Budaya
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Surabaya dikenal sebagai kota besar, yang menyimpan kekhususan sejak era Majapahit hingga era kemerdekaan.
Lini Mada

Surabaya dikenal berperan sebagai gerbang maritim utama Kerajaan Majapahit di pesisir utara Pulau Jawa. Wilayah muara Kali Surabaya menjadi titik penghubung vital yang menyatukan arus pelayaran dari laut lepas dengan jalur transportasi sungai menuju pusat pedalaman kerajaan.
Pada era kolonial, Surabaya berkembang sebagai pelabuhan utama di pesisir utara Jawa sisi timur yang berfungsi sebagai pusat pengumpulan (collecting center) hasil perkebunan dari pedalaman Jawa Timur untuk diekspor ke Eropa, serta tumbuh menjadi kota modern terbesar kedua di Hindia Belanda.
Surabaya juga dikenal sebagai Kota Pahlawan karena pertempuran 10 November 1945, pertempuran terbesar pasca-proklamasi kemerdekaan Indonesia saat rakyat dan pemuda melawan tentara Sekutu.
Dalam lintas masa itu, kecerdasan leluhurnya ikut mewarnai. Kecerdasan itu adalah literasi yang sudah menjadi bagian dari tradisi tulis. Yang jelas terabadikan adalah bukti titah raja dan bangsawan masa lalu Sementara sekarang masyarakatnya tidak bisa meninggalkan jejak dan bekasnya kecuali hanya bisa mengerti titah dan isi bukti bukti yang ada.
Aksara
Penulisan prasasti yang beraksara tradisional sebagai bukti agar masyarakat lokal bisa mengerti. Sebagai contoh adalah prasasti Masjid Kemayoran Surabaya dan inskripsi Gapura Ampel Denta serta Inskripsi batu kubur di Sentono Agung Botoputih.
Semua bukti itu ringkasnya berfungsi sebagai media komunikasi visual dan penanda sejarah yang dapat dipahami langsung oleh masyarakat lokal pada masa lalu.
Pada masa sekarang, masyarakat modern di Surabaya tidak lagi bisa membaca isi bukti prasasti dan inskripsi itu.
Faktor Penyebab Ketidakmampuan Membaca itu adalah:
• Perubahan Aksara: Sistem tulisan tradisional telah bergeser ke aksara Latin..
• Faktor Bahasa: Teks ditulis menggunakan bahasa Jawa Tengahan. .
• Kondisi Fisik Artefak: Sebagian prasasti mengalami keausan, pelapukan permukaan batu, atau kerusakan fisik akibat usia dan lingkungan
Pengaruh Politik dan Pemerintah Mataram Pada 1625
Sejak Mataram menaklukkan Surabaya pada 1625, pengaruh budaya komunikasi (Lisan dan tulis) mewarnai Surabaya. Yaitu penggunaan Aksara Jawa Baru (Carakan) dan Bahasa Jawa.
Dominasi politik Mataram itu memang memasukkan unsur budaya Jawa Mataraman secara lisan dan tulisan, termasuk penggunaan bahasa Jawa serta penyebaran tradisi tulis Aksara Jawa di wilayah pesisiran ini, meski saat itu sudah ada budaya tulis Pegon yang diperkenalkan Sunan Ampel.beberapa abad sebelumnya.
Apapun perkembangan bentuk komunikasi itu sudah menjadi bagian dari Budaya Surabaya. Namun memasuki masa pergerakan di awal abad 20, ada pergeseran alat komunikasi menjadi bersifat Egaliter karena kebutuhan perjuangan.
Bahasa Egaliter
Bahasa Jawa Egaliter ini diperkenalkan Tjokrosoedarmo dan HOS Tjokroaminoto untuk memudahkan komunikasi demi perjuangan pada saat itu.
Tjokrosoedarmo menghendaki adanya kesetaraan antara kaum Bumiputera, dalam hal ini untuk kalangan suku Jawa, dengan penggunaan Bahasa Jawa Ngoko kepada semua kalangan, baik priyayi maupun kalangan bawah.
Gagasan penggunaan bahasa Jawa yang lebih sederhana dan egaliter ini memang berkaitan dengan gerakan pembaharuan bahasa atau organisasi seperti Djawa Dipa yang didukung oleh tokoh-tokoh pergerakan nasional seperti HOS Tjokroaminoto untuk melawan feodalisme dan meruntuhkan batasan strata sosial.
Djawa Dipa
Nama “Djawa Dipa” terinspirasi dari kisah pewayangan, di mana salah satu tokoh wayang Gunawan Wibisana memiliki ajian bernama “Dipa”, yang berarti “menerangi”, sehingga “Djawa Dipa” bermakna ”menerangi Djawa”.
Lebih Lanjut sifat Egaliter ini adalah:
• Menghapus Feodalisme: Bahasa Jawa Tradisional memiliki tingkatan rumit (Ngoko, Madya, Krama) yang membatasi kesetaraan sosial antara kaum priyayi dan rakyat jelata.
• Membangun Kesadaran: Pergerakan ini bertujuan menumbuhkan rasa persaudaraan dan kesetaraan tanpa sekat hierarki kaku dalam berkomunikasi.
• Pengaruh Budaya Lokal: Semangat egaliter ini sejalan dengan karakter budaya lokal seperti budaya Arek Suroboyo yang apa adanya dan tidak kaku.
Sastra
Dari Kombinasi Aksara dan Bahasa dengan sifat Egaliter itu lahirlah karya sastra dengan variasi dialog Arekan (Bahasa Jawa Subdialek Surabaya).
Sifat kesetaraan itu pada akhirnya melekat pada sebutan “arek”, melahirkan karya sastra dengan variasi dialog subdialek Surabaya yang dinamis, egaliter, dan mencerminkan identitas kultural masyarakat pesisir serta perkotaan.
Dialog dialog Arekan itu termuat dalam karya sastra yang ditulis diantaranya oleh sastrawan Suparto Brata dan Dukut Imam Widodo.
Suparto Brata dikenal sebagai sastrawan besar Jawa Timur yang sering menggunakan latar dan bahasa/dialog khas Surabaya (Arekan) dalam novel-novel larisnya.
Sementara Dukut Imam Widodo terkenal lewat karya dokumentasi sejarah visual Surabaya seperti Soerabaia Tempo Doeloe.
Ringkasan
(PAR/nng)
