Aksara Adalah Urat Nadi Kehidupan: (biologis) Manusia dan (Ideologis) Berbangsa.

Budaya, Aksara

Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Aksara adalah urat nadi “ kehidupan” yang secara biologis ibarat manusia dan ideologis adalah berbangsa. Aksara adalah Manusia dan Bangsa

Manusia adalah makhluk sosial, yang berakal dan berbudaya, sedangkan bangsa adalah kelompok manusia dengan identitas, sejarah, aksara, bahasa, dan tujuan yang sama.

Manusia membentuk bangsa melalui ikatan sosial, sementara bangsa memberi identitas serta wadah bagi manusia untuk hidup dan berkembang bersama.

Bangsa Indonesia sekarang berada dalam bingkai NKRI, dan ketika bicara soal identitas bangsa (aksara), maka aksara bukan semata milik kelompok tertentu/suku, tapi milik bangsa Indonesia karena konteksnya adalah aksara Nusantara. Yaitu aksara yang berada di bumi Nusantara. Diantaranya adalah aksara Jawa, Sunda, Bali, Batak dan lainnya.

Aksara, manusia dan bangsa. Foto: par

Aksara Jawa misalnya adalah wujud nyata kecerdasan bangsa nusantara seperti halnya bangsa China, Jepang dan India serta Korea.

Bangsa Bangsa itu telah memiliki identitas nya yang salah satunya diwakili dengan Aksara. Hanzi – China, Kanji – Jepang, Hangeul – Korea dan Hindi – India. Indonesia ?

Dulu, Indonesia lebih dikenal melalui Aksara Jawa, meski ada Bali, Batak dan Sunda. Ini terbukti dari publikasi publikasi yang pernah terbit baik berupa buku, koran dan bentuk publikasi lainnya.

Bangsa Eropa pun mengenalnya. Dokumen dokumen penting Nusantara ditulis menggunakan aksara Jawa seperti manuskrip dan perjanjian perjanjian. Salah satunya Perjanjian Giyanti. Karenanya mereka pun belajar aksara (membaca dan menulis).

Manuskrip penting dari Jawa yang masih disimpan di the British Library London adalah bukti pentingnya artefak itu baik secara fisik maupun isi, termasuk sejarahnya.

Manuskrip manuskrip penting itu adalah salah satu jenis harta yang dijarah oleh tentara Inggris di bawah Thomas Stamford Raffles pada 1812.

Memahami Aksara Jawa adalah kunci membuka tabir peradaban penting yang tertulis pada manuskrip Manuskrip itu.

Jika kita bergeming menarik kembali harta (artefak), yang berada di Inggris misalnya, akan sangat relevan bila kita mengerti Aksara Jawa. Kemampuan membaca aksara (kuno) memperkuat legitimasi ilmiah dalam proses diplomasi budaya dan repatriasi.

Secara internal ini juga mendorong kelompok itu sendiri agar tidak merasa asing dengan aksaranya sendiri. Jangan sampai aksara itu menjadi lebih asing daripada aksara asing. Ironis.

Setidaknya ada upaya bersama dalam melestarikan aksara. Upaya bersama melestarikan aksara Nusantara ini mencakup integrasi ke dalam kurikulum sekolah, digitalisasi font dan keyboard agar masuk standar Unicode, penyelenggaraan festival budaya, serta dukungan regulasi pemerintah. Kerja sama ini melibatkan lembaga bahasa, komunitas, dan generasi muda.

Aksara Jawa bukan sekadar alat tulis. Ia adalah simbol hidup manusia dan jati diri bangsa yang sarat nilai. Setiap susunan hurufnya menyimpan ajaran tentang asal-usul, hubungan antar sesama, dan ikatan dengan Sang Pencipta. (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *