Kombinasi Makna Hari Proklamasi dan Hari Pahlawan

Sejarah

Rajapatni.com : ŚŪRABHAYA – Bangsa Indonesia diajak kembali memaknai hari kemerdekaan dan kepahlawanan melalui peringatan HUT RI yang jatuh pada 17 Agustus dan Hari Pahlawan yang jatuh pada 10 November.

Makna Hari Kemerdekaan adalah wujud kebebasan bangsa dari penjajahan dan kedaulatan penuh, sedangkan makna kepahlawanan adalah teladan semangat juang, pengorbanan tanpa pamrih, serta ketulusan berbakti demi persatuan dan kemajuan tanah air.

Dari kedua peringatan itu tersimpan nilai kejuangan untuk bebas dari penjajahan. Ini kombinasi selaras yang dapat menjadi panutan bagi generasi penerus dalam mengisi kemerdekaan (kebebasan)

Nilai nilai luhur kejuangan bangsa. Foto: ist

Dari kombinasi keduanya maka dapat dimengerti bahwa Kemerdekaan tidak dapat diraih dengan mudah, tanpa diisi dengan kerja keras dan tanggung jawab (berjuang).

Berjuang demi kebebasan (kedaulatan). Berjuang demi kebebasan dan kedaulatan berarti merebut serta mempertahankan hak suatu bangsa atau rakyat untuk merdeka, menentukan nasib sendiri, dan berdaulat penuh atas wilayah serta sistem negaranya tanpa ada campur tangan atau tekanan penjajah maupun pihak asing.

Hamengkubuwono II adalah salah satu contoh dari sosok pejuang Nusantara (Indonesia). Perjuangan setiap orang pada masa yang berbeda beda memang bisa juga berbeda dalam caranya dan bentuk kegigihan. Apapun caranya tujuannya adalah sama: menjaga kedaulatan.

Hamengkubuwana II (HB II) memimpin Kesultanan Yogyakarta dalam tiga periode (1792–1810, 1811–1812, dan 1826–1828) dengan cara memperkuat militer, menolak tunduk pada VOC, Daendels, hingga Inggris demi menjaga kedaulatan dan marwah keraton (bangsa).

Beliau adalah contoh pemimpin bangsa. Penolakan terhadap VOC dan Kolonial dan menolak tunduk pada aturan serta tuntutan politik dari Belanda dan Inggris, adalah sikap patriot.

Secara nyata HB II turut aktif menjaga marwah dalam mempertahankan tradisi dan kedaulatan budaya secara internal dari eksternal: intervensi asing yang terus mencoba melemahkan kekuasaan politik dan tradisi Jawa (Keraton).

 

Sekarang perjuangan generasi muda berbeda cara dengan HB II.

Jika Sultan HB II menghadapi kekuasaan kolonial secara langsung demi mempertahankan martabat dan marwah bangsa, generasi muda kini harus berjuang melawan tantangan zaman yang kompleks di era modern.

Generasi Muda saat Ini bisa berfokus pada pengembangan pendidikan, teknologi, kreativitas, dan kewirausahaan. Ketahanan dan kekuatan generasi muda adalah menghadapi tantangan arus informasi cepat yang membawa pengaruh positif maupun negatif.

Ini adalah musuh yang tidak kelihatan tapi mampu menyerang syaraf dan ideologi. Arus ini bekerja seperti musuh tak kasat mata yang dapat merusak pola pikir, mental, dan ideologi bangsa jika tidak dihadapi dengan filter yang kuat.

Salah satu filter kuatnya adalah nilai nilai kejuangan para tokoh di masa lalu. Ini berarti sebuah pesan yang mencerminkan penggunaan keteladanan, semangat, serta moral perjuangan para pahlawan dan tokoh sejarah sebagai saringan (filter) mental dan karakter bangsa di masa kini guna menghadapi berbagai tantangan zaman. (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *