Budaya
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Di masyarakat Jawa dikenal dengan adanya tata krama luhur luar biasa. Selain itu Jawa juga dikenal bersifat absolut (kasunyatan), yang artinya adalah pusat olah batin dan filosofi hidup, yang mencari kebenaran sejati.
Tak heran, dalam perilaku sehari hari, yang benar benar orang Jawa secara natural dan kultural kerap memunculkan ungkapan “sing nyata nyata wae” (yang nyata nyata saja). Ungkapan ini sebenarnya bersikap realistis, jujur, dan tidak berkhayal (halusinasi).
Dalam kehidupan sehari-hari, prinsip ini menuntun seseorang untuk berpikir logis, bertindak sesuai fakta, dan menghindari kepalsuan atau ekspektasi yang muluk-muluk.
Karenanya, juga kerap muncul reaksi verbal yang mengatakan “palsu” atas sesuatu yang tidak realistis.
Realistis dan Logis
Realistis sederajat dengan sifat logis. Sifat realistis dan sifat logis saling berdampingan karena keduanya berakar pada kenyataan dan akal sehat. Orang yang realistis adalah orang yang melihat fakta yang ada di dunia nyata, sedangkan orang yang logis memakai cara berpikir yang lurus dan masuk akal untuk mengolah fakta tersebut.
Keduanya sama-sama tidak mudah percaya pada angan-angan kosong dan realistis adalah sifat pemikiran Jawa yang sudah ada sejak lama. Cara pandang ini terlihat dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari falsafah hidup hingga cara mereka menghadapi masalah sehari-hari.
Watak orang Jawa tidak neka neka (macam macam). Artinya ia punya sifat sifat “ora nerjang pakem” atau tidak neka-neka (macam-macam) alias hidup jujur, sederhana, apa adanya, dan tidak berbuat aneh-aneh atau melanggar aturan yang ada.
Ia tidak suka “drama drama”. Ungkapan ini menunjukkan bahwa orang tersebut tidak menyukai situasi yang rumit, penuh kepalsuan, atau sengaja dibuat-buat untuk mencari perhatian.
Itulah sifat orang Jawa sejati. Orang Jawa sejati itu lekat dengan falsafah hidup yang menjunjung tinggi kerukunan, keselarasan, dan pengendalian diri. Karakter utama ini berakar dari nilai moral dan sifat & kebiasaan orang Jawa yang diwariskan turun-temurun.
Jika turun temurun, maka pertanyaannya adalah: dari mana asal mulanya (induknya)?. Kita mungkin mengenal Kapitayan. Kapitayan adalah sistem keyakinan kuno asli masyarakat Jawa, yang bersifat monoteistik dan berkembang jauh sebelum masuknya agama-agama besar seperti Hindu, Budha, dan Islam ke Nusantara. Kepercayaan ini berpusat pada pemujaan terhadap kekuatan tertinggi yang abstrak.
Konsep Ketuhanan

• Sang Hyang Taya (ꦱꦁꦲꦾꦁꦠꦪ) : Tuhan disembah sebagai Taya, yang bermakna hampa, kosong, suwung, atau tidak berwujud.
• Tan Kena Kinaya Ngapa: (ꦠꦤ꧀ꦏꦼꦤꦏꦶꦤꦪꦔꦥ):Sifat Tuhan yang mutlak, tidak dapat dilihat, tidak dapat dibayangkan, dan melampaui panca indera manusia.
• Kekuatan Tu (ꦏꦼꦏꦸꦮꦠꦤ꧀ꦠꦸ) Keyakinan adanya daya atau kekuatan gaib bersifat ilahiah yang terpancar dari Sang Hyang Taya pada benda atau tempat tertentu.
Dalam fisika, daya adalah laju atau kecepatan saat usaha dilakukan atau energi dipindahkan dalam satuan waktu.
Daya adalah energi (bukan ghaib). Misalnya seseorang dapat menyentuh sesuatu tanpa ada sentuhan fisik. Menurut pengamat kebudayaan A. Hermas Thony:
“itu bagaikan energi pemadatan udara, yang bentuknya tidak kasatmata”.
“Tidak Kasatmata” adalah (menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), yang berarti “tidak dapat dilihat, nyata, atau konkret.
Contoh lainnya adalah adanya ungkapan “Sugih tanpa Bandha, Digdaya tanpa Aji, Nglurug tanpa Bala, Menang tanpa Ngasorake”.
Secara harfiah artinya adalah “Kaya tanpa Harta, memiliki Kesaktian tanpa Ilmu/benda pusaka, Menyerang tanpa bala Pasukan, Menang tanpa Merendahkan.
Kok bisa? Itulah Jawa.
Dalam tradisi Jawa sehari hari, mungkin ada yang pernah dengar ungkapan pendek dan singkat “gak ilok”, yang digunakan untuk mengingatkan seseorang yang melakukan sesuatu tidak pada tempatnya. Misalnya ada anak anak yang duduk di tengah lorong pintu.
Orang tua memakai frasa ini agar anak-anak segera mengerti tanpa harus mendebat alasan logisnya secara panjang lebar, yang maksudnya secara logis bertujuan menjaga sopan santun, keselamatan fisik, dan kelancaran lalu lintas orang di dalam rumah.
Frasa itu “gaK ilok” mengandung makna yang sebenarnya logis, realistis dan Kausalitas (hukum sebab -akibat,)
Hal hal semacam ini faktanya sudah ada sejak dulu dalam masyarakat Jawa, termasuk dalam faktualitas Kapitayan, yang sekarang adalah realitas, kenyataan dan bahkan Kausalitas.
Sifat Jawa ini adalah mental dasar manusia yang sifatnya universal yang tidak tertutup bagi lingkungan masyarakat Jawa saja (eksklusif) tetapi juga bagi lingkungan lain lintas wilayah dan negara.
Ringkasnya sifat Jawa ini dapat dipahami bukan sebagai bentuk eksklusivitas suku, melainkan sebagai manifestasi nilai-nilai budi pekerti, keselarasan, dan kearifan lokal yang bersifat universal serta relevan bagi masyarakat lintas budaya dan bangsa.
Apakah sifat Jawa ini bisa digunakan sebagai landasan pembangunan?
Perlu diketahui bersama bahwa sifat ini atau nilai-nilai filosofis budaya Jawa secara etis dapat menjadi landasan pembangunan moral dan sosial, namun tidak tepat jika dijadikan kebijakan politik-sentralistis atau penyeragaman nasional di Indonesia yang majemuk.
Nilai positifnya dapat mendukung pembangunan jika disarikan secara universal, tetapi bahaya adalah menjadi diskriminasi kultural yang harus harus dihindari. (PAR)
