengganti Masjid Agung Surabaya yang dibongkar. Prasasti diletakkan di atas gawangan pintu masuk utama agar masyarakat tahu mengenai latar belakang pembangunan tersebut. Jika tujuannya agar pesan terbaca oleh publik luas, maka aksara yang digunakan haruslah aksara, yang paling dikuasai rakyat saat itu. Yaitu Aksara Jawa.

Prasasti ditempatkan di atas kusen pintu masuk utama (sisi timur).. Foto: psr

Aksara Latin Masih Terbatas: Pada tahun 1848, penggunaan huruf Latin (alfabet) di kalangan pribumi Nusantara masih sangat terbatas. Huruf Latin umumnya hanya digunakan oleh administrasi kolonial Belanda, sekolah-sekolah modern yang jumlahnya masih sangat sedikit, dan kalangan elite tertentu.

Prasasti yang Sekarang ditempatkan di tembok dalam masjid.. Foto: par

Budaya Literasi Jawa yang Kuat: Di wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah, tradisi tulis-baca menggunakan Aksara Jawa (Carakan) dan Aksara Pegon (huruf Arab untuk bahasa Jawa/Madura) sudah mengakar kuat selama berabad-abad melalui pesantren, kraton, maupun sekolah rakyat tradisional.

Ada satu lagi aksara yang lebih tua, yaitu aksara Jawa Kuna atau Kawi, yang sudah dipakai pada prasasti Canggu (1358 M) yang menjadi asal usul nama Surabaya.

Melalui Lomba Menulis Indah Aksara Jawa di Masjid Kemayoran pada Minggu, 6 September 2026, prasasti Masjid Kemayoran menjadi tulisan aksara Jawa yang harus disalin oleh peserta. Dengan demikian seluruh peserta sekaligus belajar sejarah Surabaya bahwa secara historis sistem pemerintahan Surabaya pernah berbentuk Kabupaten, nama Surabaya pernah bernama Śūrapringga dan Surabaya pernah memiliki alun-alun yang sejati (bagian dari lingkungan Kabupaten Surabaya). (PAR/nng).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *