Menyambung Balung Tua: Hubungan Surabaya – Mataram

Budaya sejarah

Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Adalah fakta bahwa sistem pemerintahan Surabaya (dulu) pernah berbentuk Kadipatenan, yang dipimpin oleh Adipati. Fakta itu ditunjang oleh keberadaan makam makam tua di Pesarean Sentana Agung Bataputih, Pegirian, Surabaya; Pesarean Kramadjajan Bibis, Surabaya dan Makam Ngampel Śūrapringga.

Dengan jelas pada nisan nisan tua disana tertulis nama Adipati Surabaya dan Pangeran Surabaya. Juga dikenal nama nama Adipati Jengrana I dan Jengrana II. Ini yang perlu diketahui oleh masyarakat Surabaya sebelum bentuk pemerintahan kota ini bernama Kota Surabaya.

Secara berturut turut bahwa nama bentuk pemerintahan Surabaya berdasarkan fakta empiris dan historis bermula dari Kadipaten, Kabupaten, Kotamadya dan Kota. Ketika mundur ke belakang, tentu sejarah Surabaya ini tidak lepas dari jejak para Adipati dan Bupati.

Nama Adipati terkenal di Surabaya adalah Adipati Jayalengkara, Adipati Jayengrana, Adipati Jengrana I, Jengrana II. ada pula Pangeran Surabaya, Pangeran Pekik hingga bupati Bupati di era Kolonial, yang salah satunya adalah Raden Tumenggung Krama Djajadirana, yang namanya tertulis pada prasasti pembangunan Masjid Kemayoran Surabaya (1848).

Termasuk adanya inskripsi pada salah satu Gapura Sunan Ampel yang tertulis dalam aksara Jawa dengan bunyi “Kertining Pandhita Winayang ing Ratu”, yang menurut Filolog Unair, Abimardha Kurniawan, berarti perilaku pendeta (jalannya pemerintahan) dibayang-bayangi atau dipandu oleh raja.

Frasa itu menunjukkan sengkalan yang rincian per katanya menunjukkan angka tahun.

Kĕrti = 4; Paṇḍita = 7 ; Winayang = 6 ; Ratu = 1

Terbaca angka tahun Jawa, yang dibaca dari belakang menjadi 1674 atau kisaran 1748 M

Tahun ini sezaman dengan akhir masa pemerintahan Pakubuwana II di Surakarta karena secara kewilayahan Surabaya adalah bagian dari Kasunanan Surakarta setelah ada perjanjian Giyanti 1755.

Sementara Surabaya sudah pernah menjadi wilayah kedaulatan Mataram sejak 1625, sebelum pembagian Giyanti 1755. Karena itulah Kebudayaan Mataram mewarnai Surabaya secara politik dan pemerintahan. Bahkan Surabaya pernah punya komplek pusat pemerintahan yang hingga kini masih bisa dilacak jejaknya.

Yaitu di kawasan Indrapura dimana ada masjid Kemayoran, Alun Alun Kabupaten, kediaman Bupati Surabaya, dan Kampung Kauman di belakang (Barat) Masjid. Jejak jejak ini adalah sejarah faktual Surabaya. Bahwa Surabaya masih memiliki makam Adipati dan Bupati Surabaya dan ada bekas jejak pemerintahan Surabaya. Dua situs ini (makam dan komplek pemerintahan) adalah petunjuk.

 

Tradisi Reboan

Mengenang Sistem Pemerintahan beserta tokoh tokohnya berdasarkan data historis tersebut diatas tidak cukup dikenang saja tetapi perlu dimajukan dengan serangkaian aktivitas nyata untuk menyambung tali silaturahmi. Termasuk menyambung kembali tali ikatan keluarga (trah) yang masih ada. Misalnya adanya tradisi reboan di Pesarean Bataputih.

Tradisi “reboan” di Pesarean Bataputih merupakan bentuk nyata pelestarian sejarah dan penyambungan silaturahmi keluarga atau trah leluhur. Aktivitas kultural seperti ini penting untuk merawat identitas, memperkuat kekeluargaan, dan menghidupkan nilai luhur masa lalu.

Reboan di Pesarean Sentana Agung Botoputih Pegirian adalah tradisi untuk mengenal leluhur. Pun demikian dengan pemberian penghargaan untuk leluhur agar riwayatnya terus tersampaikan kepada generasi penerus secara luas.

 

Leluhur Bataputih

 

Silsilah Sentono Agung Botoputih Pegirian Surabaya. Foto: nng

Leluhur di kompleks makam Boto Putih (Botoputih) Surabaya, khususnya tokoh utamanya yaitu Pangeran Lanang Dangiran atau Sunan Botoputih, memang tidak memiliki hubungan darah langsung dengan leluhur dari raja-raja Mataram.

Pangeran Lanang Dangiran atau Kiai Ageng Brondong merupakan keturunan bangsawan dari Kerajaan Blambangan dan jika dirunut dalam babad, memiliki akar silsilah yang tersambung ke trah Prabu Brawijaya V (Majapahit).

Namun keduanya saling memiliki hubungan, walaupun tidak memiliki hubungan leluhur ke atas. Ke Bawah, keturunan dari tokoh-tokoh Boto Putih di kemudian hari berinteraksi dan mengabdi di dalam sistem politik Mataram. Sebagai contoh, cucu atau keturunan dari garis kekeluargaan ini ada yang diangkat menjadi bupati atau tumenggung di wilayah Surabaya dan pasca-penaklukan Surabaya pada 1625 oleh Sultan Agung, terjadi hubungan administratif dengan pihak Mataram.

 

Hubungan Kekeluargaan Surabaya dan Mataram

Pangeran Pekik (1614 – 1672) merupakan keturunan langsung Sunan Ampel. Demikian juga Kanjeng Ratu Mas Panggung, yang kemudian menjadi permaisuri Raden Patah, raja Demak Bintara. Dari Ratu Mas Panggung ini lantas menurunkan raja raja Pajang dan Mataram

Pernikahan Pangeran Pekik dan Ratu Pandansari, adik Sultan Agung (1613 – 1645), adalah untuk memperkokoh kekerabatan antara Surabaya dan Mataram.

Pernikahan ini adalah atas kesepakatan para sesepuh kerajaan Mataram dan Kadipaten Surabaya yang bertujuan demi ngumpulke balung pisah.

Pernikahan Pangeran Pekik dengan Ratu Pandansari lantas melahirkan Kanjeng Ratu Hemas Wetan. Ia lantas menikah dengan Sinuwun Amangkurat Agung raja Mataram (1645 – 1677). Lalu lahirlah Raden Mas Rahmat Kuning, yang kelak menjadi raja Mataram tahun 1677-1703.

Jadi singkatnya terjalinlah hubungan kekeluargaan antara Surabaya dan Mataram. melalui pernikahan Pangeran Pekik dan Ratu Pandansari (adik Sultan Agung).

Mereka menikah antara tahun 1630 hingga 1633 setelah Surabaya ditaklukkan Sultan Agung pada 1625. Ini merupakan pernikahan politik sebagai upaya mempererat hubungan kekeluargaan dan meredam ketegangan politik di Jawa.

 

Suksesi Surabaya

Selanjutnya Pangeran Pekik (1614 – 1672) sebagai Adipati Surabaya digantikan oleh Jangrana I atau Adipati Jangrana Anggawangsa (keturunan dari Kyai Lanang Dangiran). Ia akhirnya menjadi penguasa Surabaya, yang berkuasa mulai tahun 1672 – 1706.

Selanjutnya Jangrana I digantikan oleh Jangrana II (Kyai Adipati Jayengrana II), putra sulung Adipati Jangrana Hanggawangsa /Jangrana I (1706 1709).

Dari turunan Jangrana I dan Jangrana II inilah hadir petinggi petinggi Surabaya, yang dimakamkan di Pesarean Sentono Agung Botoputih Pegirian Surabaya. (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *