Aksara Adalah Kunci

Budaya Aksara

Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Aksara Jawa adalah jati diri bangsa dan cermin peradaban leluhur Nusantara. Setiap goresan dan susunan hurufnya (aksaranya) bukan sekadar alat komunikasi, melainkan menyimpan nilai filosofi hidup, ajaran moral, serta hubungan manusia dengan Sang Pencipta.

Aksara juga sebagai simbol hidup manusia dan jati diri bangsa Jawa karena setiap huruf (aksara) nya menyimpan arti tentang asal-usul, perjalanan hidup, dan hubungan manusia dengan Tuhan.

Maka, tempatkan aksara sebagai perisai diri. Aksara adalah baju zirah dan benteng bagi pikiran. Setiap kata, yang tersusun rapi, menjadi perisai dari kebodohan, keraguan, dan ketidaktahuan.

Untaian aksara (Jawa), yang terbingkai dalam kemasan emas manuskrip di mancanegara, adalah cahaya yang telah dijadikan daya tarik pihak lain untuk kemanfaatannya. Padahal itu bukan milik mereka secara kultur dan intelektual. Mereka tidak memiliki hak kultural atau intelektual yang sah.

Pengetahuan tradisional, ekspresi budaya, dan sumber daya genetik diakui sebagai milik bersama suatu komunitas secara turun-temurun. Manuskrip adalah karya intelektual.

Di dalam manuskrip dapat memuat dan menjadi bagian dari pengetahuan tradisional, tetapi keduanya (pengetahuan tradisional dan manuskrip) tidak sama persis.

Manuskrip adalah dokumen atau karya tulis tangan masa lampau. Sementara itu, pengetahuan tradisional adalah isi atau muatan ilmu, yang hidup dan berkembang dalam suatu masyarakat, yang bisa saja terdokumentasikan dalam manuskrip.

Negara melindungi hasil cipta dan identitas budaya melalui undang-undang yang berlaku agar tidak disalahgunakan pihak lain.

Sementara, membawa manuskrip kuno ke luar negeri pada masa lalu, termasuk dalam hal yang dilindungi dan diatur secara ketat oleh negara, dianggap sebagai ketidakadilan historis (historical injustice), namun penyelesaiannya tidak dapat melalui pengadilan pidana, melainkan lewat jalur diplomasi budaya dan proses repatriasi (pemulangan).

 

Diplomasi budaya

Aksara adalah kunci. Foto: ist

Dalam berdiplomasi budaya, siapapun haruslah mengenal budaya itu. Jangan sampai dibalik untuk digunakan sebagai senjata balik oleh mereka dengan hanya mengatakan:

Bisakah Anda membaca?”.

(Could you read?)

Karenanya kelompok penuntut harus didampingi oleh (memiliki) orang yang paham aksara (bisa membaca dan menulis) agar tidak menjadi serangan balik dengan mengatakan:

lha wong gak bisa membaca, bagaimana bisa merawat dan memajukan Manuskrip?!”

(After all, if one cannot even read, how can one possibly preserve and advance the manuscripts?!)

Jelasnya, adalah pihak yang mampu membaca Manuskrip. Namun demikian bahwa secara massal pembelajaran aksara harus juga sudah diterapkan melalui jalur jalur yang semestinya .

Karenanya setidaknya sekarang di tim Manuskrip Nusantara Group, sudah ada pihak pihak, yang mumpuni dalam hal aksara daerah (Jawa dan lain lain), yang sumbut untuk bersama menarik kembali identitas bangsa di tanah seberang.(PAR/nng)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *